Kenapa Cinta Bikin Kita Buta?

Marriage is like a violinMereka yang kenyang pengalaman pernah berkata pada saya. Kalau sudah menikah, tinggal tunggu waktu saja sampai kejelekan pasangan terbuka semua. Kesadaran itu akan menghantam kita seperti luapan banjir; pasangan tidak lagi sekeren yang dulu kita pikirkan, tidak sesempurna yang pernah kita elu-elukan.

Kemudian, katanya yang tersisa tinggal rutinitas. Bahwa pernikahan adalah setiap hari yang harus dijalankan, sebuah kurungan yang kita tak bisa melarikan diri dari dalamnya. Itulah kenapa ada orang yang suatu hari memunculkan ungkapan satir ini: Marriage is very much like a violin; after all the beautiful music is over, you still have the strings.

The beautiful music we called love.

Dan musik indah itu berhenti bukan karena pasangan mendadak berubah. Tapi lantaran cinta kita dulu terlalu membabi-buta!

Cinta buta, setidaknya di telinga saya, memang terdengar agak drama. But scientists have shown that there is a degree of truth in the old adage that love is blind!

Studi yang dilakukan oleh Dr Andreas Bartels dan Profesor Semir Zeki from the Wellcome Department of Neuroimaging dari University College London menunjukkan, perasaan cinta ternyata tidak hanya mengaktifkan wilayah otak yang khusus bertugas mengendalikan reward system. Tetapi juga membuat sejumlah area otak kita tidak bekerja; area yang bertanggung jawab atas critical social assessment dan  negative emotions. Bahkan, saat kita jatuh cinta, terjadi pula penurunan aktivitas pada sistem otak yang mengontrol negative judgements. These are the very characteristics that our prehistoric ancestors needed to anticipate a predator!

Menariknya, tim peneliti mendapati kesamaan pola aktivitas otak tersebut pada perasaan cinta yang dirasakan orang tua atas anak-anaknya (maternal love). Penelitian ini dilakukan melalui pemindaian otak dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI) pada 20 ibu muda yang diminta memandangi foto anak-anak mereka.

Hasil pindaian itu memperlihatkan, pre-frontal cortex yang berimplikasi pada social judgement tampak ‘padam’. Begitu pula bagian otak lain yang berkaitan dengan emosi-emosi negatif seperti rasa marah, ketakutan, perencanaan, serta jaringan yang biasanya melaksanakan evaluasi atas trustworthiness terhadap orang lain dan critical social assessment. Dengan demikian, tanpa disadari, perasaan cinta sebetulnya menimbulkan mekanisme dorong-tarik dalam diri kita: it pulled the strong sense of reward we feel when in love, but also pushed a tendency not to objectively see faults in the other person: our lover and our children.

So love really is blind and there is a biological basis for the blindness. Neuroscience akhirnya menjelaskan kenapa kita butuh waktu lama, sulit sekali, atau bahkan tidak bisa untuk finally see the flaws in those we idealise because of our love, and which means we can end up choosing the wrong person to commit to.

Tetapi, selain kesamaan-kesamaan tersebut, studi juga menemukan beberapa perbedaan antara romantic dan maternal love, in term of brain activities.

Pertama, pada romantic love, area otak bernama hipotalamus aktif. Ini adalah penghasil zat-zat kimia yang memunculkan sexual arousal, seperti testosteron dan hormon seks lainnya. Pada maternal love, hipotalamus tidak aktif.

Perbedaan kedua adalah bagian otak yang terlibat dalam face processing dan recognition. Wilayah ini lebih aktif pada orang tua ketimbangkan sepasang kekasih. Studi pun lantas berspekulasi bahwa cepatnya perubahan facial features pada bayi dan anak-anak dan pentingnya kemampuan membaca ekspresi wajah mereka membutuhkan pembaruan yang konstan atas face-recognition machinery, dan karenanya menimbulkan aktivitas yang tinggi pada bagian ini. Sementara itu, tidak terlalu aktifnya bagian tersebut pada romantic lover menunjukkan minimnya kemampuan untuk berganti-ganti pasangan (our lovers are meant to not change so rapidly in appearance), sekaligus menjadi indikasi neurologis bahwa kita memang didesain sebagai makhluk monogamis.

Ketiga, dibandingkan maternal love, sejumlah bagian pada otak romantic lover yang dikenal dalam theory of mind terlihat lebih aktif. Teori ini menjelaskan soal pentingnya mengetahui bahwa pasangan juga memiliki perasaan yang sama dengan kita. Tidak terlalu pentingnya bagian otak ini pada paternal love menunjukkan, meski orang tua tahu anak-anak tidak membalas perasaan mereka, ini tidak membuat mereka berhenti mencintai anak-anaknya.

Now neuroscience is telling us that our brains dumb down and rule our hearts so we rush into sex, then produce children whom we also continue to care for no matter how little they reciprocate. Maybe if we used our brains to their full capacity all the time and didn’t deactivate clear thinking and critical judgement, the species would never have got off the ground. :p

REFERENSI:

http://www.theage.com.au/articles/2004/07/04/1088879368529.html

http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/3804545.stm

Sumber gambar:

www.painfreenyc.com