Thank You, Bridal Buddies!

wedding shoes“I don’t want it to be huge,” kata saya pada suami (ketika itu masih pacar), suatu sore saat kami iseng kabur akhir pekan ke kota Malang. Kami numpang duduk dan ngobrol di kursi taman warna putih di pekarangan sebuah hotel jadul yang saya lupa namanya. Di depan kami, pemandangan kota Malang yang cantik. “Aku tahu kamu bakal suka tempat ini.” Dia tiba-tiba datang dari belakang, berkata dengan keyakinan tingkat dewa yang menyebalkan seperti biasanya sambil membawa dua buah cangkir dan satu teko teh hangat sebagai tameng udara dingin. Kami, seperti yang sudah-sudah, akan menunggu sampai gelap turun lalu adu cepat mencari bintang pertama yang nongol di angkasa.

Selebihnya, saya tidak banyak mengingat apa yang kami bicarakan. Termasuk bagaimana awalnya muncul topik tentang pernikahan.

Yang jelas, sore itu saya sudah tekankan padanya, saya tidak ingin pesta pernikahan yang megah dan glamor. I want it to be close and personal, dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat dan bukannya para pejabat yang saya bahkan tak tahu cara melafalkan gelarnya.

Selain itu, saya juga sampaikan, saya ingin eksekusi acara kami berdua dikerjakan sepenuhnya oleh teman-teman atau relasi kami sendiri.

Bersyukurlah kami berdua, karena rupanya itu pun menjadi pernikahan impian suami saya sejak lama.

personalized candy for wedding souvenirSo be it! Acara kami akhirnya memang bisa sempurna terlaksana berkat bantuan dan sentuhan teman-teman kami sendiri. Karena itu, kami sekarang jadi agak kelimpungan untuk mengucapkan terima kasih. Masalahnya, tak ada takaran yang benar-benar pas untuk dapat dengan tepat mewakili rasa terima kasih kami. Sedikit ruang di sini, yang tentunya juga masih belum cukup memadai untuk membalas lunas seluruh kebaikan hati teman-teman kami, semoga dapat mengiringi arak-arakan doa dari saya dan dia agar semesta berkenan mengucurkan berkahnya kepada mereka tanpa henti.🙂

Terima kasih dari kami untuk:

Mbak Rizqiani Putri. Needless to say, she’s the best MC in town! Salah satu kakak kelas kesayangan dari SMA sampai kuliah. Saya nggak tahu bagaimana caranya biang heboh satu ini bisa ngemsi dengan gaya centil tapi nggak cheapy. Rame, tapi tetap elegan. Saya rasa, karakternya yang angelique memang banyak ambil peranan. Ikut ‘babat alas’ bersama saya dari awal persiapan, mengantarkan saya ke vendor-vendor dengan sabar, bahkan rela datang awal (banget!) untuk menemani sesi make-up resepsi sambil menenangkan mempelai perempuan yang bawel ini dan memberi banyak masukan sepanjang acara. Thanks God I have you!

Frederick Hisbullah. Saya sampai nggak ingat kapan tepatnya kenal Erick untuk pertama kalinya. Yang saya tahu, kami ini (duluuuu) bertetangga dan tumbuh besar bersama. Belajar sepeda, main roller blade, bahkan masuk TK dan SD bersama. Desainer undangan paling jempolan, dan paling suabaaar meski saya banyak banget maunya dan ratusan kali minta revisi. Rela begadang bareng (dan sendirian) ngerjain desain sampai pagi. Terima kasih ya!

Gita Galantari, Rahmi Azzahra, Kurniasari Dwi Wati, dan Intan Fitranisa. Sahabat-sahabat saya yang hobi nanyain dan ngingetin saya soal persiapan. ‘Checklist’ dadakan mereka ini sangat berguna, mengingat kedua mempelainya sungguh slebor dan santai keterlaluan. Hahaha! :*

Titis Sekar. One of my besties sekaligus owner Piknik Pasta. Untuk acara akad saya, dia rela memberi harga paling ‘melacur’. Dengan potongan harga yang terjun bebas, rasa beef lasagna-nya tetap berkualitas! Semua pastanya dijamin paling enak, paling murah, se-Surabaya dan sejagat Instagram. Memutuskan nggak datang ke acara ijab kabul saya karena tampangnya masih bau dapur saat mengantar pesanan. Bagi penggemar berat pasta yang selalu memilih potongan dengan keju dan daging paling ‘meriah’, Piknik Pasta wajib dicoba!

My lovely sister-in-law, Khoirun Nisa yang rela menemani saya ngubek-ngubek pasar Mayestik buat nyari kain seragam dan muterin Grand Indonesia buat berburu barang-barang seserahan. A lovely mommy-to be!

Mas Barel dan Mbak Dita. Kawan-kawan seperjuangan saat saya dan suami masih bekerja di DetEksi Jawa Pos. Rasanya, istilah ‘harga pertemanan’ masih terlalu keji untuk menggambarkan bantuan dari fotografer berdua ini. Tanpa menyewa jasa video untuk acara akad dan resepsi, foto-foto mereka sudah cukup menggambarkan hari bahagia kami. Harga bersaudara, kualitas tetap bintang lima! #pinjamtagline
Hasil jepretan mereka yang keren gaul dan oke punya bisa dilihat di sini.

Mami Lora. Make-up artis langganan Mbak Rizqiani Putri sejak masih jaman SMP. Sampai sekarang, umur mami saya ini masih jadi misteri. Sialnya, meski selalu ngaku-ngaku masih belia, daya serang saya selalu lemah karena memang demikianlah penampakannya. Mengaku nggak jago mainan menor, Mami Lora selalu pakai warna-warna kalem yang saya juga nggak tahu bagaimana caranya bisa kelihatan pas dengan warna kulit dan bentuk wajah kliennya. She will absolutely be my make-up artist andalan. Gile, baru kali ini ngerasa cantik setelah pakai make up. Hahaha.

Tante Yetty. Tante dari temannya Kurniasari Dwi Wati ini adalah penjahit kebaya akad dan dress resepsi saya. Kalau mau bikin kebaya modern yang lucu-lucu, Tante Yetty ini jagonya. Meski pusing menghadapi calon pengantin macam saya yang ingin serba simpel dan anti bling-bling ini, Tante Yetty berhasil menangkap mau saya. Percaya atau enggak, untuk urusan kebaya dan dress ini, saya amat minim kontrol. Cuma sempat berkomunikasi beberapa kali via BBM dan hasilnya tetap superb!

Seluruh keluarga kami. Terima kasih untuk selalu mempercayai kami dan betul-betul memberikan dukungan penuhnya pada pasangan nyeleneh ini.🙂

Last but not the least, untuk Dnillcoustic band yang kelimpungan latihan karena song list kami agak terlalu panjang, Alief Production yang membantu mencetak desain segala rupa, juga semua teman dan relasi yang telah membantu kami mewujudkan semua ini sekaligus  ‒ yang paling penting ‒ mengirimkan doa tulusnya kepada kami: terima kasih.

Alam semesta yang senantiasa merekam segala ini tidaklah buta. Mungkin tidak sekarang ini, tapi suatu hari nanti kebaikan yang disemai pasti akan dituai kembali.

 

Jakarta, 9 Maret 2014

Untuk kakak kandung kedua saya Mita Permanasari yang tengah merayakan ulang tahunnya. Bagaimana rasanya melihat angka tiga di kepala usia kita?

 

Our Wedding in Numbers

420 guests out of 400 expected guests in wedding reception + 60 guest in wedding ceremony
3 days of annual leaving
410 minutes of return flight and 2,395 minutes of return trip by train during wedding preparation, exclude Jakarta-Singapore return flight for our DIY one-day prewedding photoshoot
84 receipts
58 pretty buttons for my akad kebaya and wedding dress
208.25 meters of fabric
450 customized tea bag and 75 boxes of beef lasagna by Piknik Pasta (special price!) for our wedding ceremony souvenirs
18 kg of personalized candy for wedding reception souvenirs
4 beautiful bridesmaid
20 songs played in wedding reception
Hundreds of help
Thousands of wedding wishing and still counting
Million of thanks for all of you who have helped us to make this possible!🙂