Pagi yang Tak Selesai (Bagian 2)

“Are you still a list-maker, O?” tanyanya.

Aku memandangnya. “Every hour in my everyday.”

“Wow,” Dia tertawa. “How can you live with that?”

“Kenapa nggak bisa?”

“Karena,” Dia menggeser duduknya makin dekat, sehingga tugas menjaga akal sehat jadi semakin berat. “No matter how hard you try to organize every inch of your life, shit happens. Shit always happens.”

Seperti saat itu, saat harum tubuhnya mulai mencederai isi kepalaku.

“Aku selalu punya backup plan everytime shit happens.”

“Then if you didn’t plan to see me here, apa rencanamu malam ini?”

“Is this a tricky question to know whom I spend my Friday night with?”

“Are you happy if I say yes?”

Could I be more happy than that night?

“This is crap ya, O?” Bibir yang tengah kukagumi itu berbicara padaku.

Detik itu, aku tergagap. “Apanya yang ‘ini’?”

“This party, and the way I proposed my fiancee last week. She even made the plan for that moment to me.”

“Itulah kenapa aku heran mau-maunya Rachel menyerahkan jari manisnya buat kamu. Aku orang ke berapa yang bilang begitu?” Usahaku membubarkan orkestra degup yang bermain di dalam dada ini, saat itu gagal total kuakui.

“Actually you are the first,”

Aku tertawa. “No way possible,” balasku. “Jan, kamu harusnya nonton Stepmom dulu to see the sweetest idea of how to propose a woman.”

Dia tertawa.

“Shit happens, O. No matter how hard you try to stick to your plans, shit alway happens.”

Jadi begitulah cara Tuhan memutuskan untuk mempertemukan aku dengan dia lagi malam itu.

Seminggu kemudian, aku mendengar pertunangannya dibatalkan.

Satu bulan setelahnya, Jan datang ke rumahku. Membawa kotak berisi benang, seperti yang dilakukan Luke Harrison di film Stepmom saat melamar Isabel di tempat tidur.

Bahkan setelah dua tahun berjalan pun, aku masih tertawa begini keras mengenangnya.

Semesta ini sepertinya terlalu cepat sepakat untuk berkonspirasi denganmu ya, Jan. Tuhan saja meminjam caramu yang bagiku tampak tak terencana untuk menyatukan kita.

Pagi ini, aku kembali menarik kursi di ruang makan, duduk dan menyesap teh krisan hangat sendirian sambil menikmati sepotong roti berulas mentega. Rutinitas memang punya potensi luar biasa untuk menyiksa. Tapi, apa boleh buat. Selalu aku yang lebih dulu terjaga ketika hari masih begini buta.

Setelah berjingkat bangun pukul lima tadi, kunaikkan suhu ruangan agar dia tak terbangun dalam gigil kedinginan. Apa saja yang kulakukan berikutnya pun sudah kuhafal di luar kepala. Merapikan sisa-sisa ulahnya. Botol krim pencukur yang dibiarkan terbuka. Bungkus silet yang belum dibuang. Sabun pembersih muka yang tak tertutup rapat. Handuk yang tersampir dalam dua lipatan di jemuran.

Aku menghela napas. Beruntung, menata kesabaran hingga ujung kepala buatku sudah bukan lagi prestasi istimewa. Bersamanya, nilaiku untuk itu memang tak pernah jauh dari kata sempurna.

Jadi, cukuplah aku tersenyum saat mendapati bahwa tingkahnya itu selalu tak berhenti sampai di sana. Ruangan televisi, seperti yang sudah kuduga, berantakannya luar biasa.

Kunyalakan musik yang iramanya menenangkan. Sudah lama ia kupercaya sebagai kawan baik penggugah suasana hati, terutama dengan barang-barang yang dia bikin berpindah-pindah tempat tak keruan begini.

Sepatu futsal di atas karpet. Gelas dan piring kotor di atas meja. Selimut linen yang tersampir berantakan di atas sofa. Juga kulit kacang berceceran yang kukira sisa nonton semalam, sebab kepingan film yang biasa kususun rapi di rak alfabet itu mendadak bertumpuk di dekat sofa hingga setinggi meja.

Setelah semuanya beres tertata, di sinilah aku seperti biasanya. Berkebalikan dengan Jan yang tergila-gila setengah mati, perutku yang banci ini tak bisa sedikit pun bisa tersentuh pekatnya kopi.

Di pintu kulkas, seperti biasanya, kutemukan tulisan tangannya dalam secarik kertas. Ucapan selamat pagi yang tak pernah gagal membuatku mengulum senyum seperti ABG terbuai asmara.

Lihat, aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu, Jan. Sekali aku jatuh menyayangimu terlalu dalam…

Alarm dari ponselku berbunyi.

Pukul enam. Seperti biasa, saat inilah aku akan kembali ke kamar dan menggodanya sekuat tenaga agar mau membuka mata.

Sayangnya, masih tak kutemukan siapa-siapa di sana. Selimut itu pun letaknya tak satu inci berubah, masih persis sama seperti saat tadi kutinggalkan di pukul lima.

Seperti kemarin, kemarin lusa, dan ratusan pagi yang meninggalkanku begitu saja.

Aku duduk di sisi tempat tidur.

Biasanya, kamu akan mengeluh manja dan menuduhku memainkan jarum jam di atas meja.

Kepalaku mendadak tergilas nyeri.

Kamu juga meninggalkanku begitu saja, setahun lalu saat aku gagal membangunkanmu. Kamu menolak terjaga, dan memilih untuk tidur selamanya.

Ponsel di dalam kantong piyamaku bergetar. Seperti kemarin, kemarin lusa, dan ratusan pagi yang menyalin caranya dengan meninggalkanku begitu saja.

Saat menyatukan kita, Tuhan meminjam caramu yang bagiku tampak tak terencana. Dan begitu jugalah caraNya memisahkan kita. Tiba-tiba, tak terencana.

Kenapa untuk kali itu saja kamu masih tak mau membuat rencana, Jan?

“Selamat pagi, Kak,”

Bara, adikku.

“Hai, Bara. Selamat pagi. Bikin sarapan apa mama hari ini?” Aku berjalan ke sisi jendela. Duduk di tepiannya, merasakan kehangatan pertama yang menembus celah-celahnya.

“Lebih enak dari bikinan Kak Osa sih yang jelas,” Bara terkekeh.

Aku tertawa.

Terkadang aku benci bagaimana dia bisa mendadak mengingatkanku padamu, Jan.

“Nanti aku pitching nih, Kak. Makanya khusus hari ini, kita gencatan senjata dulu biar Kak Osa bisa banyak-banyak kirim doa buat aku ya.”

Aku tertawa lagi.

“Wish me a good luck ya Kak,” katanya masih dalam nada ceria yang tak sedikitpun berkurang kadarnya. “I hate to say this but I do really miss you. Please berhenti berantakin rumah setiap malam ya Kak. Berhenti menulis ucapan selamat pagi buat ditempel di pintu kulkas. Tadi malam masih?”

Tenggorokanku seperti ditimbun tanah.

“Nanti malam langsung tidur ya Kak. Besok pagi aku telpon Kakak lagi, aku kabarin gimana pitching hari ini.”

Bara masih mengoceh sementara kenangan tentang dia bermain di kepalaku seperti film yang diputar.

See? Aku masih tak pandai melipat rapi kenangan tentangmu di bagian terdalam kepalaku ya, Jan?

“Kak?” Bara masih di sana.

“Ya?”

“I said I love you,” katanya.

Kelopak mataku berat.“I love you, too, Bara. Thanks for calling me this morning,”

“Pleasure. Janji nanti malam langsung tidur ya, Kak?” Sekali lagi Bara menuntut janjiku.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Bye. Break the legs, Bara.”

Sambungan putus.

Kamu benar, Jan. Rutinitas memang punya potensi luar biasa untuk menyiksa. Dan aku cuma tak tahu bagaimana caranya hidup tanpamu, sebab tak pernah sekalipun kurencanakan untuk kehilangan kamu…

Pukul enam pagi, satu tahun lalu. Tanpa rencana, dia pergi meninggalkanku.

Hidup ini memang seperti lebih suka bersepakat dengan kamu ya Jan. No matter how hard you try to organize every inch of your life, shit happens. Shit always happens…