Curhat Superhero

Jarum pendek di pergelangan tangan saya merapat tepat di angka lima ketika derap langkah yang tegas itu menghampiri meja saya. Sengaja saya pesan secangkir teh hangat. Sebab, saya tahu, bertatap muka dengannya membutuhkan ketenangan yang sangat. Maka, saat dia tergopoh-gopoh menyapa saya sambil meminta maaf, benar saja. Jantung rasanya nyaris terlempar ke udara.

Dia mengulurkan tangan, sehingga niatan untuk melakukan sesapan kedua di bibir cangkir saya batalkan.

“Saya tidak terlambat kan?” tanyanya, menarik kursi di depan saya sehingga posisi kami kini berhadapan.

Saya tersenyum, agak menyesal membiarkan setelan terbaik saya tergantung begitu saja di lemari.

Sore ini, dia mengenakan kemeja putih dan jins biru terang. Sangat clean, namun tetap maskulin. Dari tempat saya duduk, saya bahkan bisa mencium aroma krim aftershave-nya yang menenangkan. Tanpa topeng yang menutupi sebagian wajahnya, saya pasti akan menyangkanya sebagai lelaki yang sedang menjemput istri saja. Sambil rehat santai menikmati senja.

“Anda sangat tepat waktu, seperti yang biasa Anda lakukan saat menyelamatkan kota.”

Dia tertawa.

“Anda biasa menjilat narasumber seperti itu setiap kali melakukan wawancara? Atau pada saya saja?”

Kali ini, mau tidak mau, giliran saya yang tertawa.

“Selama karir reportase saya, baru Anda yang berani mengatai saya begitu. Terima kasih.”

Dia menganggukan kepala sedikit sambil tersenyum. “My pleasure.”

“Saya banyak belajar bahwa kebanyakan narasumber memang gemar dijilat. Dan Anda adalah sebagian kecil yang tidak begitu.

“Semoga itu pujian?”

“Tentu.”

“Then I should say thanks.”

Saya mengangguk sedikit sambil menjiplak senyumnya tadi. “My pleasure. Saya akan mulai wawancara setelah Anda memesan sesuatu terlebih dahulu.”

Dia memanggil seorang pelayan – yang memang sudah bersiap diri sedari tadi – dan memesan secangkir kopi panas.

“Jadi, apa yang ingin Anda ketahui dari saya?”

“Secara pribadi tidak ada, sebetulnya. Tuntutan pekerjaan.”

Dia tertawa lagi, membuat saya merasa seperti bertemu kawan lama saja. “Baik. Apa yang ingin pekerjaan Anda ketahui dari saya?” ulangnya, meng-air quote kata pekerjaan.

“Saya awali dulu dengan pertanyaan basa-basi yang sederhana dan sangat mudah dijawab. Apa kabar?”

Dan inilah petikan wawancara saya bersama seorang superhero kota.

Superhero Kota (SK): (tertawa) Baik. Selalu agak melelahkan. Terima kasih.

Saya (S): Soal kesibukan Anda sehari-hari selain menyelamatkan kota?

SK: Saya bekerja.

S: Jurnalis seperti tokoh Spiderman, atau taipan media seperti di Green Hornet?

SK: Bukan keduanya. Pentingkah untuk diketahui?

S: Tidak buat saya. Sialnya, penting bagi pembaca saya. Atau editor saya, setidaknya.

SK: Saya berbisnis online. Itu saja yang perlu diketahui. Saya tidak ingin ada campur tangan popularitas dalam bisnis saya. Sudah cukup menjawab tentunya ya.

(Di titik ini, percakapan kami terhenti sebentar lantaran kopi panas si superhero sudah datang)

S: Berita ini agak mengejutkan saya. Juga seluruh penduduk kota, saya kira. Betulkah Anda berniat untuk pensiun jadi superhero?

SK: Betul.

S: Kenapa?

SK: Saya capek.

S: Anda capek?

SK: Betul.

S: Bagaimana bisa?

SK: (mengernyitkan dahi) Maaf?

S: Maksud saya, bagaimana bisa seorang superhero kota merasa capek? You are a superhero, anyway. And a superhero is suppossed to help others and be strong.

SK: Anda lupa bahwa saya juga manusia. Segala yang ada pada manusia tidak tak terbatas. Dan saya sampai pada titik kelelahan itu.

S: Saya kira amat menyenangkan menjadi seorang superhero.

SK: (menyesap kopi) Awalnya, ya. Tapi kemudian, semua yang menyenangkan itu perlahan berganti jadi keletihan.

S: Apa yang paling membuat Anda letih sebagai superhero?

SK: Harapan masyarakat. Tuntutan bahwa Anda pasti bisa melakukan segalanya, bahwa Andalah yang terbaik dan pasti bisa jadi yang terbaik.

S: Sepertinya Anda saja yang terlalu takut gagal?

SK: Bukan. Bukan kegagalan yang saya khawatirkan. Tapi ketika orang lain tahu kegagalan saya, itulah yang paling saya takutkan.

S: Lantas Anda lebih memilih jadi orang biasa saja?

SK: Sebagai seorang superhero, semua orang bergantung pada Anda sampai Anda sendiri bingung harus bergantung pada siapa saat Anda sedih dan butuh bantuan. Semua orang akan dengan mudahnya berkata, “You are a strong man. Kamu pasti bisa melalui semuanya.” Rasanya seperti diisolir dan diminta hidup soliter tanpa uluran tangan orang lain. Pada orang biasa, hal-hal semacam itu relatif jarang terjadi. Saya rasa, itu sangat menentramkan.

S: Tidak takut kehilangan banyak hal saat Anda pensiun nanti?

SK: Ke mana pertanyaan Anda hendak menuju?

S: Menjadi orang biasa berarti kehilangan popularitas. Dan hilangnya popularitas akan menghilangkan banyak hal lainnya. Katakanlah, kesempatan untuk dihormati, disanjung, dielu-elukan. Anda tidak takut kehilangan itu?

(Dia agak lama menatap saya, memikirkan jawaban yang paling tepat, baru kemudian angkat bicara)

SK: Saat orang-orang membutuhkan bantuan, mereka datang dan memintanya pada saya. Tapi giliran saya yang berada di posisi mereka dan meminta bantuan mereka, mereka berkata “Kamu pasti bisa.” See? Alih-alih memberi bantuan, mereka justru menimpakan harapan tinggi pada saya. Ketika orang-orang kebingungan dan butuh jawaban, mereka datang dan bertanya pada saya. Tapi giliran saya yang begitu, mereka malah berkata “Kalau kamu tanya aku, aku tanya siapa?” It is suck. Cukup menjawab?

S: (tertawa) It is, indeed. Mari berandai-andai sejenak. Kalau sekarang, sebagai superhero, Anda bertanya atau meminta bantuan pada saya, kalimat seperti apa yang paling ingin Anda dengar?

SK: “Semua orang, tidak peduli superhero atau bukan, pasti bisa kalau mau berusaha. Dan kalaupun nanti kamu gagal, jangan khawatir. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”

S: (mengangguk-angguk) Lumayan. Cukup mudah dihafalkan.

SK: (tertawa) Serius. Tidak ada cemooh atau tatapan heran. Saya ingin kegagalan saya dipandang sebagai suatu hal yang biasa saja. Bukankah kita tidak akan pernah tahu cara berbuat yang benar kalau tidak pernah berbuat salah?

S: 13 Going on 30.

SK: Benar. Salah satu kutipan favorit dari film yang sudah dulu sekali saya tonton.

S: By the way, menyinggung hal pribadi sedikit. Tentang status lajang Anda, tidak takutkah kehilangan kesempatan mencari pasangan saat Anda menjadi orang biasa nanti?

SK: Terus terang, sama sekali tidak. Saya justru tidak ingin mendapat pasangan yang menerima saya lantaran ke-superhero-an saya. Saya ingin diterima sebagai saya apa adanya.

S: Oke. Apa rencana Anda saat menjadi orang biasa nanti?

SK: Seperti kebanyakan orang biasa lainnya. Yang jelas, saya akan fokus berbisnis.

S: Hal pertama yang akan Anda lakukan saat menjadi orang biasa nanti?

SK: Saya akan menulis. Berbagi cerita-cerita kegagalan seorang superhero kepada orang lain. Selama ini, banyak buku berisi tentang kisah sukses. Saya ingin menyampaikan misi serupa dengan gaya bertutur sebaliknya. Bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang besar, sebetulnya punya potensi juga untuk gagal. Jadi, kalau superhero saja bisa gagal, apalagi orang biasa. Ini pikiran yang menentramkan, membuat kita bisa melakukan segala sesuatu dengan lepas tanpa beban.

Saya mengangguk. Dengan sigap, alat perekam di atas meja saya matikan. Cangkir berisi cairan kuning kental tanpa gula yang nikmatnya memabukkan itu terlalu sayang kalau dibiarkan terlalu lama.

Percakapan kami selanjutnya bergulir santai, sampai langit di luar tak terasa berganti jadi malam. Warna jingga yang tadi tumpah di sekujur langit, kini sempurna tertutup oleh selendang hitam yang ditaburi bintang.

Ponsel di saku blazer saya bergetar. Nomor kantor berpendar-pendar di layar.

Baiklah. Sudah waktunya pulang. Seusai menuntaskan minuman masing-masing, kami saling berpamitan. Saya harus menyalin wawancara ini menjadi berita, sementara dia harus kembali bertugas menyelamatkan kota.

Demikianlah.

*Untuk salah satu sahabat saya yang ingin mengeluh lantaran “lelah”. Hei, kami tidak akan pergi ke mana-mana!😀