Stadium Tiga

Keterlambatan saya pulang ke rumah tadi malam disambut kabar tidak baik. Bapak kos saya – yang sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri – membukakan pintu dan menekan tombol lampu di depan kamar saya setelah meminta maaf atas kealpaannya menyalakan penerang tadi sore. Beliau lalu bertanya,”Masih ingat kakak saya yang saya ceritakan kemarin?”

Saya mengangguk, sambil memutar ulang cerita Bapak dalam kepala tentang kakak perempuannya yang mengeluhkan benjolan dan sakit di bagian dada. Lama menolak memeriksakan diri, hari ini rupanya beliau memutuskan untuk berkunjung ke dokter.

Bapak mengacungkan tiga jarinya.

Maksudnya, stadium tiga.

Saya mengaduh.

Ah. Saya memang tak pernah pandai menghadapi kabar buruk macam apapun. Selalu lebih mudah mendapati kabar bahagia ketimbang menghibur yang berduka. Saya cuma… tak pernah menemukan rumus bersikap yang paling tepat.

“Saya sih tak berharap banyak,” kata Bapak lagi. “Yang penting dijalani saja.” Sebelum berbalik badan, beliau melanjutkan, “Nanti semakin kamu tua, kamu akan menyadari bahwa ada hal-hal di dunia ini yang, meskipun sangat menyakitkan, harus diterima dengan pasrah dan ikhlas.”

Bapak kemudian mengunci pintu.