Selamat Ulang Tahun, Patah Hati

“Kamu gila!” Aku setengah berteriak.

Oke, mungkin betul-betul berteriak?

Telingaku tidak bekerja baik karena dua-duanya kamu sumbat dengan satu album Creedence Clearwater Revival, grup musik favoritmu. Di selipan nada-nadanya, cuma kudengar suaramu yang tergelak.

Tawamu yang membuat jantungku lebih kencang berdetak…

“Ini ide sinting sinetron yang mana sih? Kamu lagi kurang kerjaan?”

Lantai licin ini membuat kakiku hampir tergelincir. Mataku juga tidak bekerja baik karena kamu tutup syal abu-abu sejak tubuhku baru menyentuh kursi di mobilmu.

“Tutup mulut sebentar bisa, Ya?” Kamu menggeser earphone sekian mili dan berbisik di telingaku. Nah, kan. Sekarang harum tubuhmu ikut-ikutan menyumbat kerja baik syaraf kecerdasanku. Setan!

Setan ganteng kesayanganku…

Oh. Holy crap. Gara-gara kamu, aku ketularan jadi ratu drama begini!

“Arki, nggak ada pemberitahuan di awal kalau kamu bakal bikin aku jadi kelihatan kampung begini. Habis ini, ganti rugi harga diri!”

Kamu cuma tertawa sambil menuntun pundakku, kini menaiki tangga.

Rasanya hangat.

Kebesaran Tuhan yang menciptakan senja, atau karena nafasmu jatuh di pipiku?

“Kita di mana?”

Stay sane, Aya. Stay sane.

“Sebentar lagi.”

Sial. Aku mati-matian memanjangkan akal sehatku gara-gara harum tubuhmu, cuma sependek itu jawabanmu?

“Sebentar lagi ke mana?”

Kalau aku tanya ke barisan laki-laki yang setia mengejarku, jawabannya pasti ke hatimu.

“Ke tempat tujuan kita.”

Perkenalkan, itulah kamu. Tidak suka berbelit kata, apalagi mengejar-ngejar aku.

“Dan tujuan kita adalah…”

Di sini makin dingin. Aku perlu seribu pertanyaan supaya otakku tidak membeku.

“Sesuai rencanaku,” bisikmu, mempererat tanganmu, kali ini di lenganku.

“Jadi ke manakah rencanamu?”

Berdekatan denganmu, aku perlu kafein dosis paling keras. Supaya kakiku tidak terduduk lemas dan kepalaku tetap waras.

“Setelah ini kamu tahu.”

Oke. Sangat informatif. Aku menghela napas.

Heran, masih saja perasaanku tergelincir dalam rasa sayang yang semakin menggenang. Buat kamu, batas sabarku akan kuletakkan di ujung dunia.

Kamu tertawa.

Eh, aku tadi bicara dalam hati kan?

“Jangan menghela napas begitu. Aku janji, ini sebentar lagi.”

Tanpa melepas penutup ini pun aku tahu, di sebelahku kamu pasti tersenyum. Dan ketika kamu tersenyum begitu, matahari pasti seperti terbenam di wajahmu.

Aduh, boleh aku membuka mata sekarang ya?

“Duduk dulu, Aya.”

Belum boleh menatap wajahmu?

Kamu memasangkan sesuatu di perutku.

“Oke. Aku masih belum boleh tahu sekarang kita ada di mana?”

Kamu, lagi-lagi, cuma tertawa.

“Sabar.”

Kurang panjangkah tali kesabaran yang kuulur-ulur sedari dulu ini? Perlu kutarik lagi sampai ke pucuk semesta?

“Kasih petunjuk!” Aku nyaris berteriak.

“Jangan kekanak-kanakan. Aku nggak jago ngasih tebakan.”

“Aku kekanak-kanakan? Lalu kamu sebut apa ini?”

Kamu tertawa.

Tuhan! Ampuni aku dan setiap desibel suaranya.

“Ini namanya permainan orang dewasa, Aya.”

Kamu meraba ikatan syal yang tadi kamu lilit di belakang kepalaku.

“Satu, dua, ti….”

Juga earphone yang terbenam di telingaku.

“…. ga.”

Penutup mata dan telinga terbuka. Pening yang luar biasa tiba-tiba menghantam kepala.

Hal pertama yang kulihat adalah kamu. Senyumanmu.

Para penumpang yang terhormat, lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dipadamkan…

Lalu, suara itu…

“Arki, gila. Apa-apaan kamu…”

Kami anjurkan Anda untuk tetap duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Terima kasih…

Aku dan kamu. Duduk bersama.

Lidahku seperti terpenggal jadi dua.

“Aku memang belum bisa beliin kamu permata. Tapi, Jakarta di bawah sana, semoga kamu suka.”

Aku menoleh dan menatap wajah Jakarta dari tempat yang begini tinggi. Malam hari.

Aku menahan napas.

Kerlip lampu di sekujur kota itu, memang membuat Jakarta kelihatan seperti ladang permata…

Aku berganti menatapmu. Berpikir sekeras yang aku bisa. Menelusur seluruh kepala untuk mendapat jawaban dari sesuatu yang kamu sebut permainan orang dewasa…

“Itu Jakarta. Jakarta yang sama, yang kamu lihat lekat-lekat dari atas sini saat kita kali pertama berjumpa.”

Kali pertama berjumpa?

“Kamu bilang, kamu selalu suka melihat Jakarta dari atas sini. Malam hari, tepat seperti saat ini. ”

Tunggu. Aku pernah bilang apa?

“Kamu bilang kamu suka karena kamu tahu di satu titik di bawah sana, di lautan permata itu, ada dia dari masa lalumu.”

Seseorang siapa? Masa lalu apa?

“Aku tahu aku tidak berhak berbuat begini. Buat kamu, permintaanku ini mungkin terlalu besar dan kurang ajar.”

“Arki, aku nggak ngerti…”

“… Tapi aku mau saat kamu menatap Jakarta di malam hari dari ketinggian 35 ribu kaki seperti saat ini, cuma tumpahan kelip-kelip itu yang kamu lihat. Bukan masa lalu yang menjerat.”

Kamu merogoh sesuatu dari kantong jaketmu. Kotak putih kecil.

Kotak cincin.

Napasku tertelan.

“Arki…”

Suaraku serak seperti baru tertimbun bantal tidur.

Aku mendengar bunyi  lembut saat kotak cincin itu kamu buka.

Bukan. Bukan cincin. Isinya cuma benang…

Aku menatapmu, setengah mati, tidak mengerti. Kamu cuma tersenyum dan mengikat benang putih itu di ujung jari tengahku.

Mataku yang buram atau tanganmu memang bergetar?

Lalu, masih sambil tersenyum, kamu merogoh kantong kemejamu.

Cincin.

Yang itu betul-betul cincin!

Rasanya aku butuh oksigen tambahan.

Kamu melepas cincin di bagian ujung benang yang bebas. Cincin itu meluncur mulus di sepanjang benang putih, lalu bertengger di jari tengahku.

Kamu tertawa.

“Ini seperti adegan Luke saat melamar Isabel di tempat tidur. Stepmom. Katamu, itu salah satu film favoritmu. Tidak sangat mirip, tapi anggaplah kurang lebih.”

Film favoritku apa?

“Selamat ulang tahun, Tuan Puteri.”

Ulang tahun? Siapa?

“Tahun depan, cincinnya boleh aku geser sedikit ke jari manis?”

Wajahmu berpendar karena keterlaluan bahagia.

Ini semua apa?

“Arki, kamu mabuk.. Aku nggak ulang…”

Lalu, kamu tertawa. Cukup keras sampai aku mengira kamu otakmu betul-betul kemasukan alkohol.

“Arki….”

Kamu meraih tanganku. Menggenggamnya kuat-kuat.

Dingin. Tangannya dingin.

“Aku gugup, Aya. Aku nggak pernah jago dalam hal-hal begini,” katamu.

Aku tahu, Sayang. Aku tahu kamu seperti aku tahu berapa banyak tanda lahir di badanku…

“Minggu depan, Dira ulang tahun. Menurutmu dia senang dengan ini?”

Aku menatapmu. Beku.

Dingin. Rasanya dingin…

Genggaman tanganmu, tiba-tiba terasa sakit.

***

Note: Cerita di atas dimuat dengan judul yang sama dalam buku kumpulan cerpen berjudul Ulang Tahun terbitan Nulis Buku, sebagai kado para anggota buat Nulis Buku Club (NBC) Surabaya. Ada perubahan (sedikit) dengan versi bukunya, tapi sama sekali tidak mengubah jalan cerita. Semoga suka.🙂