Jumat Senja dan Setangkai Kamboja (Bagian I)

Kamu mencium pipiku dan meletakkan setangkai kamboja putih kesenanganku di atas meja. Sambil tersenyum, kamu menarik kursi di hadapanku. Memasang tampang jenaka tanpa dosa meski aku hampir mati kaku menunggumu.

Aku yang tengah menyesap teh dari bibir cangkir untuk membunuh bosan itu, terpaksa mengulum senyum. Skenario berisi omelan panjang yang sudah kutata sedari tadi, mau tak mau kutelan kembali.

“Maaf,” katamu seperti membaca isi kepalaku. Kamu tersenyum dengan kehati-hatian yang amat, seolah khawatir kalau salah tarik sedikit saja, senyummu bisa bikin amarahku meledak di udara.

Aku melipat tangan di atas meja dan menatapmu lekat-lekat.

Sore ini, kamu mengenakan celana pantalon berwarna gelap dan kemeja biru terang yang lengannya sudah tergulung hingga siku. Dari posisi kancing kemejamu yang terbuka, aku berani bertaruh. Dasimu pasti sudah senasib dengan berkas kerjamu. Teronggok berantakan di kursi belakang mobil bersama buku-buku. 

“Arlojimu tidak mungkin ngadat. Aku paham betul ada berapa digit angka di label harganya. Jadi, sudah tahu pukul berapa sekarang?”  tanyaku, setengah mati menjaga suara agar tetap sedatar meja.

Di wajahmu yang masih berlumur senyum itu, aku melihat rimbunan penyesalan. Dan kepenatan. Pasti karena rutinitas kerjamu yang menjemukan.

“Delapan lewat sepuluh,” Kamu menjawab patuh.

“Dan masih ingatkah kamu jam berapa kita membuat janji temu?”

Mata kita masih bertaut erat. Di kedalaman milikmu, aku menemukan sebongkah rasa bersalah. Juga rasa lelah.

“Jam enam,”

Kamu selalu terlambat. Seperti minggu lalu, dan ribuan minggu sebelumnya.

Heran, aku masih saja mau menunggumu.

My Foolish Heart milik Al Jarreau mengalun dari pengeras suara yang menempel di sudut dinding kafe. Selain kamu, kombinasi suasana lengang dan musik-musik tenang inilah yang selalu membuatku lupa pada kata pulang.

Aku tertawa.

 “Ini sudah pesananku yang ketiga,” kataku sambil menunjuk cangkir di atas meja. “Lima menit lagi kamu nggak muncul, aku pasti sudah ditawar sama bapak-bapak di pinggir pintu itu,”

Aku tersenyum, lalu menyesap habis minuman yang sudah dingin itu.

Kali ini, giliran kamu yang tertawa. “Kalau ada yang berani menawar kamu, aku bakal maju menawar malaikat maut. Nyawa bajingan itu biar aku yang cabut, “ Kamu mengambil sejumput rambut yang melintang di dekat mataku dan menyelipkannya di balik telingaku.

“Maaf ya, bikin kamu menunggu lama,” Tanganmu meraih pipiku dan mengusapnya perlahan.

 Dari tempatku duduk, aku bisa mencium harum tubuhmu yang memabukkan.

Sebelah tanganmu meremas jariku sampai dadaku mau pecah menahan bahagia.

 Aku benci mengatakan ini. Tapi, kamu memang tak pernah gagal menebas habis amarah di kepalaku. Betapapun jengkelnya aku.

“Kamu beruntung. Kesabaranku sudah terlatih sempurna,” Aku memberimu senyum sederhana, supaya penyesalan yang sudah tumbuh rindang itu bisa luluh lantak segera dari raut mukamu. “Kalau bukan karena kangen kamu, aku pasti sudah ngambek pulang,” 

Kamu tertawa lagi, lalu memandangku dengan senyum yang masih melekat konstan di wajahmu.

“Aku memang beruntung,” katamu singkat. Di sepasang matamu, aku melihat rindu yang serupa. Juga rasa sayang yang tumpah meluap-luap.

Bagiku, itu sudah cukup.

Kita terbungkus dalam bungkam. Terbelit oleh hening yang menunggu pudar.

Rasanya, aku masih bisa menunggumu datang terlambat di berjuta-juta senja yang lainnya.

Aku melambaikan tangan pada pelayan. Mendadak ingat kalau perutmu belum tersentuh apa-apa sejak tadi tiba.

“Mojito dan mozzarella toast seperti biasanya? Atau mau kopi hitam saja? Biar kamu tetap melek pas nyetir pulang nanti.”

Aku memecahkan sunyi yang tadi mulai terdengar memekakkan telinga.

Kamu menolak opsi yang kedua, bersikeras bahwa kepalamu belum dilibas kantuk. “Dan selain kamu, aku juga rindu pada legitnya minuman dingin itu,” tambahmu dengan mengedip jenaka.

Aku tertawa. “Tambah teh tawar hangat satu. Gula untuk mocktail dan tehnya tolong dipisah,” ujarku.

“Macet lagi, ya?” Aku bertanya padamu, setelah pelayan itu pergi membawa kertas pesananmu.

Kamu mengangguk. “Sialnya, kerjaan kantor juga belum bisa ditinggal.”

“Masih itu melulu alasanmu kalau telat ketemu aku?”

Kamu tertawa. “Itu betul. Kamu pikir aku nggak pengen cepat-cepat ketemu kamu?”

“Kamu susah dihubungi.”

“Ponselku mati. Belum sempat nge-charge saking terburu-burunya mengejar waktu.”

“Tiga-tiganya nggak aktif.”

“Dua lainnya terselip di tas kerja. Kondisi lowbat parah.”

“Maraton meeting lagi hari ini?”

“Nonstop dari jam sembilan sampai menjelang adzan Maghrib tadi.”

“Dapat tambahan target lagi?”

“Tentu. Untuk tengah tahun nanti.”

“Fiuh.” Aku menghela napas. “Baiklah. Aku lagi nggak punya energi untuk berdebat. Permintaan maafmu diterima.”

Kamu tertawa dan sengaja melepas lega keras-keras.

“Capek ya hari ini?” Aku menggenggam tanganmu. “Kalau tau kamu kepayahan begini, harusnya kita nggak perlu ketemu dulu hari ini. Biar kamu bisa langsung istirahat enak di rumah.”

Kamu balas mengusap tanganku pelan. Rasanya sungguh nyaman.

“Kamu gila. Aku bisa mati frustasi kalau sampai nggak ketemu kamu tadi. Kamu kira aku punya penawar stres selain kamu? Prozac-ku cuma kamu.”

Aku tertawa. “Sudah pintar gombal kamu. Pak Firdaus yang ngajarin begitu? Atau ada pegawai cantik baru di kantormu?”

Kamu mengedip bandel. “Kalau aku jawab yang kedua, kamu cemburu?”

“Tentu.” tukasku, melotot sampai bola mataku hampir melompat keluar.

Kamu tertawa lagi. “Aku senang lihat kamu cemburu. Kamu cantik kalau galak begitu. Biar aku jawab yang kedua ya?”

Sial. Sekarang giliran aku yang terpaksa tertawa. “Jadi biasanya aku nggak cantik, maksudmu?”

“Siapa yang berani bilang begitu?”

“Kamu.” 

“Siapa bilang? Jangan bikin kesimpulan terlalu dini.”

“Nah, jangan mulai berlagak seperti pengacara. Suka membolak-balik omongan orang,”

 “Kalau mau cari cewek cantik, aku tinggal pergi ke diskotek. Asal bawa duit, dapat teman kencan atau teman tidur bukan perkara sulit. Beda kalau cari cewek baik. Ini susah. Apalagi yang baik plus cantik seperti kamu. Taruhan, Tuhan pasti sedang dalam mood sangat oke saat menciptakan kamu,”

Aku terbahak.

“Minggu depan, ajak pegawai barumu yang cantik itu kemari. Aku penasaran, secantik apa dia sampai sukses bikin kamu jadi gombal tulen begini,”

“Siap, laksanakan,” Kamu tersenyum sambil mengangguk hormat. “Sekarang, boleh aku minta tolong?”

“Tentu.”

“Bawakan aku linggis minggu depan.”

“Untuk apa?”

“Membuka paksa pintu hatiku yang sudah kututup rapat buat kamu. Terus terang, aku lupa di mana kuncinya kuletakkan.”

Kita berdua dibuai tawa.

Sejak kecil, aku tidak pernah paham not balok dan birama lagu-lagu. Tapi di telingaku, derai dari bibirmu itu terdengar merdu. Ya Tuhan, berapa ribu malam aku terjaga dari mimpi karena suaramu itu ada di tidurku?

Kamu masih seperti dulu. Seperti saat pertama kali kita bertemu. Kamu masih menyenangkan, rekan ngobrol andalan yang sangat pandai merangkai rasa nyaman.

Dengan kamu, semua masalah di dunia ini tampak seperti lelucon anak kecil saja.

“Mau nambah pie kesukaanmu? Kamu harus banyak makan. Nggak boleh diet dulu.”

Dengan kamu, aku akan baik-baik saja.

Diam-diam, aku mulai merapal doa.

Tuhan, aku memang bukan tergolong barisan pengikutMu yang taat. Tapi, maukah Kau berbaik hati menghentikan gerak waktu supaya aku bisa seperti ini selama apapun yang aku mau?

“Nanti pasti kenyang lihat kamu makan.”

Aku menatapmu, menghitung gurat letih yang saling bersilang di wajahmu. Boleh aku membantumu menghapusnya? Bukan untuk malam ini saja, tapi selamanya.

Di luar, langit malam mulai tampak seperti kopi pekat.

Tatapan kita masih terpaku rekat.

Dengan kamu, semua ini terasa tepat.