Surat buat Anakku

Dear Anakku,

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena badanku tak juga sembuh dari penyakitku, ingatlah bahwa itu aku yang rela menyingkirkan maut saat melahirkanmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena aku lambat mencerna penjelasanmu tentang gadget baru, ingatlah bahwa itu aku yang dulu dengan sabar mengajarimu mengeja kata pertamamu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena aku terlalu sering mengeluhkan sakit di pinggangku, ingatlah bahwa itu tanganku yang setiap malam menggenggammu, memastikan demam itu tidak lagi datang mengganggu tidurmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena aku terlalu banyak mencampuri urusanmu, ingatlah bahwa itu aku yang pertama kali mengusap air matamu saat kamu bertengkar dengan teman bermainmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena penyakitku sering meminta makanan-makanan tertentu, ingatlah bahwa itu aku yang menyuapimu saat kamu sakit dan tertidur di atas ranjangmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena lelah memapah kaki rentaku, ingatlah bahwa itu aku yang membantu mengangkatmu bangun saat kamu jatuh dari sepedamu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena letih membawaku ke dokter karena sakitku, ingatlah bahwa itu aku yang setiap hari bangun pagi untuk mengantarmu ke sekolah barumu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena bibirku mulai sering bergetar dan kesusahan bercakap denganmu, ingatlah bahwa itu aku yang mencium sayang pipimu saat kenaikan kelasmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena tanganku mulai sering gemetar dan memecahkan barang di rumahmu, ingatlah bahwa itu aku yang membantumu membersihkan darahmu saat menstruasi pertamamu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena aku sering sekali menasihatimu, ingatlah bahwa itu aku yang berdoa paling keras saat kamu menangis disakiti mantan kekasihmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena biaya sakitku menguras tabunganmu, ingatlah bahwa itu aku yang banting tulang bekerja keras demi membayar biaya masuk kuliahmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena batukku mulai mengganggu tidur lelapmu, ingatlah bahwa itu aku yang selalu menemanimu belajar dan solat malam saat kamu menghadapi pekan ujianmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena aku membangunkanmu untuk mengambilkan air minumku, ingatlah bahwa itu aku yang menungguimu pulang larut saat kamu pergi dengan teman-temanmu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena telingaku mulai kesulitan menangkap dengan jelas kata-katamu, ingatlah bahwa itu aku yang memelukmu saat kamu bertengkar hebat dengan pacarmu.

Kalau suatu hari nanti kamu malu karena penampilanku tidak seperti ibu temanmu, ingatlah bahwa itu aku yang selalu membersihkan celanamu tanpa ragu saat kamu kecil dulu.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal karena melihatku mulai sering terjatuh, ingatlah bahwa itu aku yang memeluk erat tubuhmu sebelum kamu pergi jauh, berharap dapat melindungimu dengan seluruh nyawaku.

Kalau suatu hari nanti kamu mulai bosan mengunjungiku di rumah masa kecilmu, ingatlah bahwa itu aku yang menangis haru saat kamu menikah dan memohon restuku.

Kalau suatu hari nanti kamu kesal dan ingin memakiku, ingatlah bahwa itu aku yang bertepuk tangan riang saat kamu berhasil mengucap kalimat pertamamu.

Kalau suatu hari nanti kamu sanggup membeli sekujur alam semesta ini untukku, tahukah kamu bahwa itu tak kan mampu membayar lunas seluruh kasih sayangku untukmu?

Aku tidak memintamu membayar jasaku. Tapi, setidaknya, pernahkah kamu mengingat itu?

Dan kalau suatu waktu dalam hidupmu kamu pernah berharap terlahir dari rahim perempuan yang bukan aku, maukah kamu memaafkanku yang belum sempurna membahagiakanmu?

 

 

Cium sayang,

 

Ibumu

Advertisements