04 Juni

Aku tidak pernah tahu kapan tepatnya aku pertama kali jatuh sayang padamu.

Yang aku tahu cuma satu. Melihatmu saja, entah bagaimana, membuat lelahku sore ini luruh seketika.

Jadi, bukankah seharusnya langkahku ringan saja saat mataku menemukanmu duduk di beranda sana, serius membaca dan tampak luar biasa cantik seperti biasa?

Aku menebah debar di dada yang lajunya sudah sekencang lari kuda. Di depanmu, satu cangkir dan poci teh di atas meja.

Sial. Masa aku harus merapal doa untuk urusan begini saja?

“Hai, Cantik,” Aku menarik kursi di hadapanmu sementara harum tubuhmu yang memabukkan itu menarik lepas saraf penatku.

Oh. Wangi surga. Semoga, kepalaku cukup bijak untuk bekerja sama. Menyimpannya rapat-rapat dalam kepala agar bisa kuhirup lagi kapan saja.

“Telingaku yang tidak bekerja bagus atau gombalanmu memang selalu murahan begitu?”

Kamu masih tenggelam membaca. Aksara di dalamnya seperti punya perekat gaib yang membuatmu lupa bagaimana cara mengangkat kepala.

Jahanam! Kenapa justru benda laknat itu yang kamu tatap demikian rupa?

Aku mengambil cangkir kosong di atas meja dan mengisinya dengan cairan hangat dari dalam poci. “Gombal namanya kalau yang berbicara suara hati?”

Aku tahu aku bukan tipe lelaki yang bakal berdiri di depan pintu surga entah suatu kapan nanti. Tapi, sumpah mati. Dari lusinan gadis yang kukencani, oke, kutiduri, kepadamulah perasaanku betul-betul terpatri.

Kamu cuma tidak pernah mengerti.

“Jangan jajarkan aku di barisan mantan pacarmu. Gampang kemakan rayuan terminal begitu.”

Telingamu tersumbat lagu dari pemutar musik saku sementara senyummu itu menyumbat jalan nafasku.

Brengsek. Di mana aku bisa mendapat jantung cadangan yang berdetak tenang ketika berdekatan dengan kamu?

“Seharusnya kamu tahu, aku pasti dapat siapapun yang aku mau tanpa perlu susah-susah merayu.”

Iya. Kecuali kamu. Kamu yang sudah mencuri hatiku sejak kita belajar sepeda bersama dulu.

Oh, harusnya aku meminjam pundak untuk jadi penopang tangis dan sekalian meminta tisu!

Kamu tertawa.

Demi Tuhan. Tahukah kamu kalau pendar matahari seperti pindah ke wajahmu saat kamu tertawa begitu?

“Habis ini telingaku harus dicuci tujuh kali. Najis dengar kalimatmu.”

Giliran aku tertawa.

“Aku suka kalau mulai basah-basahan begitu. Basuh telinga bagianmu, basuh leher ke bawah bagianku. Mau aku bantu?”

Kamu tertawa lagi.

Aku selalu suka suara tawamu, kamu tahu. Sejak kamu terpekik gembira saat aku membuatkanmu pesawat kertas dulu.

“Lelaki jalang, dengarkan aku. Kalaupun ada yang kuijinkan berbuat begitu, akan kupastikan kalau pilihan terakhirku adalah kamu.”

Kamu tersenyum menatapku.

Sial. Pekat di sepasang bola matamu itu, Cantik, membuat denyut nadiku kian terpantik.

Aku tertawa lagi.

Inikah saat aku mulai jatuh sayang padamu? Saat aku sadar bahwa kamu membawa banyak alasan padaku untuk gembung dalam bahagia? Denganmu, seluruh jalanan seperti lantai dansa dan setiap sudut langit adalah lampu pesta.

“Kata-kata. Hati-hati dengan mereka.” Aku melemparimu dengan sebuah senyum menggoda.

Tawamu berderai. “Kamu juga sepercaya diri ini saat bersama perempuan lain?”

Tentu. Tapi aku cuma sebahagia ini saat bersamamu.

“Tentu. Bedanya, aku sudah bisa tahu ukuran baju mereka saat melewati jurus itu.”

Kamu tertawa lagi.

Aku pernah membaca, memori manusia adalah mesin terbaik di dunia. Jadi, tolong rekam baik-baik binar wajahnya saat tertawa seperti itu. Sekali ini saja, berbuat baiklah padaku.

“Salah apa aku sampai bisa ketemu laki-laki buaya seperti kamu?”

Pernah berbuat baik apa aku sampai Tuhan mempertemukan setan macam aku dengan kamu?

“Laki-laki yang kamu sebut buaya itu orang yang sama dengan laki-laki yang sore ini rela capek-capek datang ke mari?”

Suatu malam buta, kamu meneleponku. Menginterupsi mimpiku cuma karena butuh teman ngobrol sampai ketiduran. Waktu itu, kamu bilang sambil tertawa kalau kamu ketakutan setelah nonton film horor sendirian. Lain waktu, kamu meneleponku di tengah jam lemburku. Memintaku datang ke rumahmu selepas tugasku. Menemanimu membaca komik detektif favoritmu yang seram tapi bikin penasaran itu.

Mungkin, saat itukah aku mulai jatuh sayang padamu? Saat aku sadar bahwa kamu membuat kata tidak seperti lenyap dari tata bahasaku?

Laki-laki itu orang yang sama dengan dia yang kamu sebut buaya itu?

Kamu tertawa, lalu menyesap perlahan minumanmu.

Sungguh. Aku berharap, itu aku yang menjadi cangkirmu. Merasakanmu dalam jarak sedekat itu. Menyentuhku.

“Terima kasih, Al,” katamu menyebut namaku, membuat jantungku seperti melorot sampai lutut. “Kamu ini bajingan perempuan paling tengik. Tapi aku tahu, kamu berhak dapat perempuan paling baik.”

Pandangan kita bersitubruk. Setengah mati aku berusaha melepas tatapku dari milikmu. Tapi, dua biji celaka ini seperti enggan bekerja sama. Terpaku memandangmu sampai leherku nyaris kelu.

Lusinan perempuan yang mengisi daftar panjang mantan pacarku itu selalu tampak kurang di mataku. Tapi dengan kamu, entah bagaimana, kamu saja sudah cukup buatku.

Sayang, seharusnya kamu tahu. Aku tidak butuh perempuan paling baik itu. Aku cuma butuh kamu.

“Terima kasih karena sore ini kamu mau meluangkan waktu di sini.”

Empat Juni. Ini hari yang paling kamu nanti dalam satu putaran bumi. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu pergi?

Kamu menatapku. Tersenyum seperti tahu jalan pikiranku.

“Terima kasih sudah datang di hari pernikahanku ini.”

Di kedalaman bola matamu, aku menemukan debur bahagia. Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku menghancurkannya?

Aku mengangguk. Menegak isi cangkir untuk menghalau kepungan pedih yang mendadak menyergap tenggorokan.

“Kamu mau antar aku ke tempat dia?”

“Ke mana pun kamu mau, pernah aku menolak?”

Kamu tertawa, dan pijar bahagia dari bola matamu itu tumpah ruah.

“Aku harus dandan cantik. Kamu tunggu sini ya?”

Aku mengangguk lagi, seperti seorang patih yang patuh pada tuan puteri. Di dalam sini, getir meningkahi hati.

Cantik, kapan kamu mau peduli?

Di ujung sana, langit mulai menampakkan semburat warna tembaga. Dan saat kamu kembali, betul, kamu memang seperti tuan puteri. Cantik tak terperi.

Aku menahan napas. Kamu dan gaun putihmu, aku dan detak jantungku yang berlari.

Aku bisa bilang apa lagi?

“Aku cantik?”

Kamu pasti bercanda. Di telingaku, kamu seperti bertanya besok pagi matahari akan terbit di sebelah mana.

“Lebih cantik kalau nggak pakai apa-apa.”

Kamu tertawa. “Salah banget ya tanya ke bajingan macam kamu.”

Salahkah aku yang bertahun-tahun menunggumu?

“Kita berangkat sekarang?”

Kamu tersenyum.

Mungkin, inikah saat aku mulai jatuh sayang padamu? Saat aku sadar bahwa senyummu saja sudah cukup bagiku?

Kamu menyanyi sesekali di perjalanan saat mendengar lagu kesenanganmu diputar di radio seolah ini adalah wajar saja. Kamu bergerak mengikuti nada, tergelak. Tertawa menatapku yang tak kunjung berhenti menaruh sayang padamu. Merindukanmu, selalu.

“Aku sudah kelihatan hafal lagu ini? Bulan depan si suara seksi ini konser di sini,” katamu di sela senandungmu. “Demi semua komposer jenius yang hidup di muka bumi ini, aku harus bisa ikutan nyanyi pas konser nanti!” Kamu tidak menunggu jawabanku dan terus saja menyanyi.

Oh Tuhan. Kenapa bersamamu selalu terasa menyenangkan? Kamu membuatku membayangkan masa depan. Aku, kamu, dan dua anak kita di jok belakang. Yang satu cerewet tapi pintar seperti kamu, melempar komentar untuk setiap gambar yang dia lihat di jalanan sepanjang waktu. Yang satu bandel luar biasa seperti aku, sepanjang jalan sibuk memainkan rambutmu. Dan aku, aku akan sekali-dua mencuri kecup di pipimu sepanjang berdua denganmu.

Lihat apa yang telah kamu perbuat padaku. Kamu membuatku melambungkan mimpi tinggi-tinggi, lalu memaksaku melipatnya rapi-rapi.

Kamu kemudian menggandeng tanganku. Sampai langkah kita tiba di tempat kekasihmu.

Saat kamu menyentuhku tadi, kenapa seluruh waktu di jagat semesta ini tidak mau berhenti?

Kamu duduk. Lama menatap tanah rumput di hadapanmu, sementara aku di sebelahmu terpaku menatapmu. Berharap kamu mau menoleh padaku, menyadari betapa bodohnya ini dan betapa bodohnya kamu yang selama ini buta akan dalamnya perasaanku padamu. Kamu lalu menyudahi ini, dan mengajakku pergi. Tidak usah kembali lagi.

Tapi, Cantik, kamu masih saja tak berkedip memandang tanah rumput itu. Di situ, tertulis nama kekasihmu. Kekasihmu yang diam membeku, sementara aku di sini mati-matian menjagamu. Membahagiakanmu.

Selalu seperti ini. Sore ini, juga ribuan sore lain persis di 4 Juni ini, selalu akan kita habiskan seperti ini. Kamu duduk diam menatap tanah bersalut rumput itu, dan aku jadi pecundang yang tak lelah menatapmu.

Iya. Cuma menatapmu. Sampai kamu pura-pura menguap untuk menyamarkan genangan di matamu.

Cantik, aku tahu lukamu. Tapi kamu, kamu tidak pernah menyadari lukaku. Lukaku saat melihat kristal bening itu jatuh dan meleleh di pipimu. Kamu tidak pernah tahu.

“Ayo pergi.” Begitu katamu selalu.

Tapi, 4 Juni selalu tidak berujung seperti itu. Berdua, kita akan sudahi malam di tempat minum. Lalu, kamu tenggak habis-habisan cairan nikmat itu. Kamu tertawa dan kata-katai aku setiap tanganku maju menghentikan gelasmu. Dan aku, aku cuma duduk di sampingmu. Memandangmu, mempertahankan kesadaranku agar tetap bisa menjagamu. Mendengarkan semua racauan yang meluncur dari bibirmu. Ceritamu dan kekasihmu, kehilanganmu, kerinduanmu.

Saat kamu setengah sadar, saat itulah kamu paling mudah berterus terang. Dan aku selalu berharap, itu aku yang ada di kepalamu.

Aku menyelipkan sejumput rambut di balik telingamu.

Langit di luar sana sudah dibekap hitam pekat dan aku masih belum tahu kapan tepatnya aku jatuh sayang padamu.

Aku cuma tahu, harus ada yang menjagamu. Dan kalau ada orang pertama yang akan maju mengisi posisi itu, itulah aku.

Aku beranjak saat racauanmu berhenti dan kepalamu sudah terkulai di atas meja. Tertidur lelap di sana. Lalu, aku akan memapahmu dengan kehati-hatian yang amat, seolah kamu adalah porselin paling rapuh di seluruh dunia. Aku takut merusak mimpimu, meskipun aku tahu bukan aku penghuni di dalam sana. Aku antarkan kamu kembali pulang, merebahkanmu di tempat tidur. Dan saat aku menyelimuti tubuhmu yang terkulai nyenyak di sana, aku sadar. Mungkin, inilah saat aku mulai jatuh sayang padamu. Saat aku melihatmu terlelap dan yang aku mau cuma satu: menjagamu, bukannya menidurimu seperti yang biasa kulakukan pada daftar panjang teman kencanku.

Kamu kelihatan baik-baik saja, maka saat itulah aku akan bergerak pulang. Lalu kamu, kamu akan jadi orang pertama yang membangunkanku. Tertawa, mengeluh luar biasa lapar dan mengajakku sarapan berdua. Seolah kemarin tidak terjadi apa-apa, seperti semalam kita cuma pergi nonton biasa.

Jadi, aku akan bergegas bangun dengan mata memerah. Melarikan kendaraan dengan kecepatan setengah dewa, mengejar bubur ayam kesenanganmu.

Inilah aku. Aku yang tidak bisa berhenti jatuh berkali-kali menyayangimu. Mencintaimu dengan segala yang aku punya, separuh napas melumurimu dengan bahagia.

Cantik, kapan kamu akan menyadari kehadiranku, menghabiskan 4 Juni dengan terpaku menatapku dan bukannya tanah yang diam beku itu?

 

*04 Juni merupakan salah satu dari sekian banyak tulisan yang tergabung dalam proyek #ber2belas, kompilasi 12 cerpen dari 24 penulis #NBCSby. Jadi, satu tulisan dibikin oleh dua orang. Spesial terima kasih buat Mbak @hildabika yang sudah berbaik hati mengajak saya bergabung, menjadi tandem menulis untuk “04 Juni” di buku tersebut. Kami sepakat di awal, saya menulis dari sudut pandang laki-laki, sedangkan Mbak @hildabika melanjutkan dengan gaya perempuan. Nah, tulisan di atas adalah cerita tuntas versi saya, tidak bakal ditemukan dalam buku kompilasi Ber2Belas. Cerita tuntas kami berdua, tentu saja, bisa dibaca di Ber2Belas yang bisa dipesan di order.nbcsby[at]gmail[dot]com. Atau, mention @putririzkyp!😀