Pagi yang Tak Selesai (Bagian 1)

I have this over-attention to orderliness, neatness, and details. Meski belum sampai di wilayah ekstrem obsessive-compulsive personality disorder, following compulsion to make lists and schedules is something I find desirable.

Setidaknya sampai aku bertemu dia. Manusia paling spontan, santai, berantakan, dan pantang dengan apapun yang bernama rencana. Laki-laki yang, kupertaruhkan dengan seluruh leherku, saat ini mungkin sedang terpingkal sampai terjengkang. Di telinganya, kalimatku tadi pasti kedengaran seperti pengakuan secara sadar bahwa di hidupku yang serapi daftar isi ini, justru dia yang kupilih sebagai pembatas buku. Pengingat untuk beristirahat, sekaligus penanda bahwa ketika aku butuh jeda, padanyalah apa yang kucari berada.

Hell, did you just put alkaloid drug on my drink so that I came up with those hallucinogenic and delusional random thoughts?

“No more drink, Rajendra Soemoprawiro,” kataku di sela-sela tawa. Setelah gelas kedua, aku memutuskan untuk berhenti menerima apapun yang meluncur dari botolnya sebelum kepala ini terbenam amnesia. “Jangan ngeracunin lagi deh. I didn’t even plan to come to this party,”

“So what did you plan for this Friday night? Baca novelnya Mitch Albom sampai ketiduran? That was mine when I was 15,”

There are these types of person you will always meet at every party. Ada si anti-socialite yang trying so hard not to be noticed, food truck connoisseurs yang oportunis dan fokus numpang makan gratis, Ada juga this clown of the crowd yang tak pernah gagal jadi point of attention, sosok paling mudah dicari karena selalu under the spotlight.

Jan belongs to the last.

And this party clown is now sitting next to me, dengan percaya diri melempar tatapan yang efeknya pada jantungku akan persis kuatnya seperti menenggak habis cairan keemasan di botol dalam genggamannya itu.

“Pas umur 15 tahun, kamu baru berhenti ngompol di kasur, Stupid Moron. Dan perutmu belum sebuncit sekarang. Do you even know that?”

Dia tertawa. Bukan jenis tawa yang akan diajarkan pada nasihat soal tata krama. Tapi, jenis tawa itu akan membuat kita akhirnya sadar bahwa otak ini ternyata ada gunanya. Misalnya memikirkan bagaimana mendapatkan lelucon serupa supaya tawanya yang seperti tadi itu bisa diulang dan direkam dengan baik di kepala.

“Perutku buncit? You sure? Stop acting like you have seen me naked.”

“I have seen you naked, Jan,” Aku membalas senyumnya, sambil setengah mati berdoa agar getar dalam suaraku barusan tak tertangkap telinganya.

“Waktu aku dan Bara belajar renang bareng kelas 2 SD dulu?”

Bara, adikku. Dia punya sahabat yang sudah nempel sejak SD sampai sekarang. Jan, lovable bastard satu itu, kakak sahabatnya. Aku sungguh beruntung, tak perlu gengsi naksir cowok yang lebih muda dan bebas dari cemooh Bara.

Sejumput tawa kugebah ke udara. Jenis tawa yang mungkin tak bakal membangunkan kawanan kupu-kupu di perutnya, seperti respon tubuhku atas miliknya.

Shit. Does it sound like something you might call desperation?

“Ulang tahun Bara ke-23. Kamu kalah taruhan dan ketiduran di kamarku. Waktu kamu pergi pagi-pagi, bau kasurku sudah nggak ada bedanya sama aroma pub,”

Selama lima detik, Jan terpaku menatapku. Lima detik yang kalau saja bisa kusimpan selamanya.

Desperate again, I know.

“Tolong jangan bilang kalau aku juga muntah.”

“On my beautiful, Marks & Spencer black dress. Regular price.”

Kali ini, tawanya yang pecah ke udara.

“Bagaimana rasanya?”

“Dapat muntahan seorang pecundang malam itu?”

“Bukan. Melihatku telanjang,” Keparat itu tersenyum menggoda, dan aku terpaksa harus meminjam seteguk kewarasan dari botol yang dia letakkan di atas meja.

“Shaken or stirred?” tanyaku bercanda, berusaha mengaburkan fakta bahwa aku berbohong dua hal padanya.

Pertama, he looks great.

Damn shit, Jan. You always look great.

Malam ini, dia mengenakan jins dan kemeja putih yang lengannya sudah tergulung sampai siku. Dengan rambut keritingnya yang mengingatkanku pada Orlando Bloom, sepasang tatapan tajam, dua titik di pipinya yang terbenam saat dia tertawa, juga pipi dan dagunya yang tender and scratchy, maka percayalah cuma perempuan tolol yang akan menolak melihatnya telanjang.

Dia tertawa.

“Office babe nggak usah belagu. ‘Shaken, not stirred’ is bullshit when it comes to cocktails that only use spirits. Stirred Martini will get you drunk and laid faster. That’s my best advice and that’s free,”

Kedua, I actually planned to come to this party.

Aku cuma tak mau dia tahu bahwa sengaja kuamankan jadwal malam ini supaya bisa datang dan melihatnya di sini. Kenapa aku sudi membiarkan gaun terbaikku tergantung di lemari untuk pesta di skyscrapper tertinggi ibukota ini sementara apa yang melekat di badanku tak ada bedanya dengan mereka yang kerja di gedung bursa?

Lagipula, aku sudah terlalu lelah pada pertemuan-pertemuan kita yang tak terencana.

Hidupku sudah bertalian dengan miliknya sejak aku belajar mengeja. Tapi dia pasti tak tahu, tawa lepas miliknyalah yang meremukkan debur teratur di jantungku untuk kali pertama.

Lihat, Jan, aku bahkan tak pandai melipat rapi kenangan tentangmu di bagian terdalam kepalaku ya?

“And one more lesson. If a person is looking into your eyes for more than 5 seconds without blinking, he or she either wants to kill you or have sex with you,” katanya sambil tersenyum, membalas tatapan yang secara tak sadar kurekatkan padanya sejak tadi.

Tergesa, kubuang pandangan ke wilayah yang lebih aman agar sepasang mata elangnya itu tak membuat denyut nadi ini makin kencang berlari.

“Funny.”

Tapi debaran yang kamu bikin di dalam sini sama sekali nggak lucu, Jan.

Dia tertawa, lalu kembali menyekapku dalam bola matanya yang hitam. Dalam. “Oryza Sativa, berapa umurmu sekarang?”

“Maksudmu?”

“Berapa?”

“25.”

“Lord. We are just a year away dan baru hari ini aku menyadarinya. Sejak kapan kamu punya mata sebulat itu?”

Tatapan kami bertalian. Dari dalam ruangan, lagu Here for You milik Firehouse masih samar-samar terdengar.

Sayangnya, kesunyian di antara kita yang memekakkan ini, tak boleh dibiarkan lebih lama lagi bertahan.

“Sejak kamu punya lemari lost & found sendiri buat baju-baju mantan pacarmu yang ketinggalan di kamar.” Aku mengedikkan bahu. Pura-pura tak peduli meski dadaku bergetar setengah mati.

Tawanya terhempas lagi ke udara, membuat gelas berisi air putih itu terpaksa kutenggak agar kewarasan ini tetap terjaga.

“Apa yang bikin kamu datang kemari?” tanyanya setelah berhasil meredakan tawa.

Melihatmu, ketemu kamu. Bodoh, apalagi menurutmu?

Kuceraikan tatapanku dari sepasang miliknya. “This engagament. Congratulations to you and your fiancee.” Aku sudah merancang kalimat itu sejak minggu lalu, termasuk bagaimana kalimat itu harus kuutarakan, tampang seperti apa yang harus kutampilkan, senyum seperti apa yang harus kupasang, genggaman seerat apa yang perlu kuberikan, pakaian apa yang akan kukenakan, juga apa yang berikutnya harus kulakukan. “But the free drinks are actually attracted me the most. What else do you expect?”

Jan tertawa, mendorong lengan kemejanya agar tetap tergulung di siku. “I didn’t even plan this, O. Rachel did.”

Bukan begini semestinya rencanaku.

“Then you should say thanks to her.”

Usai mengucapkan selamat, apa yang kurencanakan selanjutnya adalah mengambil kunci dari dalam tas dan bergegas pulang. Isi bensin dan mampir sebentar di  drive-thru restoran cepat saji sebelum roda mobilku menggilas jalanan muka gerbang apartemenku.

Bukan lama-lama menikmati bentuk bibir dan rahangnya yang serasinya keterlaluan begini.

Sekawanan gugup menyerang ujung jari kakiku.