Loving by Example

Satu lagi pelajaran berharga dari biksu Ajahn Brahm.🙂

Usai ceramah Jumat malam sepuluh tahun lalu, seorang perempuan datang kepada saya. Dia bilang dia ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh biksu di wihara kami. Lalu dia mulai menjelaskan apa sebabnya.

Dia mulai datang ke wihara kami tujuh tahun silam. Dia mengaku saat itu tidak tertarik dengan ajaran Budha atau meditasi. Alasan utamanya datang ke sana adalah sekedar mencari alasan untuk meninggalkan rumah. Dia punya suami yang kasar. Dia adalah korban kekerasan rumah tangga yang menakutkan. Pada saat itu, dukungan dari lembaga-lembaga antikekerasan belum ada. Dalam sebuah luapan emosi, dia tidak bisa berpikir jernih jadi dia datang ke wihara dengan gagasan bahwa dua jam di wihara berarti dua jam bebas dari kekerasan.

Apa yang didengarnya dari wihara kami mengubah hidupnya. Dia mendengar dari biksu-biksu mengenai pemberian maaf yang benar – pemaafan positif. Dia memutuskan untuk mencobanya ke suaminya. Dia bercerita bahwa setiap kali suaminya memukul, dia memaafkannya dan membiarkannya berlalu. Bagaimana dia melakukannya, cuma dia yang tahu. Lalu setiap kali sang suami melakukan atau mengatakan sesuatu yang baik, berapa pun sepelenya, saat itu juga dia akan memeluknya, menciumnya, atau memberinya tanda-tanda untuk mengisyaratkan kepada suami betapa berarti kebaikan tersebut baginya. Dia sungguh-sungguh bersyukur atas kebaikan itu.

Dia menghela napas dan berkata kepada saya bahwa dia melakukannya selama tujuh tahun. “Selama tujuh tahun, dan sekarang Anda tak akan dapat mengenali pria itu lagi. Dia telah berubah 180 derajat. Sekarang, kami punya hubungan kasih yang luar biasa beserta dua anak yang hebat,” katanya berkaca-kaca. “Anda lihat tempat duduk itu?” Katanya, menunjukkan pada saya, “Minggu ini, sebagai kejutan dia membuatkan tempat duduk kayu untuk bermeditasi. Andai saja itu terjadi tujuh tahun yang lalu, dia hanya akan menggunakannya untuk memukul saya.”