Jumat Senja dan Setangkai Kamboja (Bagian II)

Pesanan kita datang. Aku mengambil cangkir gula cair dan menuangkannya ke dalam gelasmu.

“Setengah sendok kan? Diabet-mu nggak naik dari hasil cek minggu lalu?”

Kembali aku menyulut obrolan, sebelum aku betul-betul hilang akal dan kehilangan alasan untuk pulang.

“Kata dokter masih aman. Terima kasih,” Kamu mengambil minumanmu dan menyesapnya pelan-pelan.

“Kamu apa kabar hari ini?” tanyamu sambil mengiris roti bakar keju dan menyuapkan sepotong kecil  padaku.

“Lumayan. Selimut bikinanku sudah setengah jadi,”

“Hari ini tetap ikut kursus menyulam? Bukannya setiap Jumat kamu juga ada kelas yoga?”

“Aku belum cerita ya? Aku pindah jadwal. Kursus menyulam sekarang ganti jadi Kamis.”

“Lebih bagus begitu. Biar kamu nggak terlalu capek di ujung hari.”

Aku mengangguk. “Ada cerita spesial dari minggu ini?”

Kamu menggeleng dengan mulut berhias remah roti. Aku tertawa.

“Kamu nggak berubah ya. Nggak pernah rapi dan masih kayak anak kecil kalau makan,”

Aku menghapus sekitar bibirmu dengan serbet makan.

“Supaya kita bisa begini terus kan?” Kamu meraih tanganku dan mengecupnya pelan.

Ah. Tatapanmu bahkan masih tatapan yang itu. Tatapan mesra yang dulu.

Aku menahan napas, takut kamu hilang di hembusan selanjutnya.

“Gombal,” Aku menyahut tenang. Pura-pura tidak peduli meski kaki sudah hampir lemas karena setengah mati menahan senang.

Kamu tertawa. “Heran. Cuma kamu yang begini susah. Yang lain biasanya sudah klepek-klepek dan mogok pulang.”

“Dasar jalang,” Aku tersenyum menggoda dan kamu sekali lagi tertawa. Suara itu, ya Tuhan. Aku mulai sungguh-sungguh kecanduan!

Di luar, malam merangkak makin gelap. Dan lampu semesta yang sudah padam itu, membuat langit seperti dibungkus karpet hitam.

Aku menyesap minuman hangatku, setengah mati berharap punya kekuatan magis untuk membekukan waktu. Sebab, jarum jam seperti berlari terlalu cepat saat aku di sini dengan kamu, sementara kita tak pernah bosan melahap habis percakapan tanpa jemu. Membahas Sabtu, Minggu, dan hari-hari yang tidak pernah bisa kita habiskan bersama itu. Tentang pekerjaan, kegiatan, kesehatan, teman, lagu, buku-buku, atau film baru.

Dengan kamu, detik arlojiku seperti berdetak amat terburu-buru.

Aku memegang pipiku yang mulai kram oleh tawa.

“Kamu tahu,” kataku di sela obrolan kita yang seperti tak punya ujung itu. “Selain kualitas kepribadianmu yang menyebalkan itu, ukuran mata kita nggak pernah berubah sejak lahir.”

Kamu tergelak. “Dan menariknya, selain wajah gantengku, hidung dan telinga kita juga nggak pernah berhenti tumbuh.”

Gantian aku yang tertawa. “Kamu tahu, manusia tidak bisa bersin tanpa menutup mata?”

“Ya. Dan ketika kita bersin, seluruh kerja tubuh berhenti. Bahkan jantung.”

“Dibutuhkan lebih banyak otot untuk cemberut ketimbang tersenyum.”

“Kabarnya 43 otot untuk cemberut, dan hanya 17 otot untuk tersenyum.”

“Hanya ada sepuluh bagian tubuh yang namanya terdiri atas tiga huruf dalam bahasa Inggris.”

“Eye, hip, arm, leg, ear, toe, jaw, rib, lip, dan gum,” jawabmu. Kali ini, kamu menatapku. Memberiku sepotong senyum, lalu mencondongkan tubuh untuk berbisik di telingaku. “Bisa tolong beritahu aku sesuatu yang aku belum tahu?”

Lagi-lagi, aku tertawa.

Sial.

Bisa tolong beritahu aku sesuatu yang aku belum tahu?

Aku tersenyum sambil menelan ludah.

Sesuatu yang kamu belum tahu?

Oh. Tentu. Aku punya.

Mau aku katakan sekarang?

Aku menata napas.

Dan ponselku mendadak bergetar.

Sial.

Sial!

Kamu menatapku.

Aku tak perlu melirik nama yang berpendar di layar. Aku sudah tahu. Dan kamu pun aku yakin begitu.

Aku melempar senyum maaf padamu. Sekaligus isyarat meminta maklum darimu.

Kamu mengangguk.

Aku menekan tombol hijau, dan suara di seberang segera menyerbu gendang telingaku.

“Iya, ini sudah mau balik, Sayang. Maaf ya, kelas sulamnya diperpanjang seperti biasa… Sudah makan. Kamu?… Nggak usah jemput. Aku belum ngantuk, kok. Masih bisa nyetir sendiri… Iya, bye…”

Sambungan mati.

Juga pendar bahagia di wajahku. Dan wajahmu.

“Suamimu?”

Pintu kafe berderit terbuka. Seorang pemuda berkemeja muncul dari balik pintu, melambai pada pelayan dan mengambil tempat duduk agak di sudut.

Perasaanku sajakah atau memang ruangan ini yang bertambah dingin?

Aku mengangguk.

Kamu tersenyum mengerti.

Ah. Dadamu pasti remuk digilas nyeri.

“Nggak terasa. Sudah malam.” Kamu melirik arlojimu. “Sudah waktunya pulang.”

Aku mengangguk.

“Masih kuat nyetir?”

Aku mengangguk.

“Aku ikutin mobilmu dari belakang, ya.”

Aku mengangguk.

Kalau tahu perpisahan begini menyakitkan, apa lebih baik kita tidak pernah bertemu saja?

“Kamu mau mampir di mana buat belikan istrimu makanan?

Kamu tersenyum.

“Tadi aku bilang, aku meeting di restoran sushi.”

Aku mengangguk.

“Besok, kamu ada agenda apa?”

“Ke dokter. USG. Pengen ketemu sama yang mulai suka nendangin ibunya.”

Kamu tersenyum melihatku mengusap-usap perut yang mulai tampak seperti bukit.

“Aku selalu berharap, itu aku yang ada di sebelahmu.” Wajahmu masih berbalur senyum. “Pasti menyenangkan ya, melihat ada makhluk kecil yang memiliki hidungmu, memiliki sepasang mataku, dan memiliki hati sebaik milikmu.”

Aku melempar tatap ke jendela. Mencari titik pandang lain selain dirimu. Supaya tidak kamu lihat perih yang membuncah di mataku.

Cukup.

Malam ini, aku ingin bilang sudah pada air mata.

“Kamu? Besok ada rencana apa?” Aku menyergapmu dengan pertanyaan, supaya kerongkonganku tidak keburu diterkam kepedihan.

“Sara mau belanja. Lusa anniversary kita yang kelima.”

Aku tersenyum pahit.

Aku selalu berharap, itu aku yang ada di sebelahmu.

“Jangan lupa, bilang Sara kalau disposable panties-mu mau habis. Biar kamu nggak perlu minta aku paketin underwear. Seperti waktu kamu dinas ke luar kota kemarin.”

Kamu tersenyum dan meremas tanganku.

“Terima kasih.”

Ya Tuhan, betapa inginnya aku menghabiskan hidup bersamamu. Melewati satu hari penuh seperti saat ini. Setiap hari seperti ini.

Berdua, kita terlibas sunyi yang menyesakkan. Terbalut diam yang memuakkan.

“Jadi, sampai ketemu?”

Aku mengangguk. “Aku mau banyak tidur aja. Biar bangun-bangun udah Jumat lagi, biar cepet ketemu kamu lagi.”

Kamu tertawa. “Nggak apa-apa kalau aku terlambat lagi Jumat depan?”

Aku menatapmu. “Memang aku bisa bilang tidak?” sahutku sambil menguntai senyum. “Aku sudah sebelas tahun menantimu. Apa susahnya cuma duduk berjam-jam di sini menunggu kamu datang?”

Kamu menggenggam tanganku.

Salahkah aku jika menyayangimu dengan seluruh akal sehatku?

Kamu tersenyum dan mengusap lembut kedua belah pipiku.

“Aku sudah pernah bilang kalau aku mencintaimu?”

Detik ini, aku mohon. Tolong hentikan waktu, Tuhan.

“Mungkin kamu sudah dengar berkali-kali. Tapi, entah mengapa. Setiap mengatakannya, rasanya selalu seperti kali pertama.”

Sudahlah. Aku menyerah. Malam ini saja. Tak apa pipiku basah lagi.

Kamu mengambil kamboja putih kesukaanku dan menyelipkannya di sela-sela gulungan rambutku. Mengusap air mataku.

“Suatu hari, kamu pasti bisa belajar membenci aku. Dan saat itu, kamu harus ajari aku cara jitu melupakan kamu…”

Aku memejamkan mata.

Oh, Tuhan. Bagaimana mungkin aku melakukannya? Kamu mungkin selalu memintaku untuk bersabar. Tapi, Kamu lupa mengajariku bagaimana cara melupakannya!

Tolong beritahu aku sesuatu yang aku belum tahu…

Kalau ada sesuatu yang kamu belum tahu, itu adalah perasaanku yang tidak pernah berubah sejak dulu. Masih persis sama seperti saat pertama kali melihatmu…

Kamu meraih tanganku. Menggandengku hingga aku membuka pintu sedanku.

Di ujung senja Jumat depan, kita akan bertemu lagi. Kamu akan membawakan kamboja putih kesukaanku, dan kita akan bergumul lagi dengan obrolan hingga rindu tandas. Sampai malam kandas.

Kamu memandangku dari balik kaca mobil. Di sepasang matamu, aku menangkap rindu yang berpendar. Juga sebongkah cinta yang teramat besar.

Sudahlah.

Bagiku, itu saja sudah cukup.

Bagi kita, mungkin begini saja sudah cukup.

 

 

P.S.: This is a pure FICTION. One of the gombalest story I’ve ever written. So, keep this in your mind: When you are in love, let your logic speaks as well.😀