Jumat Senja dan Setangkai Kamboja (Bagian III)

Kamu tegak di muka pintu rumahku saat malam sudah terbungkus pekat sempurna. Pukul dua, dan tampangmu masih saja seperti penjahat tak berdosa. Kedatanganmu yang tiba-tiba, buatmu seolah adalah persoalan yang biasa.

“Aku kangen kamu.” Begitu katamu saat mataku yang masih tersaput kantuk ini bersitemu dengan milikmu. Wajahmu mengibarkan senyum, dan nada bicaramu seperti kita sedang membahas cuaca saja.

Di depan pintu, kamu kelihatan tak keruan. Kemeja putihmu berantakan. Dua kancingnya terbuka sembarangan dan lengannya tergulung acak-acakan. Tapi di mata dan senyummu itu, aku menemukan pendar yang selalu kusimpan baik dalam ingatan. Kehangatan.

Mendadak, jantungku diterkam ribuan debaran. Tahukah kamu kalau aku sudah merindukanmu tepat sejak tautan tatap kita terlepas minggu lalu, saat terakhir kali kita bertemu?

Oh. Rasanya sudah lama sekali aku berkawan baik dengan rasa rindu!

“Kamu gila.”

Cuma itu yang akhirnya meluncur dari bibirku, supaya kepalaku tidak hilang kendali dan mengikuti perintah hati. Meraih tubuhmu, memelukmu sampai semua tulangku terasa ngilu.

“Aku tahu. Kenapa pikirmu aku menemuimu? Aku butuh kamu.” Langkahmu mendekat maju sementara kakiku praktis bergerak mengambil jarak.

“Apa maumu?”

Kamu berdiri menjulang di hadapanku dan tatapanmu itu tak pernah gagal menabuh debar di dadaku.

“Kamu. Terlalu mahalkah permintaanku?”

Mati-matian aku menahan laju jantungku supaya degupnya tidak tertangkap oleh telingamu. Seandainya kamu tahu, kalimat itu juga yang setiap malam berdengung di kepalaku. Bertarung hebat dengan akal sehatku.

“Dasar sinting.”

Seandainya aku bisa semudah kamu menyalin kejujuran di atas kata-kataku. Maafkan aku.

“Jadi sekarang kamu sudah tahu kenapa Tuhan mempertemukanku dengan kamu?”

“Jangan bawa nama Tuhan dalam hubungan kita.”

“Nah, hubungan macam apa maksudmu?”

Aku bergerak menutup pintu sebelum dinding pertahananku hancur satu per satu. Tapi tanganmu, tanganmu yang selalu meremas lembut jemariku itu, terlampau cekatan untuk membiarkanku acap berlalu.

“Begini perlakuanmu pada seorang tamu?”

Tamu, katamu? Seorang tamu harusnya tidak lancang masuk di mimpiku! Membuatku menangis diam-diam karena mengingatnya saja membuatku setengah mati menahan rindu.

“Tamu yang tahu diri tidak datang malam-malam begini.”

Kamu tertawa. Dari mulutmu, aku bisa mencium bau nikotin bercampur minuman.

Ya Tuhan, sudah berapa lama kamu keluyuran?

“Aku kangen kamu setengah mati. Aku bisa apa lagi?”

Aku melepas napas. Separuh diriku berteriak untuk menyudahi ini segera, separuh sisanya nyaris meledak bahagia.

Percayalah, akalku pun tak kurang habisnya dari kamu. Hampir mati menyemat rindu padamu.

“Besok Jumat kita pasti ketemu.”

“Maaf, aku sudah bosan menunggu.”

Aku menarik napas, setengah berharap ada kekuatan yang saat ini bisa kuhirup bebas.

“Kalau aku bisa melebarkan sedikit lagi pintu sabarku, kamu pun seharusnya juga bisa begitu.”

Betul, aku cuma tidak bilang kalau nyerinya akan terasa seperti ditembus ribuan peluru.

Kamu diam. Tapi sesuatu dalam bola matamu itu tidak juga padam.

“Itulah kamu. Dan itulah kenapa aku tidak pernah bisa melupakanmu.” Kamu tersenyum jenaka. Senyum yang biasa kamu pamerkan padaku saat kita cuma berdua.

Sudahlah. Selalu percuma berdebat denganmu. Kamu selalu kelebihan energi untuk menggoda. Dan aku, aku terlalu sayang padamu sehingga tidak pernah lihai berdusta.

“Masuk. Duduk di sini saja. Biar aku di sana.”

“Jadi, duduk pun sekarang ada aturannya?”

“Kamu kira ini rumah siapa?”

“Perlu aku beli biar duduknya bisa dekat-dekat dengan kamu?”

Aku melipat senyum. Kamu selalu begitu. Selalu menyenangkan seperti itu. Tidak pernah berubah sejak dulu, sejak kita kali pertama bertemu.

Itukah yang membuatku tak pernah bisa terbangun, sekali aku jatuh sayang padamu?

“Kalau mau lebih lama ketemu aku, duduk manis saja di situ, Tuan Selalu Benar.”

Kamu tertawa.

“Kalau semua penjahat mengancamnya seperti kamu, aku pasti betah jadi sipir penjara.”

Kali ini, giliran aku tergelak.

“Pegawai barumu pasti cantiknya keterlaluan sampai kamu rela belajar gombalan murah begitu.”

Kamu menatapku.

“Kenapa? Akhirnya ada yang tahu kamu punya mainan baru? Pegawaimu yang cantik itu?”

Kamu tertawa lagi, lalu merekatkan tatapmu padaku kembali.

“Kapan kita terakhir ketemu? Kamu juga secantik seperti saat kamu tertawa tadi?”

Mau tak mau, aku meledak lagi dalam tawa. Separuh malu karena terlalu mudah menampakkan air muka yang digenangi bahagia.

“Nah, jadi sekarang sudah tahu kenapa kamu sampai kangen aku demikian rupa?”

Senyumku bertautan dengan pendar temaram dari kedua bola matamu. Itu jugakah yang kamu temukan di sepasang milikku? Secercah rasa yang selama ini kusimpan dalam-dalam di balik degup dadaku?

Oh, dunia. Ini berbahaya. Tapi kamu, kenapa kamu membuatku jadi menikmati ini semua? Kalau tidak digariskan jadi satu, harusnya dulu kita tidak usah saja bertemu!

“Mau minum apa?”

Langit malam di luar masih dibungkus kain hitam yang legam. Tapi bintang yang biasa berserakan di atas sana, seperti jatuh di sepasang bola matamu saat kamu melumatku dalam tatapan mesra itu.

“Apa saja asal yang bikin kamu.”

“Bagus. Ini memang bukan restoran.” Aku membalas pandanganmu, setengah mati menahan letupan senang agar jantungku tidak melompat ke udara. “Dan kamu tentu masih ingat. Untuk urusan dapur, aku masih perawan.”

“Untuk urusan ranjang, aku bisa bikin kamu jadi jagoan.” Kamu menatapku nakal.

Lihat? Kamu lagi-lagi melenakanku dalam tawa. Melumuriku dengan bahagia. Kamu dan semua yang melekat dalam dirimu.

Demi Tuhan. Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Tolong ajari aku cara terbaik untuk membunuhmu dari kepalaku! Membuang jauh-jauh dirimu yang entah bagaimana selalu bisa membuatku hampir mati mengekang rindu itu.

“Aku beritahu sesuatu. Malam ini, tampangmu seperti tai. Sudah berapa gelas yang kamu tenggak habis tadi?”

Kamu tertawa. Dan aku, aku masih saja begini mudahnya kau perdaya. Merekam wajahmu sekuat tenaga dengan sisa memori yang aku punya.

Ah. Seandainya aku selalu bisa begini selamanya. Melumat habis malam dengan kamu, cuma berdua…

Tatapanmu kembali menabrak milikku. Lalu, seperti ulahmu yang tak pernah bisa kuduga itu, kamu berdiri dan mendekat padaku. Mengambil duduk di sebelaku.

“Sebentar saja.” Begitu katamu saat aku sudah hendak bangkit dan membuka mulut. Tatapan kita berkelindan. Dengar, aku bukan orang yang baru kemarin mengenalmu. Kalau sudah begitu, tak ada yang boleh menentang maumu. Jadi, ide terbaik saat ini adalah mengikuti saja keinginanmu yang tidak pernah kurang dari kerasnya batu itu.

Lalu, kamu meraih sebelah tanganku dan meremasnya pelan.

Tuhan, kalau degup nikmat di dadaku ini berdosa, biar saja aku menebusnya dengan neraka. Aku ingin begini dengannya, selamanya. Tua bersamanya.

Aku memejamkan mata. Separuh nafas meredam perintah kepala untuk membalasnya.

“Seharusnya aku tahu. Cuma kamu obat penenangku. Bukan botol-botol keparat itu.” Kamu meletakkan kepala di sandaran sofa sambil mengusap lembut tanganku. “Aku pasti membangunkan tidurmu ya.”

Aku menelan ludah, berusaha meraih kembali suaraku dengan seluruh tenaga.

“Jam berapa ini menurutmu, Orang Gila?”

Kamu tertawa. Pandanganmu masih terbuang entah ke titik apa di depan sana.

“Setiap bangun pagi kamu pasti selalu seperti ini. Tetap cantik, persis seperti yang selalu aku bayangkan.”

Tuhan. Kapan Engkau akan menyudahi ini semua?

Aku menarik nafas, mengambil segumpal besar udara agar akal sehatku tetap bekerja.

Kamu meremas lembut tanganku lagi, seolah takut aku akan lari kalau kamu melonggarkan jarimu sedikit lagi.

“Kita tidak seharusnya begini, bukan?” Kamu menoleh dan sekarang pandanganku terperangkap dalam sepasang bola matamu. Dengan sebelah tanganmu, kamu meraih sejumput rambutku dan menyelipkannya di balik telingaku.

Dan senyum itu, senyum yang melekati wajahmu itu, membuat denyut nadiku seperti berhenti tiba-tiba. Seandainya saja aku bisa membuat kewarasanku cedera dan mengijinkanmu membawaku lari dari ini semua. Berdua, kita akan melanjutkan cerita yang pernah kita mulai bersama.

Seandainya. Kapan kata itu akan lenyap dari tata bahasa kita?