Kopi Darat (Full Version)

kopi daratIni malam pertama aku dan dia berjumpa. Sudut tempat minum yang tenang, sepiring kue cokelat, sepoci teh hangat, dan dua cangkir di atas meja.

Kamu tertawa.

Sial. Debur gugup di jantungku ini pasti berhasil kamu baca. Atau, karut yang menggelepar di dadaku sampai di telingamu juga?

Kamu menatapku. Sepotong senyum itu masih saja melekat awet di wajahmu.

Ah. Bagaimana menggambarkannya? Aku tidak piawai menguntai kata-kata. Kamu cantik luar biasa? Kamu membuat seluruh perempuan yang dandan mati-matian di ruangan ini, entah bagaimana, jadi tampak murahan dan percuma.

Aku langkas menyesap bibir cangkir supaya semua bayang tentang kamu enyah dari kepala.

Kamu malah kembali tersulut tawa.

Nah, kali ini apa?

Aku memandangmu, melumatmu dalam tatapan yang berlumur sendu. Menikmati pendar gemintang di wajahmu, sambil setengah mati meredam letupan di jantungku.

Rasanya, dadaku terlalu sempit kalau duduk begini dekat dengan kamu.

“Dengarkan aku. Kamu harus berhenti berbuat begitu,” katamu, meremukkan diam yang membeku. Memecahkan sepi yang membatu.

Senyum di wajahmu itu, candu bagiku.

Berhenti berbuat apa, maksudmu?

“Berhenti menutup pintumu. Pintu di dalam dadamu itu.” Kamu seperti membaca isi kepalaku. Dengan senyum yang lekang menggantung di bibirmu, oh bagaimana bisa aku bangun dari kedalaman bola mata milikmu?

Menatapmu, Prozac buatku.

Ah brengsek. Aku selalu begini mudahnya kau perdaya. Menikmati pesonamu demikian rupa. Jatuh tersungkur dalam bahagia.

“Tolong buka pintu hatimu.” Kamu membalas jerat bola mataku.

Apa katamu? Buka pintu hatiku? Bercanda. Kenapa aku duduk di sini sekarang, pikirmu?

“Jangan kamu pikir aku tidak tahu. Pantatmu boleh duduk di situ, tapi hatimu kamu biarkan tertinggal di masa lalu.”

Betul. Karena sudah habis kuberikan buat kamu. Salahku, menurutmu?

Kamu menjeratku dalam sepotong senyum. Saat di wajahmu ada pelangi begitu, bertekuk lutut pun rasanya aku mau.

“Bodoh, dengarkan aku. Dia betul-betul menyukaimu, kamu tahu?” Tatapanmu membiusku. “Lupakan aku.”

Kamu bicara seperti aku ini balita yang belum kenal kata cinta.

Melupakanmu? Bagaimana bisa?

“Mau aku bantu?”

Suara itu memecah tutur cakapmu, mengoyak jejala lamunku.

Tunggu. Kamu di mana? Kamu hilang tiba-tiba. Suaranya membawamu pergi dari aku!

“Daritadi kamu seperti mengiris batu.” Dia tertawa. “Ini masakan bagus, jadi harusnya nggak sekeras itu. Aku potongkan ya?”

Daging ratusan ribu itu, entah bagaimana, masih utuh seperti sama sekali belum kusentuh. Tanpa menunggu jawabanku, tangannya sudah dengan sigap singgah dipiringku.

Kamu dengar? Suara tawanya tadi tidak semerdu milikmu.

“Nah, selesai. Selamat makan!”

Lihat. Caranya tersenyum juga tidak seenak kamu…

“Teh di cangkirmu keburu dingin…”

Namanya Adinda. Kata mereka, aku akan menyukainya. Wajah ayunya. Sikapnya. Isi kepalanya. Lubang memikat di kedua belah pipinya…

“Aku pesankan minuman lagi?

Sengaja aku pilih tempat kencan kesenangan kita supaya dia bisa membunuh semua kenangan tentang kamu. Kata mereka, aku akan bisa melupakanmu sekali dia tertawa…

“Kamu sakit? Kamu banyak diam daritadi…”

Melupakanmu? Bagaimana bisa? Sayangku padamu terlanjur membabi buta. Kehilangan kamu, perihnya tak terkira…

“Kita pulang sekarang ya? Kamu pucat, harus banyak istirahat…”

Brengsek, rasanya makin nyeri saat menyadari bahwa tidak ada yang lebih baik dari kamu…

“Biar aku yang mengantar kamu pulang…”

Ini malam pertama aku dan dia berjumpa. Dua buah cangkir di atas meja. Sepoci teh hangat, sepiring kue cokelat, dan sepotong hati yang nyaris sekarat.

Lihat, aku seperti pelari yang jalan di tempat.

Pintu di dalam sini, mungkin seharusnya memang aku tutup rapat-rapat…