Jalan yang Mengingatkan

Cerita yang akan saya tuturkan ini biasa saja. Bahkan, sebagian dari kamu mungkin sudah terlalu jamak mendengar kisah serupa. Tapi, entah bagaimana, sentuhan istimewanya tetap terasa buat saya. Maka, bukankah tidak ada salahnya membaginya?

Sebagai pembuka, perlu saya sampaikan bahwa saya tidak pernah paham bagaimana mekanisme kerja sebuah ingatan. Tentang bagaimana satu hal bisa punya tautan dengan hal-hal lainnya, rasanya tidak masuk di nalar saya. Tapi, itulah. Some things are better left unquestionable, right? Dan tetap saja, sama seperti kamu, saya juga punya banyak hal yang mengingatkan saya pada hal lainnya. Salah satu ruas jalan di kota saya adalah contohnya.

Terus terang, pemilihan kata “ruas jalan” terdengar agak berlebihan di telinga saya. Sebab, dalam cerita ini, yang banyak berandil dari seruas jalan itu sebetulnya adalah sepetak tanah saja. Saya berani pastikan, jalan itu tidak cuma sekali-dua kali saya lewati. Bahkan, seluruh jari tangan dan kaki saya bakal habis kalau mau dipakai berhitung. Tapi, saya ingat betul. Baru sekali itu saya melewatinya dengan berjalan kaki.

Kejadian persisnya sudah lewat beberapa bulan lalu. Tepatnya saat salah satu sahabat saya berulang tahun. Kami, dengan semangat pengangguran, berniat memberi kejutan kecil. Jadi, datanglah kami ke lokasi si birthday girl yang waktu itu tengah ikut kegiatan wajib kampus di sebuah kampung kecil (Ini sekaligus menjawab kenapa kendaraan kami diparkir cukup jauh sehingga terpaksa berjalan kaki).

Satu tampah berisi jajanan tidak lupa kami bawa. Mengingat pejalan kaki rawan oleh semburan galak asap-asap knalpot kendaraan, kami pun dengan spirit higienis (dan rasa sayang, tentu saja) menyelimuti kue-kue itu dengan berlembar-lembar tisu. Sialnya, kami justru lupa bahwa berjalan kaki di Surabaya siang-siang begitu adalah mimpi buruk! Jaket dan payung alpa terbawa. Maka, melindungi kue dari serbuan debu (dan sekaligus kepala dari panasnya Surabaya yang ghaib minta ampun!) menjadi persoalan yang sungguh mati menyebalkan. Disenggol sedikit saja, akan pecah rasanya kepala.

Tanpa mengurangi rasa kasih pada sahabat kami yang berulang tahun, ingin sekali putar balik dan menganulir rencana. Sudah panasnya nggak kepalang, masih jauh pula! Sudah begitu, kami masih harus melipir setengah mati ke pinggir jalan supaya tidak diserempet kendaraan yang lajunya seperti nyaris terbang itu. Sepanjang jalan, segala penghuni kebun binatang berwujud sumpah serapah sudah menumpuk di kepala. Needless to say, semangat kami luluh bersama dengan setiap leleran peluh.

Di tengah-tengah rapalan keluh itu, mata saya tak sengaja menangkap  sesosok tubuh yang duduk di pinggir jalan dengan posisi bersimpuh. Maafkan saya yang tidak terlalu lihai menjabarkannya. Pemandangan itu berlalu agak terlalu cepat, sebab saya tak tega menoleh lagi untuk kedua kalinya. Takut dikira menghina.

Dari pemindaian mata yang sekilas itu, saya tahu beliau perempuan. Usianya, saya taksir, tak mungkin kurang dari kepala lima. Dan dari – sekali lagi maafkan saya – penampilannya, saya sangsi kalau beliau adalah pedagang lantaran pakaiannya yang bahkan terlalu kumal untuk tataran itu. Mungkin, pengemis. Atau pemulung. Entahlah. Kemiskinan membuat suasana pinggiran jalan semacam itu jadi terasa lazim belaka.

Tapi, bukan itu yang hendak saya sampaikan.

Saya baru menyadarinya ketika melewati beliau. Kain usang yang menjadi alas duduk beliau, baru saya sadari, bergambarkan menara masjid. Sedetik kemudian, saya kembali tertampar oleh kesadaran baru: Beliau hendak mengenakan mukena. Sudah masuk waktu dhuhur.

Saya tercekat. Semua keluhan mendadak macet di tenggorokan.

Meskipun siang itu keringnya sangat kerontang, pinggiran jalan itu setia bertanah lembab. Maka, di balik sajadah lusuhnya, saya melihat ada selembar triplek. Mungkin agar sajadahnya tidak kotor dan basah, atau sekedar membuatnya lebih nyaman beribadah. Di sampingnya, ada sebuah gerobak yang dibentuk seadanya dari kombinasi triplek dan kardus bekas sehingga menyerupai sebuah kotak kumuh. Di dalamnya, tidur selonjor seorang anak laki-laki.

Itukah… rumah? Yang untuk berdiri solat saja tidak muat sehingga penghuninya harus keluar untuk sekedar beribadah?

Saya tertegun. Nyaris habis akal. Saya banyak mendengar, kemiskinan adalah pangkal dari kejahatan. Tapi, pemadangan tadi cukup memporak-porandakan dalih itu, membuat saya merasa jadi orang paling kriminil sedunia: sudah acap alpa beribadah, tidak pernah usaha apa-apa pula untuk mengurai jaring kemiskinan.  Siapa yang lebih jahat, kalau begitu?

Tamparan lebih keras kembali singgah saat saya teringat betapa malasnya saya beribadah meskipun mukena harumnya luar biasa dan tempat begitu luas tersedia. Sungguh, menarik bukan menyadari bahwa betapa banyak hal sederhana bisa mengingatkan kita pada hal-hal besar lainnya? Sekarang, setiap melewati jalan itu, saya selalu teringat betapa saya hanya bisa konstan mengeluh tanpa menegakkan ibadah secara teguh. Betapa jahatnya saya yang masih terlalu apatis pada kemiskinan. Betapa kikirnya saya yang masih menerima uang kembalian dari tukang parkir atau penjual koran, orang-orang yang saya tahu tidak bakal jadi kaya mendadak meski diberi uang satu juta sekalipun.

Ah. Rasanya memang tidak perlu ya memahami mekanisme kerja sebuah ingatan untuk bisa dihadapkan pada kesadaran-kesadaran semacam itu…