Yang Muda Yang Dipuja

Ada yang mau dianggap tua?

Saya yakin, kebanyakan dari kita – untuk tidak menyebut seluruhnya – akan menggeleng kuat-kuat saat disodori pertanyaan semacam itu. Pertanyaan selanjutnya adalah: Kenapa? Apa yang salah dengan menjadi perempuan tua? Bukankah menjadi tua adalah sebuah proses alami yang mutlak bakal terjadi, tak ubahnya seperti teori gravitasi bumi? Sifatnya pasti, lepas dari urusan suka atau tidak suka.

Saya tidak tahu kapan tepatnya proses penuaan mulai dimarjinalkan. Saya juga tidak tahu siapa dalang di balik pemujaan terhadap tubuh yang awet muda. Kalau harus ada pihak yang patut dipersalahkan, mungkin budayalah jawabannya.

Hilary M Lips, seorang penulis buku psikologi, mengungkapkan bahwa budayalah yang mengajari individu tentang kapan menjadi tua dan budaya jugalah yang menciptakan maknanya. Jika pemahaman atas penuaan dibentuk oleh budaya, maka benar bahwa budaya yang ‘menuakan’ kita, bukan?

Menariknya, setiap budaya punya makna yang beragam atas perempuan tua. Pada masyarakat Aborigin Australia, perempuan tua dihargai dan nasihat mereka selalu didengarkan. Mereka punya kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam pengambilan keputusan di komunitas dan ritual-ritual keagamaan ketimbang perempuan yang lebih muda. Oleh sebab itu, perempuan-perempuan tua pada masyarakat tersebut dianggap bijaksana dan bahkan memiliki status yang lebih tinggi. Di Afrika Selatan, peningkatan usia berbanding lurus dengan peningkatan status. Orang-orang tua juga dianggap memiliki kekuatan spiritual yang lebih kuat.

Tidak jauh berbeda dengan Australia dan Afrika Selatan, Indonesia pun sebetulnya menempatkan orang tua pada posisi yang tinggi. Bahkan, ada istilah “orang yang dituakan” untuk merujuk pada orang yang dihormati, berpengaruh, dan memiliki bargain power tinggi dalam suatu kelompok tertentu. Orang tua dianggap lebih berpengalaman, atau yang sering disebut dengan istilah “banyak makan garam kehidupan”. Oleh sebab itu, tidak heran bila masyarakat Indonesia sering mencari figur pemimpin dan sosok pengambil keputusan dengan berorientasi pada usia yang lebih tua. Pada bidang hukum, misalnya, syarat usia minimal untuk menjadi seorang hakim agung adalah 65 tahun. Pada bidang keagamaan, Islam sebagai agama dengan jumlah pemeluk terbanyak di Indonesia mengajarkan kepada umat muslim agar selalu mengutamakan orang yang paling tua untuk menjadi pemimpin sholat.

Sebaliknya, kebanyakan masyarakat Amerika Utara justru tidak suka dianggap “tua”. Bagi mereka, tua selalu identik dengan kesepian, sulit mendengar, serta kaku. Hal yang sama berlaku pula di masyarakat Western. Resistensi masyarakat Western terhadap proses penuaan ini pada akhirnya memunculkan beragam strategi yang menawarkan janji manis mencegah penuaan. Atas nama awet muda, mari ucapkan selamat datang pada rezim kosmetik, fitnes, dan operasi plastik.

Kalau boleh merujuk pada fakta medis, menjadi tua sebetulnya merupakan sebuah proses yang wajar dan bahkan sudah dimulai sejak manusia lahir. Dengan demikian, semua manusia pasti akan menjadi tua dan menampakkan tanda-tanda penuaan: berubahnya bentuk tubuh, munculnya keriput, uban, serta kerontokan rambut. Entah mengapa, perkembangan fisik semacam itu dianggap sebagai sesuatu yang sebisa mungkin dihindari sementara perkembangan fisik dari lahir hingga remaja dianggap sebagai sesuatu yang sehat dan menyenangkan. Bukankah munculnya uban pada rambut dan keriput pada kulit sama normalnya dengan tumbuhnya rambut pubis dan payudara pada masa pubertas?

Mungkin, sekali lagi, budaya pemuja awet mudalah yang paling tahu jawabannya. Dan sebagai pelaku budaya, kitalah yang seharusnya paling tahu cara menyikapinya. Betul begitu, bukan, hai perempuan?

*Seperti yang dimuat pada kolom Her View Harian Jawa Pos Edisi Rabu 31 Maret 2011