Hari Paling Sederhana

“Di luar hujan?” tanyamu sambil mengeratkan pelukan, tak pernah bisa berkawan dengan kedinginan.

Harum peony dan pear milikmu segera menyaru dengan tulang, melucuti rindu yang selama ini kupendam setengah mati sampai ke dalam jurang.

Issey Miyake. Bahkan kesukaanmu itu pun masih tidak berubah.

“Begitu rupanya modusmu supaya bisa dekat-dekat aku? Bulan segede itu nggak kelihatan?”

Kamu tertawa sambil mencubit lenganku hingga aku mengaduh kesakitan. Tentu cuma bohongan. Kalau yang mencubit cantiknya tak kepalang, heran, yang ada justru senang, kan?

“Kamu sih murahan. Sama kamu nggak perlu modus-modusan,”

Kali ini giliran aku yang tertawa.

“Kok murahan? Kalo sama kamu, gratisan juga aku nggak keberatan,” Salah satu bantal bersarung putih itu tiba-tiba sudah menendang wajahku. “Nah, main fisik lagi. Saatnya diberi balasan yang setara,” Kukecup pipimu tanpa aba-aba. Pekik tawamu pecah sampai ke ujung dunia.

“Tolong berhenti, Laki-laki Murahan. Aku bisa bosan kalau nanti kangen kamu terus-terusan,”

Tatapan kita bertautan. Di wajahmu, terselip senyum yang memabukkan.

“Wah, itu rayuan?” Senyummu lekas menular. Kuselipkan sejuntai rambutmu di balik telingamu, sambil kukecup hidungmu pelan.

“Dengan kamu atau laki-laki manapun, aku nggak pernah susah payah merayu,” tukasmu sambil menjentikkan jari.

“Tapi yang sukses parkir dengan mulus di hatimu cuma aku,”

“Kalo aku bilang iya, kamu senang?”

“Kamu bilang enggak pun aku udah senang asal caramu menatapku konsisten seperti itu,”

Kamu tertawa, lalu mencium tipis keningku.

“Nah, apalagi ada bonusnya begitu,”

Kamu tergelak dan sebelah tanganmu mendarat lembut di pipiku.

“Kapan kamu mau berhenti ganggu aku?”

“Ganggu namanya kalo bikin kamu berbinar-binar seperti itu?”

Aku mengusap pelangi yang tiba-tiba menyemak di pipimu.

Kamu tahu, senyummu yang seperti itu tak pernah gagal melambungkan degup jantungku. Membuat dadaku terlalu kencang bertalu, hingga sakitnya nyaris seperti diiris sembilu.

“Kamu nggak berubah, selalu sok tahu,”

Anehnya, tak sedikitpun aku ingin menghentikan semua itu.

“Tapi aku selalu benar. Nggak heran kamu tergila-gila sama aku,”

“Apapun yang bikin kamu senang, Mr. Always Right,”

Aku tertawa. Kupasang seruntai senyum lalu kukecup pelan tanganmu.

I smell an absolute approval,”

I think you have some problems with your nose, Sir,

Love you, too,”

Di luar sana, malam makin renta. Dan kita berdua masih saja larut dalam gelembung tawa. Terkepung oleh bahagia yang tak berongga.

“Aku naikkan suhu ruangannya biar kamu nggak kedinginan, tapi janji jangan melonggarkan pelukan,”

Kamu tertawa.

Sudahkah kusampaikan padamu kalau suaramu seperti kafein yang membuatku ingin terus terjaga?

Do I really have a choice?”

Kamu, dibalut kaos putih longgar favoritmu, meringkuk makin dalam di pelukanku.

There are three constants in life: change, principles, and choice. Stephen Covey,”

Kuambil cangkir yang berjarak satu depa dengan sebelah tangan, kuangsurkan padamu. Tangan kiriku mengemban tugas mulia melingkari tubuhmu.

“Hmm.. Chamomile tea. Terima kasih,”

“Mana bisa tidur nyenyak kamu tanpa teh hangat?”

Kubantu dirimu meniup uap yang masih mengepul dari cangkir itu, lalu kuambil pula sepiring wafel mentega bersalut madu kesenanganmu.

“Ah. Hentikan. Jarum timbanganku bisa makin ke kanan kalau tiap malam begini terus-terusan,”

Mendadak, kita terkurung dalam jeda yang membekukan. Terkungkung oleh diam yang memekakkan.

“Aku akan lakukan apapun, bayar berapapun, supaya kita bisa begini terus setiap malam. Kamu tahu aku nggak pernah main-main tentang itu,”

Kamu menatapku.

Di kedalaman manik matamu, aku terbelenggu.

“Kamu tahu kenapa aku selalu suka warna hitam?” tanyaku, mencairkan sunyi yang seperti hampir membatu.

Kamu masih memandangku.

Aku tertawa.

That’s one serious question. Come on, jarang-jarang aku bisa serius, kan? So, make it count,

Sekarang kamu yang tertawa, lalu kelihatan serius berpikir satu jenak.

“Karena hitam mengaburkan kulit gelapmu?”

“Alasan kedua. Alasan pertama?”

Kamu tertawa.

Frankly speaking, that’s the only reason I always think of so far,”

That’s rude,”

Kamu tergelak lagi.

Darling, it is almost 1 a.m. What do you expect? Scientific answer? Thank you,”

Give me another shot, please,”

“Menyerah,”

Bad decision. I will idolize you no more,”

“Okaaay, Faans,” Kamu memekik. Separuh menahan tawa, separuhnya sudah jelas kesal.

Heran, berapa desibel pun suaramu, kerjanya selalu seperti nikotin di telingaku. Candu.

“Tik tok tik tok,”

Kamu tergelak lagi.

“Okay, karena hitam menyamarkan bentuk tubuh?”

You hurt me once again, Babe,”

Tawa kita pecah meningkahi semesta.

Aku memelukmu.

Time’s up,”

Right answer, pleaaaase,”

Aku tertawa, mengambil sebelah tanganmu dan meremasnya perlahan.

“Karena hitam adalah warna yang paling konsisten sejagat raya. Tidak punya gradasi,” kataku. “Seharusnya, begitulah perasaanku ke kamu. Sejak dulu,”

Kita berdua tergilas hening.

Am I good?” bisikku.

Kamu terbahak.

I am pretty impressed, to be honest,

I always do,

Kukecup keningmu. Lama. Berharap waktu mau berhenti saat ini juga.

“Sudah ngantuk?”

Tubuhmu melekat kian erat di dekapanku.

“Nggak mau tidur kalau lagi sama kamu,”

Lagi-lagi aku tertawa.

“Manja,”Kuacak lembut rambutmu. “Key pasti nggak semanja ini sama kamu,”

“Ah anak itu makin besaar. Sekarang, dia nggak suka lagi dibacain dongeng sama aku,”

“Oya? Apa kabar Key?”

“Dia lebih suka main instagram, sama ngecek timeline di twitter,”

Aku terbahak.

Time really flies ya,”

Couldn’t be more agree,”

“Je gimana? Kapan melahirkan?”

“Kandungannya sudah masuk delapan bulan,”

“Semoga lancar, jadi bulan depan kamu bakal punya satu makhluk lagi yang manggil kamu nenek,”

“Sampai sekarang, aku masih nggak percaya aku sudah setua itu,”

Dan aku selalu berharap, itu aku yang menua bersamamu…

“Itu karena kamu lagi di sini sama aku,”

“Kamu selalu punya masalah dengan kadar percaya diri, kamu tahu?”

Masalahku cuma satu. Aku lupa belajar bagaimana cara menghentikan laju perasaanku, sekali aku jatuh mencintaimu…

“Baiklah. Memang kamu yang paling tahu aku. What would I be without you?”

Kamu menatapku, tersenyum.

“Kamu akan baik-baik saja. Baik-baik saja..”

Begitulah katamu. Selalu. Sedikitpun tak pernah kupercaya kalimatmu.

I love you, C,”

Oh. Tell me something I don’t know,” tukasmu pura-pura jemu.

Aku tergelak, lalu mencium mesra kelopak matamu.

It’s already 2 o’clock in the morning, Sweetheart. Selamat istirahat…”

Kamu tersenyum, beringsut makin dalam di pelukanku.

“Kamu tahu apa ketakutan terbesarku hingga saat ini?”

Aku mengusap jari tanganmu, menghitung kerut yang menempel di situ. Juga uban yang makin banyak menghiasai rambut harummu.

Aku menggeleng.

“Aku takut suatu hari aku menyerah, dan memilih untuk jatuh selamanya di pelukanmu kalau kamu berbuat setitik lagi lebih banyak buat aku,” Suaramu makin lirih, tertelan kantuk yang menyerang kian gigih. “Jangan berbuat apa-apa lagi. Biarkan kita selamanya begini,”

Di dalam sini, dadaku tiba-tiba perih.

Love you, too, L,”

Kemudian nafasmu mengalun teratur.

Kupejamkan mata, dan kuhela napas dengan kehati-hatian luar biasa agar kamu tak kembali terjaga.

Kutatap lindap wajahmu yang terlelap.

Baiklah. Seperti yang selalu kau minta. Mungkin lebih baik begini saja selamanya.

Kumatikan lampu, juga jarum yang detaknya melingkari pergelangan tanganku.

Detik ini juga, waktu berhenti.

Seperti Sabtu lalu, dan ribuan Sabtu lain yang kita lewati.

Inilah hari paling sederhana. Hanya ada aku. Kamu. Dan waktu yang membeku. Dunia yang membatu.

Bahagia, anehnya, seringkali justru melibatkan hal yang paling sederhana.

Good night