Cantik?

Rasanya, ada semacam kesepakatan tidak tertulis yang menyatakan bahwa kesehatan berbanding lurus dengan tubuh kurus. Tahu-tahu, kartu anggota sebuah pusat kebugaran sudah terselip saja di dompet kita, tanpa sempat bertanya: Benarkah perempuan harus kurus untuk bisa disebut sehat?

Menurut Sarah Grogan, seorang penulis buku tentang body image, tubuh yang kurus atau langsing tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan. Kelebihan berat badan pun sebetulnya tidak secara langsung berhubungan dengan peningkatan resiko terhadap kesehatan. Bahkan, sekitar 75% dari seluruh penelitian tentang berat badan dan kematian yang dipublikasikan sejak tahun 1950an menunjukkan bahwa berat badan tidak berkaitan dengan kesehatan dan kematian, kecuali berat badan yang ekstrem.

Seorang penulis jurnal tentang kesehatan dan kebudayaan bernama Jonathan Isaac Robison menyatakan, paradigma ilmiah dan budayalah yang telah membatasi pemahamana manusia atas area kesehatan yang kompleks. Menurut Brown, sebagaimana yang dikutip oleh Robison di dalam jurnalnya, obsesi untuk memiliki tubuh langsing merupakan obsesi Amerika. Obsesi ini sebetulnya dianggapnya sebagai “penyimpangan budaya”. Sebab, sepanjang sejarah, kebanyakan budaya justru menganggap tubuh gemuk sebagai simbol kesuksesan, kesehatan, dan kecantikan. Hal ini sempat diamini oleh salah satu majalah Amerika. Di tahun 1908, Harpers Bazaar menyajikan artikel yang mengungkapkan bahwa lemak adalah sumber kekuatan. Ini menjadi indikasi bahwa media di Amerika pada masa itu pun mengkonstruksi tubuh gemuk sebagai suatu hal yang “baik” dan “benar”.

Lima puluh tahun setelahnya, barulah terjadi pergeseran pandangan atas tubuh gemuk. Diperkirakan, ada sekitar 40% perempuan dewasa dan 25% laki-laki dewasa di Amerika yang tercatat berupaya untuk mengurangi berat badannya. Penelitian juga menunjukkan, 50% remaja dan perempuan muda berusaha untuk menurunkan berat badan meskipun sebagian besar dari mereka sudah memiliki berat badan yang normal.

Sejak periode itu, preferensi atas tubuh langsing tersebar pula ke negara-negara Western dan industrialis lainnya. Pada era Victorian, misalnya, perempuan memakai korset untuk mendapatkan bentuk tubuh jam pasir yang pada masa itu dianggap “cantik” bagi kelas-kelas tertentu. Cara berpakaian yang demikian ini bahkan didukung oleh premis medis meskipun tindakan itu sebetulnya berpotensi menyebabkan penyempitan paru-paru, penekanan pada liver dan kandung kemih, serta terlepasnya perut. Hingga kini, lemak “membandel” pun dianggap sebagai komponen tubuh yang harus “diperangi” dan dihilangkan.

Tapi, benarkah lemak memang sebandel itu hingga harus dikikis habis dari tubuh?

Robison menyatakan, beberapa studi medis mengemukakan bahwa tubuh gemuk sebenarnya terbukti bermanfaat untuk mencegah osteoporosis, sumber utama kematian dan disability pada perempuan tua. Menariknya, perempuan kuruslah yang justru dua kali berpotensi lebih besar untuk terserang penyakit tersebut dibandingkan dengan perempuan bertubuh lebih gemuk. Tverdal, seperti yang dikutip Robison, juga mengatakan bahwa tubuh gemuk dapat pula mencegah tuberkolosis dan penyakit pernapasan seperti empisema dan bronkitis.

Hasrat bertubuh langsing pada akhirnya membuat perempuan harus mati-matian berdiet, membatasi asupan makanan. Padahal, jurnal Robison menyebutkan, manusia memiliki kemampuan alamiah untuk mengatur asupan kalori berdasarkan rasa lapar, rasa kenyang, dan sinyal-sinyal nafsu makan. Pembatasan asupan makanan seperti yang terjadi pasa kasus-kasus diet justru akan meningkatkan kecenderungan untuk makan berlebihan.

Jadi, atas nama apa kita susah payah buang keringat di gym dan mati-matian diet? Masih mau pakai alasan kesehatan?

*Seperti yang dimuat pada Buletin Warta Unair Edisi Mei 2011