Foto Pranikah Hemat di Singapura Berkat AirAsia

Saya nyaris tersedak saat pesan singkat dari calon suami nongol di ponsel saya siang itu.

Kita prewedding di Singapura yuk..πŸ˜€

Saya diam, memandangi nasi dan lauk-pauk yang masih setengah tersantap di atas piring. Sebetulnya cuma ada sayur segambreng yang bulan-bulan belakangan ini selalu saya minta ekstra porsinya dari warteg sebelah kantor demi kenyang lebih lama.. supaya sore-sore tak perlu ‘patroli’ ke warung pinggir jalan dan keluar duit untuk jajan cemilan. Hemat..πŸ™‚

Lalu tempe, yang sifatnya variasi saja dari lauk andalan lainnya. Apalagi kalau bukan tahu. Dua-duanya, tentu saja, paling bisa diunggulkan untuk memuluskan itikad hemat.

Tidak ada daging sapi, ayam, apalagi seafood. Ah, saya belum sebutkan sambal tadi ya? Ini pun sekarang langganan betul hadir di piring saya sebagai pembangkit selera. Maklum, selama ini lidah saya termakan iklan empat sehat lima sempurna. Giliran belakangan tidak rutin disuplai daging, eh dia ngambek dan ogah-ogahan makan. Jadilah kini dirayu sedikit biar tak kelewat manja, selain dipancing dengan si cabe pedas, rajin-rajin pula saya tambahkan kerupuk yang kerapkali memang cukup menolong untuk menambal rasa. Tapi tetap hemat. :p

Sambil menimbang harus membalas calon suami dengan jawaban apa, pikiran saya tertumbuk pada sebundel undangan yang saya bawa dalam tas tadi pagi. Acara pernikahan kami tak lama lagi. Ada rasa bahagia di dada yang ingin pecah ke udara, namun tak urung senyum kecut ini teriring juga. Dari awal, komitmen kami adalah seluruh biaya ditanggung berdua, tanpa membebani orang tua. Maka kuat-kuat berhemat adalah pilihan yang dirasa paling bersahabat.

“Nggak apa-apa kita foto prewedding aja,” katanya tempo hari, tersenyum membesarkan hati dan menatap saya dengan pandangan yang tak berani saya artikan.

“Nggak usah. Kan nggak penting-penting amat. Yang penting bisa bayar catering, dan tamu kita nyaman nggak kekurangan makanan,” jawab saya serak, berlekas mengalihkan tatapan pada daftar panjang kebutuhan acara beserta kalkulasi harganya. Di antara kami berdua tak ada lagi yang angkat bicara, namun sudah sama-sama tahu apa yang ada di dalam kepala. Air mata ini saya bebat rapat-rapat agar tak mencuri selinap barang sesaat.

Siang itu, dia malah menawarkan Singapura.

Saya menelan ludah. Dari kecil, mimpi jalan-jalan ke negeri yang berbeda memang selalu ada. Bertemu orang dengan segala rupa, bertukar sapa dalam berbagai bahasa. Menjumpai setiap hari dengan perasaan istimewa sebab semua hal menjadi serba pertama kalinya. Namun, daridulu biaya sekolah terasa lebih penting dan meninggalkan keluarga entah bagaimana selalu tampak berat. Dari situlah, saya belajar untuk melipat asa. Sekarang, ada lagi keperluan di depan mata yang jauuuh lebih berharga.. Dan Singapura, yang hanya berjarak satu jam lewat udara dari Jakarta ini, mendadak terasa jauuuh bagi harapan kami berdua yang mulai terbiasa belajar ‘menjejak bumi’.

Nggak perlu, kita utamakan bayar yang lainnya saja ya, tulis saya menjawab tawarannya tadi dengan perasaan berat. Saya tahu betapa dia ingin saya bahagia di tengah komitmen yang telah kita berdua buat, namun melibas keinginan adalah pilihan termudah yang bisa diterima akal kami saat itu.

Beberapa jenak kemudian pesan saya terbalas. “Kamu tenang saja. Aku barusan dapat tiket hemat AirAsia, cuma 400 ribu PP (pulang-pergi) berdua ke Singapura!”

Lalu melalui perbincangan di telepon, dia dengan suara antusiasnya menjelaskan lebih detil rencananya. Beruntung, profesinya sebagai fotografer mempermudah jalan kami. Konsep hingga eksekusi pemotretan kami atur sendiri, sehingga uang dapat disimpan untuk keperluan lainnya. Sabtu, seminggu sebelum hari bahagia, saya hampir tak percaya kami sungguh-sungguh terbang PP ke Singapura berdua untuk melakukan pemotretan prapernikahan. Hari itu, untuk pertama kalinya, saya akhirnya terbang ke negeri yang berbeda!

Mimpi saya untuk menginjakkan kaki di luar Indonesia, tak pernah saya sangka akan terwujud begitu cepat. Dalam momen yang sungguh indah pula, yang bahkan mungkin tak pernah berani saya bayangkan! Begitu mendarat di bandara Changi, dia merangkul pundak saya dan berbisik, “Selamat datang di Singapura.”

Mengejutkan ya bagaimana tatapan mata dan nada dalam suara seseorang saja sudah cukup memberitahu kita isi hatinya..πŸ™‚

‘Petualangan’ singkat di Negeri Singa terasa begitu dimudahkan, terutama buat kami berdua yang anti ribet dan sedang irit duit ini..πŸ˜€ Saya kira semua yang serba hemat ujung-ujungnya akan merepotkan, tapi ini rupanya tidak berlaku di AirAsia. Sejak proses booking tiket hingga tiba di tujuan, semuanya serba simpel dan cepat. Duh, senangnya bisa dapat tiket hemat dengan kualitas pelayanan hebat!

Dengan kostum sesimpel mungkin, kami berhasil menangkap momen di sejumlah titik cantik di Singapura. Setelah ‘menculik’ Singapora Flyer ke dalam foto kami melalui Garden by the Bay, kami mengabadikan National Museum of Singapore, menjepret warna-warni lorong Haji Lane, ‘transit’ makan siang di Kampong Glam, lalu mengejar senja di Marina Bay Sand.

Meski ke mana-mana harus menggendong tas berat berisi kamera dan menggotong tripod, rasanya tetap gembira! Hasil jepretan kami tak hanya memuaskan, namun juga menuai banyak pujian. Lega karena hemat bukan berarti tak bisa menghasilkan kualitas hebat!πŸ™‚

Di kursi AirAsia malam itu, dalam penerbangan kami kembali ke Jakarta, saya menyentuh tangan calon suami saya dan berbisik, “Terima kasih.”

Bukan untuk kebaikan hatinya membawa saya menginjakkan kaki ke negara yang berbeda. Namun karena, dengan caranya, dia dan AirAsia telah mengajarkan saya untuk tak pernah takut bermimpi dan selalu percaya bahwa tak ada yang tak bisa menjadi nyata…

Dia tersenyum dan mengangguk, lalu kembali memejamkan mata dan merebahkan kepala ke sandaran kursi dengan nyaman.

Terkadang, kita memang tak butuh banyak kata untuk bisa mengartikan dunia..πŸ™‚

P.S.: Terima kasih AirAsia untuk mewujudkan mimpi kami berdua, menjadi bagian dari awal hari-hari bahagia kami selamanya!πŸ˜‰

IMG_1361.JPG