Satu Spasi

“Jadi, kita sudah sampai di sini, dan kamu masih belum mau kasih tau siapa laki-laki tidak beruntung itu?”

Kamu, yang duduk di sebelahku sambil serius membaca dan kelihatan cantik seperti biasa, tertawa.

“Kenapa di telingaku kamu terdengar cemburu?”

Rambutmu digelung sembarangan, nyaris berantakan. Tapi, tiap kamu tertawa demikian, tetap saja nafasku seperti tertinggal di tenggorokan.

“Oke. End of story, terima kasih banyak.”

Kamu lagi-lagi tertawa.

Dan aku semakin tak tahu dentum jantung ini harus dibuang ke mana.

“Dia fotografer. The sexiest job on earth, end of story,”

Kamu tersenyum, menatapku tepat di kedua biji mataku.

Boleh kiamat sekarang saja, Tuhan?

“Yang kirim kurir buat antar satu buket mawar ke apartmenmu, di pagi ulang tahunmu? Aku kira seleramu lebih baik dari itu,”

Kamu tertawa.

Oke, kali ini aku pasti terdengar sangat cemburu. Bangsat.

“Lupakan soal bunga. He gave me the holy bible of Backstreet Boys. Official book. And autographed. How does it sound?”

Lame.”

Kamu terbahak.

Aku selalu berharap aku hilang rasa setiap kamu memuja grup vokal itu. Tapi, aku justru hilang akal saat melihatmu berbinar begitu. Sinting.

Shut up. You just being jealous.” Masih tertawa, kamu menyesap teh hangat yang baru saja kamu beli di kedai sebelah.

Teh tanpa gula. Sebotol air putih. Dan satu potong roti buat perutmu yang banci. Tidak pernah bisa minum kopi dan sarapan nasi.

Aku menatapmu, menyimpan wajahmu di lipatan memori paling dalam sementara kamu menatap dalam-dalam halaman di pangkuanmu.

Breakfast with Socrates. Hasil berburu di Periplus. Kebiasaanmu untuk membunuh waktu saat menunggu.

Kamu memang gila. Liburan begini masih tega beli buku filsafat yang bahasanya bisa menguras setengah isi kepala.

Tapi bukankah aku lebih gila, duduk di sebelahmu dengan volume iPod di titik nol, tak punya nyali untuk menggenggam tangamu dan cuma berharap kamu tidak sengaja menyentuhku?

Pukul lima lebih tiga menit di ruang tunggu Bandara Praya, Mataram.

Sebentar lagi, kamu pergi. Meninggalkanku tenggelam dalam pusaran kenangan tiga hari di sini.

“Cabut yuk,” Cuma begitu katamu saat nomormu tiba-tiba masuk di ponselku Jumat lalu.

“Ke?” Cuma itu juga responku, berdebar luar biasa mendengar suaramu. Kamu yang tak pernah mampir di telingaku.

“Lombok. Gili. Sempurna?”

“Kapan?”

“Nanti. Flight paling malam. Bagaimana?”

“Kamu gila.”

“Nama tengahku.” Kamu tertawa. “Another weekend getaway, come on. Two tickets, booked. The cottage, booked.”

“Kamu kira aku di sini nggak punya kerjaan?”

“Terima kasih kembali. Jadi, sampai ketemu di Praya?”

Kamu adalah titik lemahku, dan aku tak pernah bisa menolakmu. Maka, seperti patih dengan prosentase kesetiaan seribu, berangkatlah aku ke Juanda, sementara kamu merayap menuju Soekarno Hatta.

Tiga hari dua malam di Gili, dengan kamu.

Dengan kamu, menemanimu minum air kelapa sambil membaca di pinggir pantai. Mendengarkan ribuan cerita tentang barisan pemujamu, yang daftarnya tak pernah berhenti berganti itu.

Dengan kamu, menunggu matahari tenggelam, lalu berlomba mencari bintang pertama yang muncul di langit selepas senja.

Dengan kamu, menjadi yang terakhir beranjak dari sunset point setelah tak sanggup lagi menghitung berapa banyak bintang di atas sana.

“Tipis-tipis aja. Nggak dosa,” katamu saat kita seminum-dua minum di pinggir pantai, usai makan di pasar malam. “Haram kan kalau mabuk. Kalau nggak mabuk, ya nggak apa-apa.”

Kamu tertawa.

Jadi, memang kamu yang seharusnya haram buat aku.

Aku menghela napas. Berharap semua bayangmu bisa lepas, dan seluruh pori ingatan di kepalaku menjadi kebas.

“Aku boleh tanya?” Kamu menoleh tiba-tiba, membuat jantungku hampir terlempar ke udara.

Ada jeda sebelum akhirnya aku terpukul sadar bahwa harum rambutmu ini bukan pengkhianatan belaka.

You just did.” Setengah mati aku melindas denyut nadi yang lajunya tak karuan. “Tumben sopan pakai ijin duluan.”

Kamu tertawa.

Harusnya kamu tahu. Dengan aku, kamu boleh bertanya atau bahkan meminta seluruh isi semesta.

“Kenapa kamu belum menikah?”

Tatapan kita bertautan. Darahku berhenti di separuh perjalanan. Lalu, tawamu kembali pecah berhamburan.

I knooow. Aku pasti terdengar sangat menyebalkan, seperti semua tante-tanteku saat lebaran,” Sepotong senyum jatuh di wajahmu, membuat semburat tembaga di ujung langit sana seperti tak bernilai apa-apa. “But, I am just wondering. Why, Nalandra Soemaprawira, the most eligible bachelor… On 6th floor?” Kamu menyebutkan lantai gedung tempatku bekerja, dan tersenyum menggoda.

Aku menatapmu, menangkap pendar bola matamu yang tak pernah mau pergi dari ingatanku. Menguras seluruh malam-malamku, dengan kamu mengisi seluruh kepalaku.

“Ra, tolong. Lebaran masih tiga bulan ke depan. Terus terang, tahun ini aku belum mengarang jawaban,”

Dari semua pertanyaan yang bisa terpikirkan oleh peradaban manusia, kenapa kamu menanyakan satu hal yang jawabannya jelas-jelas kamu, Pradnya Paramitha?

Tawamu kembali tumpah, membuat rinduku nanti menjadi lebih lama singgah.

“Apa susahnya buat kamu untuk menemukan seseorang yang pas, Dra?”

Tatapan kita kembali berkelindan.

Aku melepas napas, berharap kamu mengerti semua jawabanku di tarikan selanjutnya.

Karena hidupku sedatar meja, selurus penggaris, dan cuma kamu yang selalu penuh kejutan, Ra.

Kamu dan semua telepon “weekend getaway”-mu, yang kadang berdering di tengah meeting. Kamu dan kiriman paket berisi paspor baru, F1 Night Race pass, dan tiket pesawat PP ke Singapura di suatu pagi di ulang tahunku kedua puluh lima. Kamu yang lebih senang hidup sendiri dan luar biasa mandiri, tapi menangis waktu nonton Toy Story berdua di kamar, di weekend getaway kita ke Belitung.

Kamu yang hobi “nge-gym dan nge-gin” – begitu kamu memberi judul – sepulang kantor, tapi di suatu pagi di Ubud kutemukan bersujud di sebelah kasur.

Good morning, Sunshine.” Begitu kataku waktu itu, baru saja membuka mata dan masih terbungkus selimut  rapat. Agak terkejut mendapatimu di sana.

Kamu tersenyum. Mengenakan mukena, tampak berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya.

“Good morning, Fans.”

Ada banyak sekali alasan untuk menyayangimu. Alasan yang sama yang mungkin juga dimiliki daftar panjang para pengagummu. Tapi, saat kamu menatapku selesai sholat Dhuha pagi itu, rasanya saat itulah aku kali pertama jatuh cinta padamu.

Kamu cuma tak pernah tahu. Tak pernah tahu..

“Apa susahnya buat kamu untuk menemukan seseorang yang pas, Ra?”

Apa susahnya buat kamu untuk menyadari bahwa ada aku yang selalu menunggumu?

Kamu tertawa, lalu melempar tatap ke luar jendela kaca.

“Dra, for some people, love is like Jakarta.” Matahari sudah sepenuhnya tergelincir dan landasan bandara mulai dihinggapi titik-titik cahaya yang menyala. “The sparkling city lights, a view from above, is the only thing I love about Jakarta. You know, dari ketinggian puluhan ribu kaki, Jakarta kelihatan menarik luar biasa.”

There are two things I love about Jakarta, Ra. The lights.. And you.

“Tapi cuma dari jauh aja, Dra. Dari dekat, Jakarta is suck.”

Percayalah. Buatku, Jakarta juga tidak pernah terdengar menyenangkan.

“Cinta itu ya begitu itu, Dra. Semakin kamu dekat, semakin kamu tahu jelek-jeleknya, nggak enak-nggak enaknya, semakin kamu hilang rasa.”

Tapi, ada sesuatu tentang Jakarta, yang membuatku mengangguk bersedia jika sekarang harus diminta menyusuri semua jalanannya.

“Aku nggak ngerti ya Dra, kenapa orang-orang harus tied-up dan hidup dalam komitmen selamanya.”

Karena ada kamu di Jakarta, Ra. Separuh hatiku aku tinggalkan di sana.

“Kamu tahu rasanya mati rasa, Dra?”

Rasanya seperti setengah gila, jatuh sayang padamu sampai sedemikian rupa.

Sementara kamu, melupakan lelaki semudah meninggalkan teman ngobrol di ruang tungga bandara.

Pengeras suara menyala, mengabarkan berita-berita penerbangan yang aku tak peduli apa. Orang-orang berdiri, pergi, lalu datang lagi sementara kita masih duduk di sini.

Di ujung langit sana, bintang pertama muncul meningkahi senja.

“Hubungan itu seharusnya seperti dua orang yang tengah berjalan beriringan dan bersepatu. Sepatu itu komitmen. Tanpa sepatu, kerikil kecil saja bisa bikin kaki kita terluka,”

Kepada penumpang Garuda Indonesia…

“Dari luka-luka kecil ini, langkah kita bisa terseok dan masuk jurang.”

… dengan nomor penerbangan GA0473 tujuan Jakarta…

“Aku punya sepatu. Sekarang, sepasang sepatuku sudah aku pakai. Tinggal mencari travel partner yang pas.”

… Silakan memasuki pesawat udara melalui pintu 1.

“Beda sama kamu. Di sebelahmu, calon travel partner-mu sudah antri mengular. Tapi, kamu masih juga belum mau beli sepatu.”

Kamu tertawa, mengambil tas di sebelahmu dan melongok antrian di pintu 1.

“Kamu tahu nggak, Dra, kenapa selalu menyenangkan liburan sama kamu?” Kamu mengambil boarding pass dari kantong depan kopermu. “Karena dengan kamu, aku sama sekali nggak memikirkan komitmen. We just like two strangers, yang jalannya dipertemukan hanya karena liburan. Cuma liburan. Nggak lebih.” Kamu menatapku. “Di luar itu, kita cuma dua orang yang punya rutinitas sendiri-sendiri. Nggak ada ikatan.” Kamu tersenyum. “You know, Dra, rasanya menyenangkan. Thanks a lot.”

Kamu menatap ke luar jendela kaca, lalu memandangku. “Oh by the way, tato ini hilangnya dua minggu ya?” Kamu tertawa sambil mengusap temporary tattoo namaku di lenganmu. Hasil taruhan lantaran Spanyol jagoanmu kalah digulung Italia di game Euro kemarin.

Aku menatapmu, tapi cuma diam seperti batu.

Di suara tawamu, di pendar wajahmu. Di sanalah tempat kembalinya rinduku..

“Jadi, sampai ketemu liburan berikutnya?”

Di dalam sini, bayanganmu tidak akan bisa hilang selamanya..

Kamu memelukku, seolah aku adalah balita yang belum mengenal kata cinta. “Call me anytime kalau kamu butuh travel partner gila buat some sweet escape ya. Someday kita harus nyobain ganja di Amsterdam, kedinginan di Barcelona, lalu mengakhiri malam dengan minum bir asli Munich.”

Kamu tertawa. Lalu, melenggang begitu saja meninggalkanku yang masih duduk tak berguna.

Terluka.

Kamu bahkan tak menoleh untuk kali kedua.

Aku menatap punggungmu. Tanpa sadar mengusap lenganku, tempat namamu selamanya ada di situ. Tanpa sepengetahuanmu.

Aku menelan ludah. Menelan semua penyesalan lantaran ciut nyali untuk memberimu sebuah bungkusan.

Kado ulang tahunmu dari aku. Sebuah foto, kamu yang masih tertidur.

Di bawahnya, ada pesan pendek yang mungkin tak pernah kamu harapkan meluncur keluar dari mulutku:

Wanna see this every morning, every day, for my entire life.

Aku memutar volume iPod hingga ke titik paling maksimal.

Aku ingin tuli, supaya suara tawamu tidak bermain-main di kepalaku..

You turned me inside out and you show me what life was about, only you, the only one who stole my heart away..

The Only One milik Lionel Richie. Lagu yang kamu putar saat kita makan pizza berdua di lantai kamar..

Kalau ada satu alasan untuk membencimu, sekarang adalah waktu paling tepat untuk mengingat itu.

Aku menatap kaca jendela, menyaksikan bagaimana kamu makin jauh pergi tanpa menoleh lagi.

Tapi, urusan hati memang anomali, Ra. Ketika aku menemukan cara untuk membencimu, aku justru memilih untuk mengenang ribuan alasan kenapa aku mencintaimu..

Kepada penumpang Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA0437 tujuan Surabaya…

Karena hidup itu seperti sebuah paragraf, dan kamu membantuku menuliskan cerita.

… Silakan memasuki pesawat udara melalui pintu 2.

Dan saat kamu pergi seperti saat ini, saat itulah kamu meninggalkan satu spasi lagi di dalam sini. Menunggu untuk kamu isi.. (*)