Titik Koma

Entah atas alasan apa, Tuhan mengirim sahabat-sahabat yang luar biasa baik buat saya. Sering saya berpikir, pernah berbuat baik apa saya dulu sampai Tuhan memberikan mereka kepada saya? Meskipun saya lebih banyak membagi duka ketimbang suka, dari merekalah pelajaran hidup banyak saya dapat. Dan dia yang akan saya ceritakan ini adalah salah satunya.

Demi kebaikan masa depannya, baiklah kita sepakati saja di awal, namanya disamarkan. Karena “Bunga” sudah cukup pasaran, mari anggaplah namanya “Mimi” (nama ini cukup aman, karena tidak muncul pada search results dari folder daftar teman dalam kepala saya).

Suatu pagi, maafkan saya yang amnesia kapan tepatnya, Mimi mengirimi saya sebuah pesan singkat. Jujur saja, saat itu saya masih asyik bergelut dengan bantal. Bunyi smsnya singkat, tapi sukses memukul telak titik sadar saya.

Aku putus.

Saya nyaris terlonjak.

Whaaaat???

Setengah mati saya tahan serbuan tanda tanya yang secara bar-bar menggedor-gedor dinding batin saya. Setelah berunding dengan diri sendiri (karena, hell, bukankah kabar patah hati sama suuuucks-nya dengan berduaan di lift bersama orang asing?), saya putuskan bahwa pesan singkat itu saya balas sederhana saja. Tanpa bermaksud menyepelekan kesedihannya, saya cuma utarakan rasa simpati dan dukungan saya buat dia. Sambil, tentu saja, berdoa keras semoga dia baik-baik saja.

Seharian itu, saya diprotes teman-teman lain karena (tumbenan) banyak diam.  Oh. Bagaimana tidak. Kalau yang barusan putus adalah sahabat berkarakter pemburu cowok hotter-than-hell, mungkin saya tidak akan begitu khawatir. Masalahnya, Mimi ini hatinya baik bukan buatan. Pernah ngobrol sama seseorang yang bikin kamu merasa bahwa dosamu seperti digeber di depan mata? Nah, seperti itulah Mimi. Tipe perempuan berhati angelique dari ras paling murni.

Jadi, rasanya tidak berlebihan, bukan, kalau saya sampai ikut cemas? Untuk lebih meyakinkan bahwa saya tidak lebay (dan sebelum kamu memutuskan untuk melabeli saya sebagai remaja galau), ijinkan saya menambah lagi alasannya.

Pertama, Mimi dan pacarnya (Who is officially ex now) sudah pacaran selama empat tahun (Oke. Durasi pacaran memang tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan sebuah hubungan. But, still. Empat tahun, hello!). Kedua, saya kenal baik dengan Mimi dan pacar, maaf, mantannya. Maka, kalau sampai mereka putus, pokok persoalnnya jelas bukan hal yang remeh. Sebab, ini sekaligus menjadi alasan yang ketiga, mereka akan menikah.

Tuhan. Kepala saya langsung cenat-cenut (Masih kelihatan gaul kan ya kalau saya pakai istilah ini?).

Saya tidak berani mengutak-atik luka Mimi, sampai suatu hari dia sendiri yang mengajak saya makan siang bareng dan ngobrol berdua. Saya tahu dia perempuan kuat. Saya berani pastikan itu dari sorot matanya. Juga suaranya yang tidak terbata-bata saat berbagi cerita, tanda bahwa tenggorokannya tidak tercekat kesedihan dan tutur katanya tidak tercegat air mata. Saya bangga. Obrolan kami berjalan menyenangkan, seperti biasa.

Long story short, Mimi sampai pada kesimpulan bahwa inilah jalan Tuhan. Menjelang pernikahannya, matanya seperti “dibukakan”: menikah dengan mantannya bukanlah pilihan yang terbaik. Sedih dan sakitnya luar biasa. Tapi, dia kemudian berkata pada saya, ”Aku nggak tahu maksud Tuhan apa. Aku nggak tahu, Tuhan mau bawa kita ke mana. Aku nggak tahu, jalan Tuhan seperti apa. Aku cuma percaya, jalan Tuhan inilah yang paling baik.”

Jalan Tuhan.

Selepas pertemuan kami, saya banyak berpikir tentang jalan Tuhan.

Benar. Mau sejatuh dan seterpuruk apapun, kenapa nggak kita kembalikan saja pada jalan Tuhan? Bukankah Dia Maha Tahu yang Terbaik bagi setiap umatNya? Kita ini tahu apa sih?

Dia sudah mengendalikan semuanya. Kalau siang dan malam saja bisa diaturNya sedemikian rupa hingga tidak pernah datang berbenturan, bukankah urusan hidup dan semua jawaban masalah kita kecil saja di mataNya? Lagipula, hanya kepadaNyalah dikembalikan segala urusan. Jadi, kenapa saya masih sering sekali ketakutan akan tetek bengek keduniawian? Seharusnya saya tidak perlu meraung manja saat diberi cubitan kecil oleh Tuhan.

Ah.

Hidup cuma satu kedipan mata. Tanpa berniat memarjinalkan pemeluk atheis, agnostik, atau pemeluk keyakinan lainnya, saya seharusnya bersyukur: saya masih diberi kesempatan untuk mempercayai Tuhan. Sebab, rasanya sungguh menyenangkan punya “sesuatu” yg bisa kita gantungkan buat segala sesuatunya. Punya “sesuatu” yg mengatur semuanya. That’s what we called Tuhan.

Masalahnya cuma satu: cukup bersabarkah saya dalam meniti jalan Tuhan? Sebab, hei, berjanji untuk ikhlas dan bersabar adalah satu hal. Menjalaninya itu perkara lain. Selalu lebih mudah bicara mengenai matematika yang sudah ada rumus pastinya, bukan? Sialnya, ini adalah urusan perasaan. Dan perasaan bukanlah soal permainan angka yang solusinya ada di kejelian hitung-hitungan kan?

Satu hal yang perlu masuk catatan saya: bersabar meniti jalan Tuhan bukan berarti pasrah begitu saja. Kalau boleh meminjam perumpamaan, hidup itu mungkin seperti kombinasi tanda titik dan tanda koma. Tuhan itu tanda titik, tempat kita berhenti, berharap, dan berserah diri. Sementara manusia adalah tanda koma, tempatnya kontinuitas usaha dan kerja keras.

Saya mungkin bukan orang yang piawai mengombinasikan keduanya. Tapi, tidak ada salahnya terus mencoba kan?

Beberapa hari lalu, kembali ponsel saya disinggahi pesan singkat dari Mimi. Pagi-pagi sekali. Bunyi pesannya lagi-lagi bikin saya bangun terduduk. Kali ini, spesial karena jantung saya berdegup bahagia.

Mimi mau menikah.