Lantai Dua Puluh Lima

Pintu terbuka saat angka yang menyala di atas berhenti di dua puluh lima.

Kamu masuk dan tertawa, melambai pada entah siapa di sana dan saat itulah aku sekali lagi jatuh cinta.

Kepadaku, kamu cuma tersenyum. Tapi, aduh, kenapa perasaanku justru tumbuh semakin ranum?

Seandainya kamu mengerti. Berdiri bersebelahan denganmu begini membuat jantungku seperti mau berlari ke perut bumi. Sial, degupnya sampai kedengaran kencang sekali!

Dua puluh empat.

Harum tubuhmu menjeratku erat-erat, membuat nyaliku kian berkarat. Beginikah rasanya dilumat resah yang tak bersekat? Dengan kamu semakin dekat, semakin aku yakin mental jenderalku akan jatuh sekarat.

Dua puluh tiga.

Seharusnya aku mulai mengajakmu bicara. Supaya dingin ini tak mengacau isi kepala, dan desau napasmu tak mengacak debaran dada.

Dua puluh dua.

Sialnya, tak ada kata yang kupunya. Kamu membuatku seperti balita yang baru saja mengeja huruf pertama. Dan hening di antara kita, tak lama lagi sungguh akan memekakkan telinga.

Dua puluh satu.

Lidahku betul-betul kelu. Nyaliku membeku, dan seluruh tubuhku seperti membatu.

Kenapa tak ada yang menghentikan waktu? Biar kucairkan dulu keberanianku.

Dua puluh.

Hilang waraskah aku atau memang itu suaramu yang menyentuh telingaku?

“Baru pulang?” Kamu bertanya sekali lagi sambil menatapku. Senyum yang memabukkan itu, masih saja tersemat di wajahmu.

Aduhai. Itu sungguh-sungguh suaramu!

Sekawanan sesal langsung mendaki puncak kepala. Gila, cuma dua kata, tapi dentum jantungku jadi makin tak terhingga. Kalau kamu bernyanyi, jangan-jangan tubuhku langsung meledak sedemikian rupa!

Sembilan belas.

“Iya,” jawabku seadanya. “Kamu juga?”

Itu sebetulnya juga pertanyaan ala kadarnya.

Tapi, tak apa. Akhirnya!

Delapan belas.

“Iya,” sahutmu. “Lagi banyak lembur? Dari kemarin, kita kebetulan beberapa kali ketemu kan? Pulang jam segini juga,”

Celaka. Kamu tidak pelupa, rupanya.

Tujuh belas.

Kuputuskan untuk tertawa. Bukan tindakan yang salah, semoga.

Enam belas.

“Menjelang akhir tahun, biasa. Target makin gila, dan tenggat proyek ketatnya luar biasa,”

Aku tak percaya kalimat sepanjang itu bisa keluar juga. Mudah-mudahan tak kau tangkap ada banyak getaran di sana.

Lima belas.

Kamu mengangguk.

“Kalau nggak salah lihat, kamu sering juga mondar-mandir di lantaiku. Kantormu di dua puluh lima juga?”

Aduh. Masa aku harus mengakui semuanya begitu saja?

Empat belas.

“Kantorku di lantai dua tiga. Yang di dua lima cuma rekan kerja,”

Tuhan, boleh kuminta resepMu menciptakan lupa? Biar kuusapkan segera ke kepalanya.

Tiga belas.

Kamu mengangguk lagi.

Sempurna. Jangan banyak bicara biar rahasiamu tidak mudah terbuka.

Dua belas.

“Jadi kamu kerja di bagian?”

“Desain,” jawabku taktis. “Desainer grafis,”

Sebelas.

“Kalo gitu suka ngopi dong, buat nyari inspirasi?”

Ada hubungan apa antara desain grafis, ngopi, dan inspirasi?

Ah, ya sudahlah. Mana bisa berpikir dua kali kalau berjarak satu depa saja dengan makhluk cantik begini?

Sepuluh.

“Nggak sering, tapi ngopi lumayan membantu juga,”

Kamu lagi-lagi mengangguk.

Sembilan.

“Jeihan,”

Aku menoleh heran, membuat tatapan kita akhirnya berkelindan.

Delapan.

“Namaku Jeihan,” Kamu mengulurkan tangan, dan memberiku satu senyuman yang kuyakini sangat mematikan.

Kuberi uluran balasan.

Tujuh.

“Teguh,” Aku membalas patuh. Lalu kembali diam dengan gagu dan tetap berdiri dengan rikuh.

Enam.

“Jadi kapan kamu mau mengajakku ngopi, atau makan malam?”

Harapanku untuk beroleh nadi yang berdenyut tenang tampaknya akan semakin karam.

Lima.

Kamu tertawa, sementara biji mataku memandangmu dengan tak percaya.

“Biar kamu nggak mondar-mandir lagi ke lantai dua puluh lima, dan pulang selarut ini dengan sengaja,” jelasmu dengan ketenangan yang membuatku kian terkesima. “Kamu nggak perlu lagi berbuat begitu, selalu mencari dan menungguku,”

Empat.

Tenggorokanku masih tercekat. Nafasku sampai mau sekarat. Kutahan setengah mati supaya jantungku tetap di tempat dan tidak melompat.

Bedebah mana yang melubangi kotak rahasia yang selama ini kubungkus rapat-rapat?

Bangsat!

Tiga.

Kamu lagi-lagi tertawa.

Seharusnya, di sini dingin luar biasa. Tapi kenapa keringatku tiba-tiba sudah merambat di kaki saja?

Padahal mulutku seinci pun belum terbuka.

Dua.

“Jumat depan selepas kerja, di kedai kopi pinggir taman kota. Bagaimana?”

Aku menatapmu tak percaya. Masih tak mengerti harus berkata apa.

Satu.

Pintu lift terbuka dan kamu terburu-buru berlalu sambil melempar senyum untukku.

“Sampai jumpa Jumat depan, kalau begitu,” katamu.

Di balik pintu, aku terpaku.

Tuhan, sekarang juga boleh kutahu cara menghentikan laju waktu? Biar kuhentikan laju langkahmu, sebab denganmu nyaliku tak pernah lebih besar dari satu butiran debu…