Jumat Senja dan Setangkai Kamboja (Bagian IV)

“Aku seharusnya tidak membangunkanmu dengan cara seperti ini.”

Kamu menjeratku di kedalaman bola matamu.

“Seharusnya aku di sebelahmu. Memijat lembut kakimu dengan kain hangat saat kamu masih bergelung nikmat. Supaya kamu tersenyum ketika membuka mata dan aku punya alasan agar hari itu bisa pulang segera.”

Aku melepas tatap kita lekas-lekas sementara tanganmu masih likat menggenggam tanganku. Aku takut. Entah mengapa, aku takut. Takut pada apa yang selanjutnya meluncur dari bibirmu. Takut kehilangan kendali diriku. Takut kalau aku akan takut kehilangan dirimu.

Sudahlah. Kita hentikan saja permainan busuk alam semesta ini, bagaimana?

“Lalu, kita akan bergegas membuat sarapan. Di dapur, aku akan memelukmu dari belakang . Mengecup pundakmu dan sekali-dua mencuri kecup di pipimu sementara kamu mengomel karena aku tidak pernah rapat menutup botol kecap.”

Siapapun sutradaranya, boleh tolong akhiri ini semua?

“Lalu, kamu akan mengomel lagi karena aku lupa mematikan lampu kamar mandi, sembarangan meletakkan sikat gigi, tidak pernah pandai memilih sendiri kemeja dengan dasi yang serasi, dan tidak pernah bisa memakainya dengan rapi.” Kamu tersenyum menatapku. “Seharusnya kamu tahu. Aku sengaja begitu supaya kamu mau membantuku memasangkan dasi. Jadi, aku punya kesempatan untuk mencuri kecup darimu sekali lagi.” Matamu mengedip jenaka.

Aku tertawa, sambil keras berdoa agar genangan kaca di sepasang mata ini cuma akibat dari terlalu letihnya membaca.

“Kamu akan melepasku dengan senyummu dan ciuman yang kamu daratkan di pipiku. Kamu tahu, ini pasti jadi bagian favoritku.”

Aku menggigit bibir kuat-kuat. Mati-matian berharap agar asin yang mulai terasa ini cuma darah dan bukannya air mata.

“Di mobil, aku akan menemukan secarik undangan makan malam darimu. Pukul tujuh. Tepat. Artinya, aku tidak boleh terlambat. Atau tidur dengan menatap punggungmu saja malam harinya,” Kamu, masih tersenyum, berbisik di telingaku. “Bagaimana bisa?”

Tuhan, Engkau buat dari apa makhlukmu yang satu ini sehingga hatiku bisa dipermainkannya begini rupa?

Kamu memang gila. Tapi aku, aku lebih gila karena tidak tahu bagaimana cara menghentikan perasaanku pada laki-laki gila macam kamu!

“Kita akan menghabiskan malam berdua. Kamu meringkuk di pelukanku sambil menikmati secangkir teh hangat dan khusyuk membaca, sementara aku asyik nonton siaran langsung sepakbola.” Kamu meremas tanganku.

Aku? Aku bahkan masih belum berani menatapmu! Membiarkanmu melihat semburat merah yang tiba-tiba sudah menghuni sepasang mataku.

“Kamu akan mengomel lagi karena aku lupa mengeringkan kaki, atau cuma karena terlalu cepat memindah-mindah saluran televisi.” Aku menoleh padamu sehingga pandanganmu kini bersitatap dengan milikku. Sebelah tanganmu mengusap lembut pipiku. “Kamu selalu punya sekian ribu alasan untuk mengomeliku. Tapi aku, entah bagaimana, aku tidak pernah punya alasan untuk berhenti mencintaimu.”

Aku membuang pandang supaya kamu tidak menangkap kristal bening yang meleleh di lekuk wajahku.

Cukup. Cukup sampai di sini permainanmu, Tuhan. Hancurkan saja isi kepalaku, hapus bersih semua jejaknya dari ingatanku. Jangan pernah lagi pertemukan aku dengan dia  biar aku tidak begini tersiksa!

Kamu lalu merebahkan kepala di pundakku. Seperti orang yang kelelahan dalam perjalanan dan mencari rasa nyaman di sebuah sandaran.

Kemudian, kamu berujar pelan.

“Kamu pasti tahu betapa keras kepalanya aku dan betapa kencangnya nyaliku. Tapi kamu tidak pernah tahu. Aku tidak punya nyali untuk kehilangan kamu, tidak mau tahu bagaimanapun caranya itu.”

Aku memejamkan mata kuat-kuat, supaya basah ini tidak lagi punya jalan untuk keluar. Dan supaya aku tidak punya lagi gambaran dirimu, kamu yang selalu membuatku setengah mati ingin meraihmu dalam dekapanku.

Sekali ini saja, berdosakah aku kalau memeluknya, Tuhan? Memeluk dia yang memiliki hatiku segenap rupa sehingga di dalam sini tidak lagi ada sisa?

Nyalimu untukku seperti tak bertepian. Tapi aku, maafkan aku yang cuma bisa meremas lembut tanganmu. Seandainya aku bisa tegar berkata bahwa aku akan ada selamanya, berjanji tidak akan meninggalkanmu sampai akhir dunia.

Seandainya! Kapan aku dan kamu bisa lepas dari jerat keparatnya? Letih jugakah kamu menghadapi ini semua?

“Dengan dia, tidak peduli betapa baiknya dia dan bagaimana kerasnya dia berusaha, rasanya selalu ada yang salah. Tidak pernah benar.”

Kamu mengecup pundakku dan tersenyum menatapku.

“Aku benci mengatakan ini. Tapi dengan kamu, seberapa besar pun upayamu untuk membuatku marah, di mataku kamu tetap tidak pernah salah.”

Tanganmu mengusap lembut sebelah pipiku.

“Hatiku sudah habis kuberikan seluruhnya buat kamu. Jadi, maafkan aku yang tidak pernah bisa melupakanmu…”

Kamu selalu berkata, suatu saat nanti aku pasti bisa belajar membencimu. Nah, lihat dirimu dan lihat bagaimana pekatnya perasaan yang memantul di kedua bola mataku saat menatapmu. Aku akan berhasil mengajarimu cara jitu melupakanku sementara aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membencimu, pikirmu?

Malam merangkak makin tinggi sementara kita lama terbekap dalam sepi. Kamu memejamkan mata dan bersandar di pundakku. Aku sepenuhnya terjaga, bersama ribuan bayangan yang berkecamuk dalam kepala. Saat aku akhirnya mengusap rambutmu dan menghirup aroma nikotin bercampur harum tubuhmu itu, aku sadar. Aku tidak akan pernah punya alasan untuk membakar habis semua kenangan kita, membuang satu jengkal saja dirimu dari ingatanku.

Baiklah. Kita harus bagaimana selanjutnya?

“Hei.” Kamu memanggilku setengah berbisik. Kepalamu masih bersandar di pundakku dan matamu masih juga terpejam. “Tawaranmu tadi masih berlaku?”

“Tawaran apa?”

“Untuk berbaik hati membuatkanku minuman. Aku janji tidak bakal ketagihan.”

Aku tersenyum.

“Entah mengapa, di telingaku kalimatmu itu terdengar tidak meyakinkan.”

Dan entah mengapa, tanpa melihat pun aku tahu kamu tengah menahan tawa.

“Tolong jangan bikinkan aku kopi ya. Kamu saja sudah cukup membuatku terjaga.”

Pertama, kesalahan terbesarku adalah bertemu dengan kamu.

“Sudah berapa perempuan yang berhasil kamu bawa kencan dengan rayuan macam terminal begitu?”

“Banyak, kamu tidak perlu tahu. Sialnya, satu yang aku mau tidak bisa lagi jadi milikku.”

Kedua, membiarkan diriku terlalu jauh mengenalmu, jatuh terlalu dalam mencintaimu.

“Bisa aku ke dapur sekarang sebelum berubah pikiran?”

“Jangan lama-lama. Biar kita bisa begini lagi, terus berduaan sampai nanti.”

Ketiga, mengira bahwa aku bisa dengan mudah membunuh apa yang pernah kita punya, menghapus semua cerita yang sudah kita tulis bersama.

Dua cangkir teh di atas meja. Obrolan sederhana. Genggaman tangan mesra. Dan dua jantung berdekatan yang berdegup bahagia.

Menunggu pagi hanya berdua.

Baiklah. Sekali lagi, begini saja mungkin sudah cukup rasanya.

Sudah cukup bagi kita.