Fraktura Hepatika *)

Jerit ponsel membuka paksa mata saya di suatu pagi yang entah kapan itu. Setengah mengantuk dan setengah mengutuk, saya lirik si biang ribut itu dengan tampang separo senewen. 

Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak tahu milik siapa.

Dengan kesadaran seadanya, saya menekan tombol baca.

Dari teman pria saya, rupanya. Pesannya tidak terlalu panjang, berisi permintaan tolong untuk mencarikannya pacar dengan kriteria berbagai rupa. Segera.

Kalau tidak terbius kantuk, saya pasti sudah melengking tertawa. Lelucon apa ini?

Pertama, saya tidak terlalu akrab dengan si pengirim pesan. Bayangkan, nomornya saja tidak terekam di memori ponsel saya!

Kedua, dari lusinan teman yang dia punya, demi Tuhan, kenapa harus saya yang dikirimi sms macam itu?

Dan ketiga, ini menggelikan. Saya harus cari di mana cewek buat dia? Di Google? Memangnya saya bertampang makelar jodoh sampai dia begitu putus asanya dan menghubungi saya?

Oh, Lord. Tolong katakan kalau ini semua kelakar belaka.

Dengan sisa kantuk yang masih menggayut mesra di kelopak mata, saya balas pesan itu dengan kalimat sederhana: Saya usahakan ya.

Tentu saja, saya bukan tergolong barisan manusia berhati sutera. Maka, apabila tutur mulia itu keluar dari mulut saya, pasti lebih karena itikad baik semata. Sebab, kalau saja si pengirim pesan adalah salah satu karib saya, pasti sudah saya libas dengan jawaban paling buas.

Beberapa hari kemudian, barulah saya sesalkan pernyataan omong kosong itu.

Dia kembali menghubungi saya. Menagih seorang perempuan melalui pesan singkat yang singgah lagi di ponsel saya. Celaka tiga belas! Acara jodoh-jodohan itu kan sudah secara resmi saya abaikan!

Barangkali karena respon saya tidak terlalu menggembirakan, dia melonggarkan kriteria calon pacarnya. Bahkan, dia berbaik hati membantu saya dengan menyarankan untuk melacak dan pura-pura kenalan dengan cewek di Facebook.

Dan seakan semua itu belum cukup merepotkan, saya diperintahkan untuk melipatgandakan kecepatan.

Hahh??? Kamu pikir cari pacar itu seperti cari kupon undian yang tinggal potong di koran? Seenaknya saja minta cepat!

Sebalnya bukan main. Dia yang pengen punya pacar, kenapa saya yang jadi begini repot? Rasanya ingin sekali pasang mulut sadis dan membalas dengan sms melumat habis. Atau pasang mulut satir, dan mengirim kalimat bernada nyinyir.

Beruntung, total kesabaran saya sedang di-markup habis-habisan. Jadi, saya mati-matian mengumpulkan ketenangan dan menanyakan perihal ketergesaannya mencari pacar.

Jawabannya bikin saya nyaris jatuh terpingkal, sekaligus jatuh iba. Kepada saya, dia mengaku baru saja putus dan butuh seseorang untuk membantunya melupakan sang mantan.

Olala, matilah saya. Patah hati, rupanya. Kalau mau melupakan mantan dengan cara instan, bunuh diri saja!

Saya tersenyum mendapat curhatan demikian. Selama ini, saya banyak mendengar berbagai versi mengenai mekanisme mengobati luka hati. Dan katanya, cari pacar lagi secepat mungkin adalah teknik paling dasar untuk melupakan mantan.

Betulkah begitu caranya?

Saya sih belum mencoba. Tapi kalau mau melupakan mantan, kenapa tidak sekalian saja minta pada Tuhan agar dibuat amnesia? Sebab, mungkinkah kita melupakan seseorang yang pernah membuat kenangan di hidup kita? Mau itu mantan pacar atau sekedar teman, menghapusnya dari ingatan kan tidak semudah menebah dada. Sekeras apapun mencoba lupa, toh banyak hal tentang dia masih melekat jelas di kepala.

Jadi, bukankah lebih baik berusaha menyikapi kenangan dengan dewasa ketimbang mati-matian cari pelarian demi melupakan mantan? Rasanya memang akan sakit, dan sangat sulit. Kalau ada yang bilang bakal gampang dan menyenangkan, they may go take their pleasant ass to somewhere else. Tapi, seperti kata orang, waktu yang akan menyembuhkan. Maybe it would take like eternity sampai kita bisa sembuh benar. Mau menangis di sudut kasur dengan bergulung-gulung coreless tissue sampai mata bengap seperti habis ditinju, terserah. Ingat saja, dunia tidak bakal berhenti berputar untuk mengirim ucapan simpati. Jadi, kalau mau maju, we got to work our ass off.

Saya sudah lupa, jawaban apa yang saya berikan pada teman saya saat dia curhat tentang patah hatinya itu. Yang jelas, sampai saat ini, saya sama sekali tidak tergerak untuk lekas-lekas mencarikannya pacar. Apalagi dengan pura-pura kenalan di Facebook. Sebab, buat saya, patah hati itu seperti ketika kita jatuh dari kursi. Lukanya bakal selamanya membekas di kaki. Kalau mau sembuh, caranya bukan dengan cepat-cepat minta ganti kaki yang baru kan? Tapi, belajar bangkit dan jalan kembali dengan rasa sakit dari kaki yang terluka. Percayalah, dari kaki itu, kita akan mendapat banyak pelajaran. Juga kekuatan.

Dan lagi, bukankah lebih baik bersabar demi mendapat yang paling tepat?

 

(Untuk sahabat saya yang sedang dirundung patah hati. Kalimat terakhir itu buat kamu. Work your ass off, Bitch! :*)

*) Patah hati, dalam bahasa saya sendiri😀