Do We REALLY Need a Partner?

Beberapa waktu yang lalu, saya terbangun pukul empat pagi. Well, every very best friend of mine knows that i am not really a kind of morning person. Jadi, saya terbangun jelas bukan karena perintah habit, melainkan lantaran aspek biologis. Perut melilit mendadak. Ha ha ha, alasan yang dangkal (dan menyebalkan!) sekali untuk bangun pagi.

Anyhow, saya pun terpaksa menuruti kemauan perut dengan terkantuk-kantuk. Sialnya, tuntas menunaikan ritual biologis ternyata tidak lantas bikin rasa melilit itu hilang. Wah, saya mulai panik! Jam 9 bakal ada ujian lisan hidup-mati dan nggak lucu kalau saya harus bawa perut model begitu ke kampus. Sempat terpikir untuk merayu dosen penguji biar bisa ujian susulan. Tapi, akal sehat segera menampar saya, mengingatkan saya bahwa SEMUA dosen saya tidak ada yang bisa disogok dengan apapun! Baik materi maupun senyuman (meskipun sebetulnya agak bersyukur karena saya hanya punya yang kedua. He he he).

Terpukul oleh kesadaran itu, saya pun memutuskan untuk memilih opsi paling masuk akal: self-medication. He he he. Saya mati-matian mengingat obat apa yang pernah saya minum untuk mengusir keluhan serupa. And I ended up with… nothing. Gila, perut mules ternyata betul-betul bikin orang nggak bisa berpikir maksimal, really. Jadi, kalau mau minta uang jajan tambahan atau ijin pulang malam, pastikan decision maker di rumah (either dad or mom), sedang dalam kondisi semacam itu. He he he.

Setengah frustasi, saya dengan terpaksa menelepon ibu yang tengah vakansi di luar kota. Saya tipikal orang yang agak-agak malas merepotkan orang lain. Tapi, perut betul-betul nggak mau kompromi. Karena current position saya adalah single fighter penjaga rumah, rasanya habis akal mau minta tolong ke mana lagi.

Pada nada panggil kesekian, telepon saya diangkat. Terdengar suara bangun tidur ibu. Saya bercerita, ibu berjanji menelepon kakak untuk menanyakan obat (yep, my sister is a doctor), dan seterusnya. Beberapa menit kemudian, sambil meringis di atas kasur, nama kakak saya muncul di layar ponsel. Pesan singkat, berisi nama obat: spasminal dan buscopan. What the heck is that? Ya sudahlah. Kapan-kapan saja saya kirim usulan ke perusahaan farmasi untuk memilih nama obat yang lebih sederhana.

Jadi, meneleponlah saya ke K24 untuk pesan obat sekalian minta diantarkan. Saat itu, jarum jam di kamar saya merapat di angka 5. Waktu yang cukup etislah ya bagi apoteker K24 untuk mulai bekerja. He he he. Agak merasa bersalah, saya meminta tolong mas-mas K24 di line seberang untuk mengantarkan obat. Sialnya, mas-mas itu menolak mengantarkan obat karena apotek nggak ada yang menjaga. “Jadi, jam berapa ya mas obatnya bisa diantar? Rumah saya deket kok mas.. ” saya berkata dengan nada paling memelas. Berharap iman mas-mas apoteker ini nggak setebal dosen-dosen saya. Ternyata, sang mas apoteker tetap teguh dan bilang kalau obat baru bisa diantar jam setengah delapan. Mampus! Transkrip kartu hasil studi saya keburu keluar! Niat saya buat mengusulkan jasa delivery order sebagai one of the most briliant invention of the decade secara resmi dibatalkan.

Saya berpikir keras, sesuatu yang sudah lama tidak saya lakukan. Ha ha ha. Mau beli sendiri ke apotek, rasanya nggak mungkin karena badan dibuat jalan sedikit aja nggak sanggup. Mau bikin teh hangat yang sangat tempting, air mineral di rumah lagi habis. Belum sempat me-replace galon di atas dispenser dengan yang baru. Setelah dengan berat hati memutuskan untuk memaksa tidur saja, terdengar bunyi ketukan di pagar rumah. Terseok-seok bangkit sambil merutuki siapapun yang bertamu di jam-jam kecil begitu, saya mengintip.

Oh. Di balik pagar, ada om saya yang rumahnya hanya berjarak tiga gang dari rumah. Membawakan sarapan dan segelas teh hangat. Dan obat-obat yang tidak ramah di ingatan itu: spasminal dan buscopan.

Ibu yang rupanya menelepon dan meminta tolong pada beliau.

Jadi, dengan stupid babydoll dan bedroom slipper, saya dengan malu membukakan pintu. No teeth-brushing. No facial washing. What a adorable looking. He he he. Saya bukan golongan Ms. I-am-not-wearing-babydoll-unless-it’s-Agent-Provocateur-or-at-least-Lasenza. Jadi, rasa malu terbesar sebetulnya bukan dikarenakan tampilan saya yang oh-look-like-a-shit itu. Tapi karena sudah sebesar ini saya masih saja merepotkan orang lain untuk mengurus diri sendiri. Rasa malu saya kian besar lantaran beberapa menit setelah om pulang, tante dan sepupu saya secara bertubi-tubi mengirim sms, menanyakan kabar saya. And my mom constantly phoned me almost every 5-10 minutes as well.

Sigh.

Terbiasa hidup mandiri ternyata tidak secara otomatis bikin saya jadi mahir mengurus diri sendiri.

Sambil berbaring di tempat tidur, saya jadi memikirkan sesuatu yang agak konyol. Tapi agak-agak penting. Oh, mungkin itu ya gunanya partner, pasangan hidup? To cure you when you are sick. To take care of you whenever you need it. To buy you medicine when you need it. To remind you to eat regularly so that you won’t be sick. To serve you the breakfast and a glass of tea.

Saya berpikir lagi.

Really? Do we REALLY need a partner simply because all of those reasons i mentioned above?

Hey. You can call your doctor to cure you when you are sick. You can ask your driver to buy you anything. You can hire a maid to serve you a breakfast, brunch, lunch, afternoon tea, and dinner as well. You can hire a private assistant to remind you about everything: from eating schedule to a huge tender with big potential client. And to be taken care of? Well, I am pretty sure we are all agree that we can simply call our family or friends for it whenever we need it. Or even without we ask them to.

So, why do we have to have a partner? Do we REALLY need a partner?

Due to the probability that people we expect to take care of us will someday leave us, hell, YA. Mereka semua tidak bisa selamanya ada di sisi kita. Repot dengan urusan masing-masing; ibu dan bapak akan sibuk mengurus cucu, kakak atau adik akan sibuk dengan anak-anaknya, teman-teman akan menikah dan sibuk merawat keluarga masing-masing. And your maid, your doctor, your private assistant? Oh, it is even easier. If you have no money, they may simply walk away.

And why do we REALLY need a partner? It is absolutely not because we want to kiss and to be kissed since, really, do you have to have a partner to kiss and to be kissed? And it is also not because we want to have baby, since when you think so, you are humiliating medical technology. It is probably because we need someone who can be all of those people I mentioned above… without being paid. Well, it still needs a payment, actually. But in another ‘format’: hugs, kisses, or… it could be anything else :p