Menunda Kebaikan

Saya mengenalnya sebagai sosok yang tampak sangar dari luar: bertampang garang, berkulit legam, bertubuh besar, well, sebutkan saja apapun yang kamu bayangkan dari seseorang yang menyeramkan. Minus brewok.

Pertama kali melihatnya, saya langsung paham mengapa seragam keamanan itu bisa melekat di tubuh beliau. Setelah lama kenal, saya justru bertanya-tanya. Mengapa seragam itu bisa awet nempel di sana.

Beliau memang tipikal yang sangat mewakili stereotype orang galak di film-film (tidak seperti saya yang galak tapi tidak mewakili streotype orang galak di film-film). Tapi, saya jamin. Siapapun yang akrab dengan beliau, pasti bakal tertawa kalau ada anak yang mengaku ngeri dengan beliau.

Sebagai satpam, beliau cukup pendiam. Selama tiga tahun bersekolah, tidak pernah sekalipun saya melihat beliau marah-marah. Saya dan teman-teman yang bandel, kurang ajar, plus hobi telat ini pun segera akrab dengan beliau.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar kabar tidak menyenangkan. Beliau sakit. Seorang kawan mengabarkan, beliau tidak punya uang untuk menukar biaya perawatan. Rumah sakit pun menjadi solusi yang tidak masuk akal bagi keluarganya. Padahal, tubuh beliau sudah menguning dimakan penyakit. Apa itu istilah medisnya? Ah ya, hepatitis.

Sesuatu menyenggol pikiran saya: sungguh beruntung orang yang takut rumah sakit. Dia tidak harus sakit hati ketika keluarganya tidak mampu membawanya berobat ke sana.

Didorong oleh rasa persaudaraan, saya dan beberapa teman mencari tahu lebih jauh tentang beliau. Alamat rumah, dapat. Nomor ponsel, dapat. Saat saya bertukar kabar melaui pesan singkat, beliau tengah istirahat di rumahnya di daerah Kediri.

Saya dan beberapa sahabat sepakat untuk menggalang dana. Semoga, kami tidak terkesan seperti dermawan. Sebab, niat kami memang cuma berangkat dari rasa persaudaraan. Maka, rencana pun mulai disusun: menyebarkan pesan singkat ke teman-teman, menjemput sumbangan ke kampus-kampus karena transfer via rekening tampak terlalu makan waktu, dan mengantarkan ‘bala bantuan’ itu ke rumah beliau di Kediri. Sekalian silaturahmi. Sekalian ngobrol-ngobrol sambil melepas kangen. Sekalian juga jalan-jalan, mungkin.

Begitulah rencana beberapa minggu yang lalu. Dari seorang teman, saya tahu bahwa beberapa rekan sudah ada yang berangkat ke sana untuk menjenguk dan membawa bantuan uang. Tapi, kami masih saja ‘mbulet’ tentang cara menggalang dana. Terlalu banyak pertimbangan (Kalau posting tentang penggalangan dana di Facebook, nanti dikira sok cari muka. Kalau langsung ‘nodong’ temen-temen sealumni di kampus-kampus, nanti dianggap sok filantropis. Dan lain-lain dan sebagainya). Atau mungkin juga, terlalu banyak kegiatan. (Nantilah, menunggu teman (@ZulfikarSaniPutra) selesai sidang skripsi dulu. Nantilah, selesai KRS-an dulu. Nantilah menunggu teman (@KurniasariDwiWati) selesai KKN dulu. Dan lain-lain dan sebagainya).

Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, saya juga bingung. Apa sih yang sebetulnya kami bingungkan waktu itu? Tinggal mengirim pesan ke teman-teman, berangkat ke kampus-kampus, lalu ‘lepas landas’ ke Kediri. Selesai. Terdengar sangat mudah, bukan? Apanya yang susah?

Tapi, yah, itulah. Acara ketemuan bersama beberapa teman yang seharusnya diagendakan untuk menggodok rencana penggalangan dana, bergeser jadi acara curhat-curhat. Guyon-guyon. Lawak-melawak. Sesuatu yang sudah terlalu sering kami lakukan. Sesuatu yang mungkin penting, tapi tidak semendesak menolong seorang kerabat. Sesuatu yang harusnya bisa dilakukan lain waktu. Dan seperti yang sudah kamu duga, rapat bertema misi penggalangan dana itu tidak pernah benar-benar selesai. Rencana dibiarkan melayang, tidak pernah jadi matang.

Sampai detik ini, pesan singkat tentang kabar beliau tidak pernah terkirim ke teman-teman. Tidak ada postingan berisi rencana penggalangan dana yang diunggah ke Facebook. Tidak ada pula acara kunjungan ke kampus-kampus untuk menjemput sumbangan.

Bala bantuan yang kami rencanakan itu tidak pernah sampai ke tangan beliau.

Hari Minggu kemarin, saya dibangunkan oleh bunyi ponsel yang bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal (yang ternyata datang dari adik @gemacahya, salah satu pengurus OSIS. Terima kasih sudah memberi kabar :D). Dengan mata setengah terpejam, saya memaksakan diri untuk membaca. Isinya membuat saya terduduk dengan kesadaran yang mendadak penuh.

Beliau meninggal.

Layar ponsel saya tiba-tiba buram. Pandangan saya jadi kabur lantaran ada sesuatu yang menggenang, entah untuk alasan yang mana: kehilangan, atau misi penggalangan dana yang tinggal rencana.

Saya tahu, berapapun besar sumbangan yang mungkin bisa kami kumpulkan, tidak bakal menyelamatkan beliau kalau itu sudah jadi kehendak Tuhan. Tapi, bukankah setidaknya saya sudah berusaha membantu sebisa saya?

Seharusnya saya tidak menunda. Persetan kalau ada yang menganggap kami sok baik hati, sok filantropis, sok cari muka, atau apapunlah. Seharusnya saya TIDAK menunda. Sebab, kebaikan memang tidak seharusnya ditunda.

Sial, penyesalan memang selalu datang belakangan.

Begitu pula pelajaran.

Selamat jalan, Pak Nur Wachid. Semoga jalananmu ke pintu surga dipenuhi lentera terang…