Menyantap Sepiring Kematian

Kisah Traumatik Seorang Juru Pengecap Hitler semasa Perang Dunia II

Margot Woelk

Apa yang selanjutnya Anda baca ini adalah cerita milik seorang perempuan bernama Margot Woelk. Cerita ini, karena begitu menyakitkan dirinya, telah disembunyikan Margot selama lebih dari separuh abad, bahkan dari suaminya sendiri yang meninggal pada tahun 1990 silam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Margot akhirnya membuka suara. Beberapa bulan lalu, Margot membongkar kisah hidupnya kepada seorang jurnalis lokal Berlin yang mengunjunginya di hari ulang tahunnya yang ke-95. Margot menuturkan apa yang disebutnya sebagai tahun-tahun terburuk dalam hidupnya: tentang perannya semasa Perang Dunia II sebagai juru pengecap (food taster) salah satu diktaktor paling bengis di dunia, Adolf Hitler. Juga, tentu saja, tentang rasanya menyantap makanan dalam kekalutan, serta bagaimana dia harus belajar lagi untuk menikmati lezatnya makanan sepanjang sisa hidupnya.

Selama lebih dari dua tahun, Margot bersama 14 gadis lainnya dipaksa menjadi juru pengecap pemimpin partai Nazi itu. Mereka mendapat tugas amat sederhana, tapi sekaligus paling berbahaya dan mengancam nyawa: mencicipi makanan sebelum dihidangkan kepada the Fuhrer, memastikan bahwa semua yang akan disantapnya bebas racun.

Apa yang mereka santap sebetulnya adalah kemewahan. Kalau saja tidak ditaburi oleh bumbu ketakutan.

Ketika seluruh pelosok Jerman berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkan secangkir kopi, dan terpaksa mengulas mentega yang diencerkan dengan tepung di atas roti, Margot mendapatkan hidangan sayur-mayur yang mahal.

“Semuanya berasal dari sayuran terbaik, the most delicious fresh things. Disajikan dengan nasi atau pasta yang ditata dalam satu piring. Just as it was served to him,” kenang Margot. “Tentu saja kami semua ketakutan. Setiap hari, kami takut itu akan menjadi santapan terakhir kami. Tapi kami dipaksa, kami tak punya pilihan.”

Asal Mula

Saat itu musim dingin tahun 1941 ketika Margot (sebelumnya sekretaris) terpaksa meninggalkan apartemen orang tuanya yang terkena bom di Berlin. Di usianya yang ke-24, dia pindah ke rumah ibu tirinya di Gross-Partsch, kini Polandia. Rumahnya sangat indah, dengan taman yang besar, tetapi sialnya berjarak kurang dari tiga kilometer dari lokasi yang dipilih Hitler sebagai markas kekuasaannya – tenar dengan sebutan the Wolf’s Lair alias ‘Sarang Serigala’.

Ketika pasukan Nazi (SS) muncul di muka pintu rumah, Margot diperintahkan untuk ikut bersama mereka.

Sambil mengingat peristiwa itu, Margot dengan hati-hati menyuapkan sepotong kecil kue dengan garpu silver di tangannya. Dia kini tinggal di apartemen yang sama saat dia dilahirkan pada tahun 1917 silam, di wilayah Schmargendorf di Berlin. “Enak,” katanya. Margot harus belajar untuk menikmati makanan lagi, meski itu tak mudah buatnya.

Bersama gadis-gadis lainnya, Margot dibawa ke barak dekat Krausendorf, di mana para koki menyiapkan makanan untuk penghuni ‘Sarang Serigala’. Koki-koki itu akan mengisi sejumlah piring dengan sayuran, saus, hidangan mie, buah-buahan mewah, dan meletakkannya di sebuah ruangan dengan meja kayu besar – tempat kelima belas gadis itu akan mencicipinya. “Tidak pernah ada daging karena Hitler adalah vegetarian. Makanannya enak, sangat enak. Tapi kita tak pernah menikmatinya,” ungkap Margot.

Terjebak di ‘Sarang Serigala’

Rumor yang beredar menyebutkan bahwa sekutu berencana untuk meracuni Hitler. Karena itulah, setiap pukul delapan pagi, Margot akan dibangunkan oleh SS yang berteriak “Margot, bangun!” dari bawah jendela kamarnya. Pada pukul 11 hingga 12 siang, mereka harus mencicipi makanan. Ada jeda satu jam sebelum makanan diantar dan betul-betul dihidangkan ke markas Hitler, untuk memastikan tak ada efek apapun yang timbul pada kelima belas gadis tersebut.

Margot, dan juru pengecap lainnya, hanya dibutuhkan ketika Hitler sedang berada di markas, meski sebetulnya Margot belum pernah benar-benar melihatnya. Dia dan gadis-gadis lainnya – yang menolak bergabung ke the League of German Girls, versi perempuan dari Hitler Youth, dan para gadis yang ayahnya tidak menjadi anggota partai Nazi – terjebak menjadi pembantu Hitler. Setiap hari, suka tak suka, hidup mereka dipertaruhkan demi seseorang yang demikian dibencinya.

Melarikan diri selalu membayangi pikiran mereka. Tetapi, setidaknya bagi Margot, kabur dengan pesawat bukanlah solusi. Bom sekutu telah menghancurkan apartemennya di Schmargendorf. Suaminya Karl masih terjebak dalam peperangan, walaupun sudah sejak lama Margot menganggapnya meninggal karena tak pernah mendengar kabarnya. “Aku harus ke mana lagi? Setidaknya di Gross Partsch, ada ibu tiriku dan sebuah kasur sebagai alasku berbaring,” ujarnya.

Lalu, datanglah 20 Juli 1944. Saat itu, sejumlah tentara dan gadis pembantu tengah menonton film di tenda dekat markas ketika bom dari kolonel Claus von Stauffenberg meledak. Ledakannya begitu keras, sampai seseorang berteriak, “Hitler mati!” Apa yang direncanakan sebagai upaya pembunuhan Hitler itu sayangnya gagal belaka. “Dia cuma mengalami memar,” kata Margot, datar.

Setelah itu, keamanan di sekitar ‘Sarang Serigala’ pun diperketat. Bahkan, para juru pengecap tidak lagi diijinkan tinggal di rumah. Mereka dipaksa tinggal di bangunan sekolah kosong di dekat markas. “Kami dijaga seperti binatang dalam kandang.”

Kabur ke Berlin

Kepedihan Margot tidak berhenti pada sekapan dan paksaan atas sepiring makanan. Suatu malam, seorang tentara SS masuk ke kamar tidur Margot dengan menggunakan tangga dan memerkosanya. Meskipun dirinya tidak memberikan perlawanan saat ‘serangan’ itu terjadi, Margot mengaku tak pernah merasa se-helpless itu. “Tangga itu masih ada di sana sampai esok paginya.” Margot lalu diam, dan ini cukup menjelaskan betapa potongan kisah itu amat membekas dalam dirinya.

Setelah itu, kabar mengenai ancaman atas serangan Soviet ke ‘Sarang Serigala’ kian berembus kencang. Ketika akhirnya suatu hari tentara Soviet hanya berjarak beberapa kilometer dari markas, seorang letnan menyeret Margot ke pinggir jalan dan menyuruhnya kabur. Dia juga mengantar Margot ke kereta menuju Berlin, dan itu menjadi titik balik yang menyelamatkan hidupnya.

Setelah perang berakhir dan mereka berdua kembali dipertemukan, Sang Letnan mengatakan bahwa keempat belas juru pengecap lainnya mati ditembak oleh tentara Soviet.

Keberuntungan kembali memihak nasib Margot di tengah nestapa masa pelarian dirinya. Untuk kedua kalinya, hidup Margot diselamatkan, kali ini oleh seorang dokter di Berlin. Ketika tentara SS muncul di ruang praktik untuk mencari para buronan, Sang Dokter berbohong. Tentara-tentara itu pun pergi, dan Margot lagi-lagi lolos dari maut.

Namun demikian, jalan hidup Margot kembali dipermainkan oleh tentara saat dia kembali ke Schmargendorf. Selama empat belas hari berturut-turut, tentara-tentara Soviet memerkosanya berkali-kali, menimbulkan cedera teramat parah sehingga Margot tak mampu mengandung bayi seumur hidupnya. Dia berhenti sejenak ketika menceritakan hal ini. “Saat itu aku sangat putus asa,” bisiknya perempuan 95 tahun itu. “Rasanya aku tidak ingin melanjutkan hidup lagi.”

Bertahan Hidup

Harapan untuk hidup itu tumbuh kembali saat dirinya berjumpa lagi dengan suaminya Karl di tahun 1946. Karl terluka parah, buah peperangan dan hukuman penjara. Tapi, Margot berhasil merawatnya sehingga dia sehat total, dan mereka berdua menghabiskan 34 tahun bersama dengan bahagia.

Margot tersenyum ketika mengenang suaminya.

Cukup mengejutkan, mendapati bahwa perempuan dengan masa lalu terjal itu ternyata tidak tumbuh menjadi pribadi yang terpuruk. Malah sebaliknya, saat dijumpai, Margot tampil cantik dalam balutan sweater biru dan kalung yang terbuat dari kayu-kayuan. Dia bahkan memakai kosmetik, atau apa yang disebutnya sebagai ‘painted herself’. Margot memang mengakui, dirinya selalu berusaha menjadi sosok yang bergembira. “Aku tidak kehilangan selera humorku,” akunya. “Walau lama-lama jadi lebih sarkastis.”

Setelah mengalami perjalanan hidup yang cukup mengguncang itu, apa yang dilakukan Margot agar tidak terus terbenam dalam kesedihan rupanya sederhana saja. Dia memutuskan untuk tidak memikirkan masa lalunya  secara serius. “Itu saja yang menjadi trikku untuk bertahan hidup sampai detik ini,” pungkasnya.

Tulisan ini diambil dari artikel berjudul Hitler’s Food Taster: One Bite Awal from Death, serta disarikan dari artikel ini dan juga ini. Sumber asli artikel di atas ditulis dalam bahasa Jerman yang dapat dibaca di einestages.de.