Jawaban Memuakkan tentang Pernikahan

wedding ceremony Putri & HendraSore itu, melalui pengeras suara yang menempel di langit-langit bis karyawan tempat saya bekerja, lagu-lagu nostalgia diputarkan dari sebuah program radio tanpa jeda iklan. Sambil mengamati garis-garis tipis yang diciptakan gerimis di kaca penumpang,  saya memikirkan jawaban dari pertanyaan sejumlah kawan yang dilontarkan (secara serius) pada saya: “Bagaimana caranya tahu bahwa inilah saat yang paling tepat untuk menikah?”

Dengan kesabaran seorang pengunjung kelaparan yang menunggu semangkuk Indomie di warung tenda pinggir jalan, percayalah, saya setengah mati berusaha menyusun jawaban di derajat hati-hati paling cermat; tidak ingin memberikan penjelasan yang kedengarannya sok tahu, ‘manis’ berlebihan, dan melambungkan fantasi mengenai pernikahan – namun juga sekaligus tak mau membuatnya tampak sembarangan, seperti keputusan yang bisa diambil tanpa betul-betul dipikirkan.

Banyak yang terkejut dengan keputusan saya. Saya tidak tahu pastinya kenapa. Mungkin, image saya selama ini sudah terlalu jauh berandalan sehingga komitmen semacam pernikahan segera memantik tanya. Apakah keputusan hidup berdua dirasa menyimpang terlalu jauh dari keseharian saya yang terlihat nyaman dengan serba-sendiri saja? Saya agak yakin ini menjadi salah satu alasan kenapa pertanyaan di awal tulisan ini dilemparkan pada saya. Sialan. Dan sejak orang pertama – yang adalah sahabat saya – menyelipkan pertanyaan itu tiga bulan sebelum ijab kabul (sumpah setia), saya masih juga bertemu jawaban buntu. Dobel sialan!

Wedding ceremony Putri & HendraSebetulnya, tentang menikah, ada banyak jawaban yang bisa saya berikan. Saya bisa saja merinci kelebihan suami ‒ yang meski tak akan terasa sulit, namun tetap saja tak akan pernah sepenuhnya menjelaskan, karena… ya karena ada terlalu banyak! Membuat mereka benar-benar memahami maksud saya, itu juga tugas yang berbeda. Jadi, bagaimana mungkin merangkumnya menjadi satu kalimat saja, dan menghidangkannya pada kawan saya, tanpa menggunakan terlalu banyak tanda koma?

Lagipula, jawaban-jawaban macam itu biasanya hanya cukup untuk membuat si pasangan terpancing senyum, tapi jelas-jelas menjadikan pendengarnya tergulung muak dan kesal. Hahaha!

Lalu di satu titik saat sedang mencari jawaban cukup baik dalam perjalanan pulang sore itu, dari radio meluncur sebuah lagu yang tiba-tiba memutus lamunan saya. Lagu itu lagu asing yang saya tidak tahu siapa penyanyinya, juga liriknya lantaran bising jalanan langsung menggilas suaranya sebelum mereka mencapai telinga saya. Tapi, irama lagu itu bikin saya jatuh suka, dan saya memilih mendengarkannya sampai nada terakhir benar-benar hilang ditelan derum puluhan kendaraan.
Bahkan sampai radio memutarkan lagu berikutnya, dalam kepala saya masih terbayang lagu yang sama. Tanpa tahu apa judulnya.

Tujuh detik kemudian setelah sedikit termangu, saya tertawa.

Ternyata, mirip seperti itulah rasanya; Bertemu dengan seseorang yang awalnya tidak kita kenal, tapi kemudian membuat kita berkata dalam hati, “Ini sudah benar.”

Tiba-tiba saja, kita sudah jatuh suka dan menikmatinya tanpa menyadari di ‘nada’ mana dia membuat semuanya mulai terasa pas.🙂

Wedding ceremony Putri & HendraDua hari sebelum menikah, saya dan keluarga suami saya mengunjungi ayah di sebuah kota yang berjarak lima jam perjalanan dari Surabaya. Kota kelahiran suami saya, sekaligus tempat berpulangnya ayah persis enam bulan silam. Setibanya di muka makam ayah, dengan tangannya, mama membersihkan sisa-sisa rumput yang belum tersapu oleh penjaga makam dan mengusap sayang makam ayah. Setelah diguyur hujan, langit Lumajang siang itu masih terasa sendu. Tapi, saya tahu bukan itu yang membuat dada kami semua mendadak terasa sesak. Di tengah-tengah doa kami, dengan wajah yang kuyup oleh air mata dan pundak bergetar, mama mencium nisan ayah.

Astaga. Saat itu, saya seharusnya sudah tahu bahwa itulah jawaban paling kuat atas serbuan pertanyaan dari kawan-kawan saya – ketika kita tiba-tiba merasa YAKIN bisa bertahan bersama dia sampai ‘nada’ terakhir dilepas ke udara, dengan SEJUMLAH kelebihan dan SEGALA kekurangannya, saat itulah kita menemukan saat paling tepat untuk membuat satu-satunya keputusan yang seharusnya tak bakal patah oleh kuasa manusia. Saat kita merasa bersedia melewati semuanya berdua, sampai akhir cerita. Sampai ujung usia, seperti ayah dan mama.

Buat sahabat-sahabat saya, ini bukan pesan sebab sebuah pesan semestinya dibuat oleh mereka yang kenyang pengalaman. Tapi, ijinkan saya sekali ini saja menyampaikan: Ketika bertemu dengan sebuah ‘lagu’ asing yang tiba-tiba bisa terasa demikian tepatnya dan membuat kita mau mendengar nada terakhir terlantun dari pengeras suara, saat itulah tak kita temukan lagi keraguan dalam kosakata kita.

Nah, begitu saja lah jawaban saya. Semoga cukup memuakkan untuk membuat kita semua yakin (atau tidak yakin) atas keputusan yang akan diambil bersama dia yang ada di sebelah kita. Hehehe!

 

Jakarta, 8 Maret 2014, satu minggu setelah hari pernikahan.

Untuk suami saya, yang sedang bertugas di kota yang dua jam jauhnya dari Jakarta, yang memperkenalkan dan mengajari saya tentang kekuatan keyakinan, yang membuat saya akhirnya bisa menerima sejumlah kelebihan dan segala kekurangan seorang manusia: Saya tahu kamu bukan pelabuhan, tapi kawan untuk melanjutkan perjalanan. Apa yang telah mengikat kita ini, bukanlah perhentian. Tapi tanjakan baru yang pasti bisa ditaklukkan dengan bergandengan. Mungkin di satu titik ‘nada’ nanti, ada konflik yang bakal datang menempa. Doaku bukan memintanya tiada, namun menjadikannya penguat di antara kita. Let’s roam the road!

*) Photos by: Galerie