Tengah Malam saat Aku Menciummu

image from etsy.comAda banyak hal di dunia ini yang seperti tak pernah diberi ruang untuk dicintai.

Malam ini, aku memutuskan untuk membenci denting sendok yang kau mainkan dalam cangkir kosong itu sejak tadi.

Setengah mati kucoba berkawan dengan dialog tanpa kata-kata di antara kita. Tapi, upayamu untuk membunuh kesunyian yang memekakkan ini rupanya lebih sia-sia.

Bukan begini semestinya. Bersamamu, aku tak pernah gagal membangun bertumpuk-tumpuk cerita. Biasanya, kamu bahkan lupa pada apa saja yang ada di atas meja karena terlalu sibuk mencari cara untuk menjegal tawa.

Kuamati cairan pahit di gelasmu yang sudah tandas tak bersisa. Pasti bukan karena suka, tetapi lebih untuk membuang jemu saja. Dan kue di sampingnya itu bukannya tak menerbitkan selera, atau tak layak rasanya. Tapi entah bagaimana, hening yang kita susun berdua ini membuatnya seolah cuma pemanis meja.

Seperti ribuan malam kita yang lalu, sedetik pun tak pernah kupindahkan tatapanku darimu. Kalau sudah begitu, rekahnya senyummu biasanya tak perlu lagi kutunggu. Melengkapi jari-jari kita yang saling berpagut itu, di dasar bola matamu kutemukan bahasa yang paling tak lihai berdusta.

Sejumput napas baru saja kuhela.

Kini lihatlah dirimu. Bahkan pandanganmu seperti ditambat di meja dengan paku.

Kamu pasti belum tahu. Isi dada ini sudah sejak tadi kuasah agar jadi sekeras batu. Tak bakal rapuh oleh apapun yang kau pendam di balik redup wajahmu itu. Atau bahkan mungkin sudah kuasah sejak kali pertama kita bertemu?

Jika ini adalah sandiwara bisu yang kau ciptakan untuk kita berdua, terus terang aku tak mampu menjadi pemeran utamanya. Bagaimana bisa kau kemudikan peran sutradara dengan begitu sempurna?

“Alin, ada apa?” Aku tak tahan. Takut terjerembab makin dalam di bisingnya kesunyian yang kita ciptakan.

Kamu tetap diam. Memilih tenggelam dalam bungkam. Tanganmu berhenti memainkan sendok dengan udara, tapi tatapanmu masih saja mencengkeram meja.

“Alin?” Kali ini, nadaku sudah tiba di ujung mengiba. Kuraih tanganmu, yang baru kusadari nyaris sedingin es batu. Kuselipkan jarimu dalam genggaman, lalu pandangan kita akhirnya berkelindan sebagai jawaban.

Sejak tadi, aku tahu betul ada lembaran kusut yang sedang menanti. Tapi saat kulihat sudut matamu itu tergenangi, aku mengerti. Cerita kita berdua mungkin akan berhenti di sini.

Bagaimanapun kerasnya hati ini kutempa menjadi batu, ternyata retak juga oleh gerimis yang turun dari kelopak matamu.

Denyut nadiku berlari. Dan jantungku, tak lama lagi kuyakin akan merosot ke kaki.

“Ruben,” katamu setelah terasa berabad-abad kutunggu. Suaramu serak seperti terganjal palu. “Ayah sudah tahu.”

Dan palu itu sekarang menghantam kepalaku. Sampai dada ini ikut merasa ngilu.

Segumpal ludah tertahan di tenggorokan. Tak bisa kutelan meski jalan napas sudah mati-matian kulonggarkan.

Aku menatapmu. Beku. Rasanya seperti diikat mati oleh bola matamu.

Pundakmu bergetar. Perutku berputar.

“Lin,” kataku, menata suara yang entah bisa keluar darimana. “Bukankah dari awal kita berdua tahu kalau buku yang kita buka ini pasti ada akhirnya?”

Bahkan bagaimana ketenangan busuk ini bisa kuperdaya, tak kurangnya membuatku terkesima. Rupanya, aku pun mulai mahir berpura-pura.

“Akhir buku biasanya bahagia.”

“Tidak juga. Kecuali aku pangeran dan kamu Cinderella.”

“Tapi ini nggak adil, Ben.” Nada suaramu meronta. “Kenapa kita nggak dipisah di tengah buku aja? Kenapa harus nunggu sampai selesai cerita, saat kita berdua sudah kenal begini dekatnya?”

Aku tersenyum, terpaksa. “Kita bahkan sudah dekat sejak kamu belajar mengeja, Lin. Ingat?”

Kamu menggigit bibir, seolah sakitnya bisa menyamarkan rambatan getir. Di matamu yang biasa bergelimang cahaya, kembali kutemukan selapis kaca.

“Bagaimana rasanya hidup tanpa kamu, Ben?”

Bagaimana aku bertahan hidup tanpa kamu, Lin?

Aku melepas tautan tangan kita, supaya gemetar dari tanganku yang datang tiba-tiba ini tak singgah di sana.

Kulemparkan sebuah tawa, agar kristal bening yang bergantung di ujung mata ini hilang tertelan udara.

“Lin, jarak rumah kita masih satu kayuhan sepeda.”

Sekali lagi, ketakutanku yang sudah mengendap terlalu matang ini berhasil kubungkus rapi dalam semacam drama berseri.

Lalu, lapisan kaca di pelupuk matamu mendadak pecah. Serpihannya membuat wajahmu basah.

Dengan terisak, kau sampaikan hal yang membuat kepalaku terlindas sesak.

“Ayah pengen ketemu kamu. Ayah mau kasih kamu sarung dan sajadah.”

Matamu yang sembab itu kini menatap kolong meja, seolah maaf ayahmu bisa dicari di sana.

“Beliau memberi pilihan lain?” Aku menahan napas.

Kamu mengangguk pelan. “Kalau tidak, bulan depan aku akan dikirim sekolah. Ke Belanda.” Untuk pertama kalinya, kamu meremas tanganku. Dan, anehnya, justru kali ini aku kehilangan nyali. Tanganmu tiba-tiba tampak seperti keramik rapuh yang akan hancur dalam sekali sentuh.

Kamu menatapku. Dari situ, aku tahu bahwa bagimu masalah ini sudah mendapat titik temu.

Sebongkah napas kugebah.

Lin, kamu salah. Perbedaan kita, kamu pun pasti tahu, lebih dari urusan sarung dan sajadah.

“Jadi kapan kamu mau ke rumah? Ketemu ayah?”

Kamu selalu menjadi simpul matiku, Lin. Kamu pun pasti tahu.

Kutarik tanganku dari genggamanmu, selembut yang aku mampu.

Tapi, bahkan simpul yang baik dan kuat sekalipun harus mudah dilonggarkan dan diuraikan, kan, Lin? Meski untuk itu kuku kita mungkin harus patah dan berdarah.

Kamu menangis. “Aku nggak pernah percaya Tuhan ada di atas sana, Ben. Yang aku percaya, Dia ada di sini. Sedekat ini,” Kamu menunjuk leher dengan jarimu.

Aku mengangguk.

Seandainya sepakat soal itu saja sudah cukup ya Lin…

“Ben,” ujarmu sambil menatap mataku lagi. “Apakah menurutmu Tuhan pernah salah meletakkan takdir?”

Entah untuk yang ke berapa kalinya, suaraku tersesat. Dan dalam kondisi senyalang singa, mataku mendadak terasa berat…

Aku menggeleng.

Tuhan terlalu besar untuk berbuat salah, Lin… meski kamu bukan seperti pembatas buku yang bisa dengan mudah dicari penggantinya olehku.

“Ayo pulang, Lin. Sudah jam sepuluh. Aku nggak mau bikin ayah dan ibu khawatir.”

Aku bangkit tergesa-gesa, sementara sakit di dalam sini kutahu akan tinggal selamanya.

Dalam kesunyian yang kaku, kuantar kau pulang dari kedai minum tempat kita biasa diam-diam bertemu.

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa kita benci. Kebanyakan pasangan membenci pertengkaran, padahal kemesraan termewah justru datang di ujung perdamaian. Kebanyakan orang membenci perpisahan, padahal tanpa itu mereka tak akan tahu bagaimana caranya menghargai pertemuan.

“Ben, tolong jangan pergi ya,” katamu setibanya kita di depan pintu pagar rumahmu.

Aku ingin mencoba tertawa, tapi mulutku seakan terlalu berkarat untuk sekedar memasang senyum paling pura-pura.

“Jangan manja,” ujarku, setelah bibir ini setengah mati kupaksa terbuka.

“Kalau kamu pergi, siapa lagi yang aku tunggu di depan pintu? Yang setiap hari kasih ucapan selamat pagi?”

Kalau tidak ada kamu lagi, buat apa aku susah payah bangun pagi, Lin? Kamu kira alasanku selama ini karena ingin melihat terbitnya matahari?

“Penjual bubur ayam di ujung gang, asal kamu berhenti minta tambah kerupuk.”

Kata siapa berbeda itu indah? Orang tolol manapun yang menciptakan lelucon itu harus merasakan sakitnya melihat hujan yang turun dari sepasang matamu.

“Ben, jangan pergi ya?”

Malam ini, mungkin aku harus mulai belajar untuk mengurai simpul matiku. Melepasmu. Menghapus mimpi untuk selamanya berdua dengan kamu.

Lin, maafkan aku..

Di depan pintu pagar rumahmu, aku mempertemukan bibir kita. Pipiku mendadak basah, dan aku tahu asalnya bukan dari tangisanmu yang belum berhenti pecah.

Jangan lagi menunggu selamat pagi dariku, Lin. Semoga kamu tahu. Aku mengakhiri rasa yang tak selesai itu, tengah malam ini saat aku menciummu. Mengurai simpul matiku…