27A

window seat“Maaf.”

Perempuan itu menoleh.

“Boleh tukar seat?” tanya saya.

Dia tertawa, lalu tanpa berkata apa-apa, bangkit dan berpindah duduk dari sisi jendela ke kursi di pinggir koridor.

“Terima kasih.”

Dia mengangguk, tersenyum. “Getting a good seat on a flight is awesome, but getting one with no one sitting next to you is even better.”

“Flight attendants, please prepare for take-off position…”

Dia benar. Kursi tengah yang tak terisi di antara kami, membuat saya lebih leluasa untuk meluruskan kaki.

Ah. I love air traveling. For many reasons.

Karena peluang mengalami airplane crash cuma satu dibanding 10,64 juta orang. Karena resiko mati akibat kecelakaan pesawat dalam setahun hanya satu dalam 125 juta passenger journeys, which make it way safer than car. Karena undangan wine tastings dan private dinners dengan some of the world’s finest chefs sebagai privilages buat para platinum members dari frequent-flyers program maskapai tertentu. Karena standar keselamatannya jelas: 90 detik untuk mencapai exit row setara dengan berlari melewati lima baris kursi.

Di atas semua itu, ada satu alasan paling juara untuk mencintai terbang: karena dialah tempat teraman untuk menikmati sendirian. A metal tube at 30,000 feet, flying through the air at speeds in excess of 500 miles per hour. What’s better?

“Can I get a window seat? Don’t want nobody next to me…”  Perempuan di aisle seat itu tiba-tiba bernyanyi, membuat saya, tentu saja, agak terkejut. “I just wanna ticket outta town. A look around and a safe touch down. I just wanna chance to fly. A chance to cry and a long bye-bye…”

Saya menatapnya dan dia membalas saya sambil tertawa. “Window Seat, Erykah Badu,” katanya dengan senyum lebar. Meski tidak bertanya atau ingin tahu, tapi bagaimanapun juga saya merasa berkewajiban untuk memberinya senyuman kecil sekedar sebagai kode patuh etika dan tanda sopan.

“Dear Passengers, the Captain has turned off the Fasten Seat Belt sign. You may now move around the cabin…

“Kenapa memilih duduk di pinggir jendela?”

Karena merasa pertanyaan itu tak mungkin ditujukan kepada selain saya, dengan berat hati saya mengangkat kepala dari inflight magazine yang sejak tadi saya baca.

… However we always recommend to keep your seat belt fastened while you’re seated. Thank you.

“What makes you a window flier?” tanyanya lagi.

Saya memandang perempuan itu. Di ujung kursi, dia pun melakukan hal yang sama pada saya. Menunggu jawaban saya.

Sekali menanggapi pertanyaannya, saya tahu saya akan tersungkur pada percakapan yang nggak tahu di mana ujungnya. Dan yang paling menyebalkan, belum tentu tidak membosankan.

Sial. Ini seperti disuruh menghadapi gang buntu atau macetnya jalanan Jakarta, tapi jauh lebih buruk lagi karena saya bahkan nggak punya ruang untuk diam atau kembali ke titik semula.

“Saya nggak tahu,” jawab saya seadanya. “Mungkin karena jendela membuat saya punya space lebih untuk menyandarkan kepala?”

Dia tertawa. “Most people love it because they can see the world through that magical 8×14 inch portal.” Dia menunjuk jendela di samping saya.

Saya mengedikkan bahu. “Buat saya itu bukan yang paling penting.”

Dia tertawa lagi mendengar jawaban saya. Membuka bungkus headphone di kantong kursi di depannya, memasangnya di kepala, dia memainkan layar sentuh di hadapannya lalu menyandarkan kepala. Memejamkan mata.

Buat saya, itu berarti tanda selesai dan beristirahat karena memang seringnya begitulah yang saya lakukan untuk memberi isyarat jangan mengganggu. Harus diakui, ini membangkitkan rasa lega karena saya tak perlu lagi memaksakan diri terpilin obrolan.

“Ada rekomendasi nggak?” Sayangnya, dia rupanya masih tertarik membuat percakapan. “Gue lagi dengerin musik,” kata perempuan itu sambil menunjuk layar sentuh yang terpasang di punggung kursi di hadapannya.

Saya menghela napas. Hidup memang berlaku nggak adil pada manusia. It  gives more priviliges to the animal kingdom. Ketika kita menjadi bagian dari binatang dan menghabiskan mayoritas waktu tanpa kehadiran yang lainnya, there won’t be any judgement about going againts social rules.

“Nggak tahu,” jawab saya jujur. “Saya jarang dengerin musik di situ.”

Dia terkekeh. “Ini emang nggak ada yang asik sih. Ntar deh kalo ketemu Om Emir, gue kasih masukan biar ada perombakan inflight entertainment di sini.”

Saya, dengan setengah terkejut, tertawa. Pernah ‘terdampar’ berdua dengan atasan di lift yang sama dan kita terpaksa tertawa saat mendengarkan jokes-nya sambil berdoa keras agar pintu segera berdenting terbuka? Tawa saya yang ini rasanya berbeda.

“However, tahu nggak kenapa buat gue tetep nyenengin dengerin musik dari inflight playlist?” tanya dia.

Seperti idiot, saya menggelengkan kepala.

“Karena semua musiknya bukan musik pilihan gue, nggak datang dari selera gue, sehingga nggak akan mengantarkan gue pada kenangan tentang apapun.”

“Dan siapapun?”

“Exactly!” Dia kembali tertawa.

Tanpa saya sadari, saya juga ikut tertawa.

“I am one of those people who doesn’t love air traveling. For me, this is boring,” katanya. “I kill time by chit-chatting and listening music, because music really makes it seem like less time has passed, which also explains why other places that involve waiting use this similar music trick.” Dia tersenyum. “Oh and I keep talking to you. Sorry.” Perempuan itu meringis.

Saya tersulut tawa untuk kali kedua “That’s ok. Keep on chit-chatting.”

Dia tersenyum lebar, sementara saya sendiri cukup heran kenapa kalimat tadi nggak membuat silent traveler seperti saya ingin menggigit lidah. Seperti ketika menghadapi keluhan panjang dari penumpang di ruang tunggu mengenai penerbangannya yang ditunda, tapi kita terpaksa pasang raut antusias karena tidak punya cukup hati untuk pindah kursi.

“When your brain is steadily distracted, you’ll be less likely to notice things around you in detail, termasuk juga soal waktu.” Dia menambahkan, memberi senyum kecilnya pada saya.

Saya bersiul. “Apa ini? Semacam kuliah neurosaintis di udara?”

“Wrong seatmate, right?”

Detik ini, saya memutuskan untuk berhenti menghitung berapa kali saya tertawa.

“Kenapa kamu pilih window seat?” tanya saya setelah tawa kami reda.

“Supaya lo punya alasan untuk ngajak gue ngobrol kan?” Dia tersenyum menatap saya, lalu tertawa keras-keras ketika melihat tampang saya. “Harusnya sih gue suka first class ya. Dengan kursi yang lebih keren dari your rich  grandma’s Mercedes, first Class is the only way flying. Well, after fancy jet.”

Saya tertawa.

“Katanya, window choosers are more likely to be younger, female, single, shorter, and more casual than their aisle compatriots. Gue sih cuma mengukuhkan riset itu.” Dia menambahkan, sambil memasang senyum yang saya tahu jelas dimaksudkan untuk menyindir saya.

Saya tertawa lagi. “Saya cuma nggak suka ada flight attendants lalu-lalang di dekat saya. Berisik,”

“I know. And you are not single,” tukasnya, terkekeh.

“Tahu darimana?”

“Lo lupa kalau lagi bawa bunga?”

Saya memandang buket yang ada di pangkuan saya, lalu kembali tertawa.

“Oh my God. Lo bener-bener bakal ngasih bunga itu buat cewe lo? Bunga mawar? Warna putih?”

Saya menatapnya heran. “Memangnya kenapa?”

Dia terbahak. “Listen. Mawar is out of date. I wouldn’t be so impressed kalau ada cowo yang ngasih gue mawar. Merah, putih, pink, biru, whatever. Efek romantisnya udah abis di awal tahun 90an.”

“Jadi?”

“Bring anything deh, kecuali mawar. Kalo gue sih lebih suka dibawain rokok satu pak sama vodka daripada bunga,” katanya, terbahak. “Orchids are very sexy. But like so many sexy things, they can be somewhat high-maintenance.”

“Dan lo mau ngasih surprise di malam tahun baru begini?” lanjutnya.

Saya terkekeh.

“Lo harus tau prinsip-prinsip kebahagiaan perempuan. Eh gue serius,” tegasnya saat melihat saya mulai tertawa kencang. “Prinsip pertama adalah just because. Lo harus ngasih cewe lo bunga at random occasions ‘just because’. Let say, dua sampai empat kali dalam setahun. Ini bakal bikin lo kelihatan sweet but dangerous and unpredictable.”

“Menarik.” Saya menahan senyum.

“Prinsip kedua: third date. Bunga di kencan pertama mungkin bikin lo kelihatan agak old fashioned, sementara bunga di kencan pertama dan kedua bakal menciptakan unrealistic expectation bahwa lo adalah semacam superhuman “perfect guy”, Which I believe 100% you are not. So, no flowers before the third date.”

Saya tak bisa menahan tawa. “Well noted. Thank you. You are really helpful.”

“I am. Kalau dia sampai bersedia dilamar, you owe me a very very big breakfast.”

Saya tertawa lagi. “Deal.”

Perempuan ini, dengan rambut yang pendek praktis, celana jins biru muda, dan kaos putih The North Face Nepal, tertulari tawa saya.

“Jadi what’s your plan for this new year’s eve?”

“Gue?” Dia tertawa kecil. “Gue mau nonton A Lot Like Love yang nggak tau udah berapa kali gue tonton.”

Saya, untuk ke sekian kalinya entah berapa, tertawa, lalu menatapnya sambil tersenyum tipis. “Wish me luck.”

“Lo nggak perlu doa gue. Pasti berhasil.” Dia tersenyum. “Oh iya, to keep you stay sane, make sure jangan minum lebih dari tujuh shot. And for your girlfriend, kalau dia lagi diet, tell her Johnny Walker whiskey and vodka is the best. Only 55 calories each shot.”

Saya tertawa lagi.

Ladies & Gentlemen, now We’re approaching Surabaya where the local time is 08.00 PM. Please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position, your seat belt is securely fastened, and all carry-on luggage is stowed underneath the seat in front of you or in the overhead cabins. Please turn off all electronic devices until we are safely parked at the gate. Thank you.”

Tiba-tiba, saya berharap pesawat ini bisa berada lebih lama di udara.